"Karenanya dibutuhkan adalah perspektif filosofis
yang fundamental, yakni cara pandang yang mampu meneropong semua persoalan
sampai ke dasar, tentang hidup, tujuan nilai, dan arah yang mesti kita
tuju," ujarnya dalam akaun TikTok Ustaz Ismail Yusanto berjudul Refleksi
Akhir Tahun, Selasa (31/12/2025).
UIY menambahkan bahwa kerusakan hari ini dalam
politik, sosial, budaya, bahkan kemanusian tidak akan mungkin tiba-tiba berubah
menjadi baik hanya karena mengganti tahun.
"Kita harus mengakui bahwa sangat banyak energi
habis untuk hal-hal yang reaktif, teknis, dan tambal sulam. Kita sibuk
mengakali sistem, padahal sistemnya sendiri sudah rusak,” tegasnya.
“Faktanya, kita semua melihat berapa kali pun tahun
berganti, selama umat tak menggunakan perspektif ini, keterpurukan tak akan
berhenti bahkan cenderung semakin buruk," tambahnya.
Ustaz Ismail menjelaskan, perubahan dari kondisi rusak
menuju keberkahan harus dimulai dengan cara berpikir fundamental tadi.
"Karenanya, dari kemampuan akal untuk melihat
fakta apa adanya lalu menemukan solusi yang benar, bukan solusi yang seakan
benar alias solusi semu," jelasnya.
Ia menuturkan, dari situlah takwa menjadi sangat
penting. “Karena takwa menjadi basis dari semuanya. Rasulullah saw. pernah
mengingatkan sahabat Abu Dzar Al-Ghifari tentang jabatan dan amanah,” tuturnya.
"Ketika Abu Dzar meminta jabatan, Nabi mengatakan
kepada Abu Dzar, 'Engkau ini lemah, padahal jabatan itu amanah. Amanah atau
jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan di hari kiamat," sebutnya.
Ia menerangkan, melalui hadis itu, Rasulullah saw.
sedang menghubungkan apa yang terjadi di dunia dengan konsekuensi di akhirat.
"Dan koneksi inilah yang ini hari hilang dari
umat, dari pemimpin-pemimpin yang ada dinegeri ini dan juga dunia lain,"
terangnya.
Tuturnya lagi, maka jika menginginkan kebaikan dan
keberkahan itu semua harus selaras dengan apa yang di kehendaki oleh Allah Swt.,
sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-A'raf ayat 96.
"Sekiranya penduduk satu negeri itu beriman
dan bertakwa, niscaya Kami limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan
bumi," nukil UIY.
Ia menyimpulkan, maka seharusnya perspektif
fundamental inilah harus dijadikan sebagai bekal untuk melangkah ke depan.
"Akhir tahun ini bukan sekadar momentum evaluasi.
Ia adalah ulangan untuk mengalihkan energi dari yang remeh kepada yang
substansial, dari yang teknis kepada yang fundamental, dan dari yang dangkal
menuju yang dalam yakni yang hakiki," simpulnya.[] Hidayah Muhammad
