TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Utang, Ujian Kejujuran dan Keimanan
Dalam realitas kehidupan, utang sering kali menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia. Ada yang berutang karena kebutuhan mendesak, ada pula yang terjerat karena gaya hidup, ambisi atau kelalaian. Namun, dalam Islam, utang bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan urusan akhlak, amanah, dan tanggung jawab spiritual.
Rasulullah Saw., mengingatkan umatnya agar sangat berhati-hati dengan utang. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ruh seorang mukmin bisa tertahan karena utangnya hingga diselesaikan. Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara utang dalam pandangan syariat.
Konsep Utang Piutang dalam Islam
Islam tidak mengharamkan utang. Bahkan, utang piutang adalah bentuk tolong-menolong yang sangat dianjurkan jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.
Allah Swt., berfirman:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (qardhan hasanan), maka Allah akan melipatgandakannya…”
(QS. Al-Baqarah: 245).
Namun, Islam menempatkan utang dalam bingkai etika yang ketat agar tidak menjadi sumber kezaliman dan kehancuran hidup.
Prinsip Dasar Utang dalam Islam
1. Utang adalah amanah, bukan hak untuk diremehkan.
2. Niat melunasi adalah syarat utama keberkahan utang.
3. Transparansi dan kejelasan akad wajib dijaga.
4. Tidak boleh menunda pembayaran bagi yang mampu.
5. Diharamkan mengambil manfaat riba dari utang.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Barang siapa berutang dengan niat ingin melunasinya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasinya.” (HR. Bukhari).
Bahaya Utang yang Tidak Terkelola dengan Baik
Utang yang tidak dikelola dengan iman dan disiplin dapat menimbulkan banyak mudarat:
Menggelisahkan hati dan pikiran
Menghilangkan kekhusyukan ibadah
Menjadi sumber konflik keluarga
Mengundang kebohongan dan pengkhianatan
Menutup pintu keberkahan rezeki
Rasulullah Saw., bahkan sering berdoa agar dilindungi dari lilitan utang karena utang sering menyeret seseorang pada kebohongan dan ingkar janji.
Langkah-Langkah Melunasi Utang dengan Cepat dan Berkah
1. Luruskan Niat dan Taubat kepada Allah
Langkah pertama bukan di dompet, tetapi di hati. Akui bahwa utang adalah tanggung jawab besar. Bertaubatlah jika selama ini lalai, menunda, atau meremehkan.
Niatkan pelunasan sebagai ibadah dan jalan membersihkan diri, bukan sekadar kewajiban sosial.
2. Jujur dan Terbuka kepada Pemberi Utang
Kejujuran membuka pintu pertolongan Allah. Jika belum mampu membayar, sampaikan dengan adab dan kesungguhan. Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran dan komunikasi yang baik.
Allah Swt., berfirman:
“Jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, berilah tangguh sampai dia lapang.”
(QS. Al-Baqarah: 280).
3. Susun Prioritas Hidup dan Perbaiki Gaya Hidup
Pelunasan utang menuntut pengorbanan kenyamanan. Kurangi pengeluaran yang tidak penting. Tunda gaya hidup, bukan kewajiban.
Ingat, kehormatan orang beriman terletak pada amanahnya, bukan pada kemewahan semu.
4. Perbanyak Ikhtiar dan Buka Pintu Rezeki Halal
Utang tidak akan lunas tanpa usaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan kerja nyata:
Cari tambahan penghasilan halal
Perluas silaturahmi
Tingkatkan kualitas kerja
Jangan gengsi melakukan pekerjaan halal apa pun
Rasulullah Saw., bersabda:
“Sungguh, sebaik-baik makanan adalah hasil kerja tangannya sendiri.”
5. Hidupkan Amalan Pembuka Rezeki
Pelunasan utang bukan hanya soal angka, tetapi turunnya pertolongan Allah. Amalan berikut sangat dianjurkan:
Istighfar yang konsisten
Shalat malam (tahajud)
Sedekah meski sedikit
Membantu orang lain
Birrul walidain (berbakti kepada orang tua)
Allah Swt., berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3).
6. Doa Khusus Pelunasan Utang
Rasulullah Saw., mengajarkan doa yang sangat dahsyat:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal dari-Mu sehingga aku terhindar dari yang haram, dan kayakan aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.”
Bacalah dengan penuh keyakinan, bukan sekadar lisan.
Hikmah Spiritual di Balik Pelunasan Utang
Banyak orang merasakan bahwa setelah utangnya lunas:
Hatinya lebih tenang
Ibadahnya lebih khusyuk
Rezekinya terasa lebih berkah
Hidupnya lebih ringan dan lapang
Karena sejatinya, utang bukan hanya beban ekonomi, tetapi beban ruhani.
Penutup: Utang sebagai Jalan Pendewasaan Iman
Utang bisa menjadi jalan kehancuran, tetapi juga bisa menjadi jalan penyucian jiwa, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Islam mengajarkan agar utang dikelola dengan iman, diselesaikan dengan amanah, dan dilunasi dengan penuh tawakal.
Semoga Allah Swt., membebaskan kita dari lilitan utang yang memberatkan, mengganti dengan rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.
Doa Penutup
“Ya Allah, lapangkanlah dada kami, bersihkan harta kami, lunaskanlah utang-utang kami, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang amanah dan bertakwa.”
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo