Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Untaian Peristiwa di Bulan Rajab dan Strategi Kebangkitan Umat

Senin, 19 Januari 2026 | 22:35 WIB Last Updated 2026-01-19T15:35:17Z

TintaSiyasi.id - Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa peristiwa militer dan peperangan penting yang terjadi pada bulan Rajab. Di antaranya adalah:

Pertama, Perang Tabuk (9 Hijriah):
Ini adalah perang besar terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Pasukan Muslim yang berjumlah 30.000 orang menempuh perjalanan jauh ke wilayah utara untuk menghadapi ancaman Kekaisaran Bizantium (Romawi). Perang ini dimenangkan oleh umat Islam tanpa pertumpahan darah karena pasukan musuh menarik diri.

Kedua, Perang Yarmuk (15 Hijriah/636 M):
Terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Pasukan Muslim di bawah komando Khalid bin Walid berhasil meraih kemenangan menentukan melawan tentara Kekaisaran Romawi Timur, yang menjadi kunci pembuka penaklukan wilayah Syam (Suriah).

Ketiga, Pembebasan Baitul Maqdis (583 Hijriah/1187 M): Pada tanggal 27 Rajab, Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dari tentara Salib. Peristiwa ini merupakan salah satu kemenangan paling monumental dalam sejarah Islam.
Keempat, Ekspedisi Abdullah bin Jahsy (2 Hijriah):
Merupakan pertempuran kecil antara utusan Rasulullah SAW dengan kelompok dagang Quraisy di Nakhlah. Peristiwa ini penting karena menjadi titik awal penegasan keamanan umat Islam di Madinah, meskipun terjadi perdebatan karena insiden tersebut terjadi di bulan haram.

Rajab, Isra dan Mikraj

Isra Mikraj adalah perjalanan spiritual agung Nabi Muhammad SAW yang terjadi dalam satu malam sebagai bentuk penghiburan dan tanda kekuasaan Allah SWT. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun ke-10 atau ke-11 kenabian (620–621 M) dan diperingati setiap tanggal 27 Rajab.

Saat Rasulullah SAW menyampaikan peristiwa Isra Mikraj kepada penduduk Makkah, kaum kafir Quraisy menganggapnya sebagai kebohongan besar karena, secara logika waktu itu, perjalanan Makkah–Palestina pulang-pergi membutuhkan waktu satu bulan.

Mereka mendatangi Abu Bakar dan bertanya, “Apakah kamu percaya temanmu itu semalam pergi ke Baitul Maqdis lalu kembali lagi ke sini?” Abu Bakar menjawab dengan tegas, “Jika ia (Nabi Muhammad) berkata demikian, maka itu benar.
Demi Allah, sungguh aku mempercayainya dalam hal yang lebih jauh dari itu, yaitu berita dari langit (wahyu) yang datang di pagi atau sore hari.”

Dari Abu Bakar, kita bisa mengambil sebuah pesan bahwa keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah buah dari manisnya ketakwaan serta keyakinan akan janji Allah. Allah tidak pernah salah dan tidak pernah berbohong dalam setiap janji-Nya, termasuk kemenangan yang akan diraih oleh kaum Muslim selama mereka berpegang teguh pada agama Allah. Hal ini telah dibuktikan oleh Rasulullah dan para sahabat dalam melawan kaum kafir.

Perlawanan yang secara zahir tidak berimbang dalam hal jumlah, peralatan perang, dan kemampuan ini sejatinya mampu dibuktikan oleh kaum Muslim bahwa persiapan duniawi yang lemah dapat mengalahkan kekuatan besar ketika dipadukan dengan iman dalam memperjuangkan agama Allah.

Peralatan perang yang tidak memadai dan jumlah pasukan yang sedikit tidak menggentarkan Rasulullah dan para sahabat dalam melawan musuh-musuh Allah. Allah tetap memberikan kemenangan karena kekuatan ketakwaan dan keimanan Rasulullah dan para sahabat terhadap janji Allah.

Rajab dan Perubahan

Sejarah telah membuktikan bahwa kaum Muslimin akan memimpin dunia jika mereka mau melakukan perubahan yang bersifat menyeluruh, bukan sekadar kosmetik. Perubahan ini akan mampu menghancurkan hegemoni Barat yang saat ini berhasil menguasai dunia Islam. Bangkitnya sebuah bangsa dimulai dengan bangkitnya sebuah pemikiran yang akan membentuk pola sikap dan pola pikir yang benar dan tepat.

Maka dari itu, kaum Muslim harus memahami visi dan misi kehidupan dengan bekal keimanan dan ketakwaan yang sempurna kepada Allah SWT. Mereka harus membekali diri dengan tsaqafah Islam yang mampu melawan derasnya arus pemikiran asing di tengah kaum Muslimin.

Umat Islam harus berani meninggalkan segala jeratan yang membuat mereka terjebak dalam arus kapitalisme yang telah nyata terbukti rusak dan merusak, dengan mewujudkan pemahaman yang benar terhadap Islam itu sendiri. Setelah pemahaman yang benar itu dipegang, maka menjadi kewajiban bagi setiap individu untuk mendakwahkannya kepada seluruh manusia.
Mewujudkan kepemimpinan politik pemersatu umat yang akan memberikan keadilan universal, baik bagi Muslim maupun non-Muslim.

Memiliki ilmu dan teknologi yang berkembang berdasarkan syariat dan akhlak, sehingga tidak mudah dibohongi ataupun dikuasai oleh negara-negara kafir dalam segala bidang. Menerapkan sistem ekonomi yang bebas riba dan eksploitasi berdasarkan syariat Islam. Semua hal ini akan terwujud di bawah satu kepemimpinan yang akan menjadikan umat Islam sebagai umat pemimpin, bukan umat terjajah.


Oleh: Putri Rahmi, D.E.
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update