Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Memahami Politik AS, di Balik Penangkapan Presiden Venezuela

Senin, 19 Januari 2026 | 22:41 WIB Last Updated 2026-01-19T15:41:13Z

TintaSiyasi.id -- Tahun 2026 kita dikejutkan oleh berita penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh Amerika Serikat. Narasi yang dibangun atas penangkapan Maduro dikaitkan dengan pemberantasan jaringan gembong narkoba besar yang diklaim dikendalikan oleh Presiden Venezuela. 

Dalam sejarahnya, sentimen AS terhadap Venezuela memang sering mengalami tensi tinggi, terutama terkait minyak dan ideologi yang berseberangan dengan Amerika. Begitu pula dengan rival terbesar Amerika, yakni China, yang secara terang-terangan mendukung pemerintahan Maduro.

Minyak dan Ancaman China

Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) mencatat total cadangan minyak terbukti dunia mencapai 1.566,86 miliar barel pada tahun 2024. Cadangan minyak Venezuela hampir mencapai seperlima dari total cadangan minyak dunia (cnnindonesia.com, 05/01/2026).

Kita tentu memahami bahwa minyak adalah komoditas yang sangat strategis bagi AS. Amerika Serikat adalah negara kapitalis yang menghalalkan segala cara demi memenuhi nafsu kolonialismenya. Minyak merupakan harta yang sangat berharga dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat AS. Ia adalah bahan bakar fundamental yang menopang kekuatan ekonomi.

Selama ini, industri AS terpusat pada industri berat yang membutuhkan bahan mentah utama agar mampu bergerak. Karena itu, AS membutuhkan minyak sebagai mesin penggerak kedigdayaannya. Wajar jika minyak menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kebijakan luar negeri serta menentukan posisi strategis AS di panggung dunia.

Venezuela sendiri merupakan negara di Benua Amerika dan termasuk negara Amerika Latin yang secara ideologi berseberangan dengan Amerika Serikat. Kondisi ini berdampak pada kebijakan politik Venezuela yang cenderung berpihak kepada negara-negara sosialis, yakni berada dalam aliansi geopolitik yang mendukung Rusia dan China. 

China telah lama menjadi mitra strategis Venezuela. Keduanya telah menjalin kerja sama dalam investasi energi dan pengaruh politik. China bahkan telah menggelontorkan dana ke Venezuela lebih besar dibandingkan negara mana pun di Amerika Latin. Berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga pemikir asal AS, Venezuela telah menerima lebih dari US$62 miliar (sekitar Rp1.040 triliun) dari China sejak 2007, atau setara dengan 53 persen dari seluruh pinjaman China ke Amerika Latin (cni.id, 07/01/2026).

Dalam kesepakatan tersebut, Venezuela berkomitmen memasok hingga satu juta barel minyak per hari ke China. Sebagai kompensasi, Beijing menjanjikan dukungan politik serta pembangunan infrastruktur.

Selain itu, China dan Venezuela juga membangun pola dedolarisasi, yakni mengurangi ketergantungan terhadap transaksi yang menjadikan dolar AS sebagai patokan. Dolar sebagai mata uang dominan mulai dihapuskan dalam transaksi ekonomi, baik perdagangan internasional, cadangan devisa, maupun sistem keuangan domestik (dpoin.co.id, 07/05/2025).

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sebagai mata uang utama sekaligus menolak tunduk di bawah hegemoni Amerika. Dalam perkembangannya, China secara terbuka menantang AS melalui perang pengaruh dan dominasi minyak di Venezuela.

Dari sini dapat dipahami bahwa drama penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, merupakan langkah cepat Amerika Serikat untuk mengendalikan minyak Venezuela dari pengaruh China. Walaupun AS berdalih menggunakan narasi pemberantasan narkoba sebagai alasan penangkapan Maduro, sesungguhnya minyak dan perang pengaruh geopolitiklah yang menjadi motif utama.

Islam, Negara Kuat di Atas Keadilan

Di tengah dinamika politik internasional yang semakin memanas, terbukti bahwa sistem yang tegak di atas aturan buatan manusia bukanlah sistem yang mampu menciptakan keadilan dan kedamaian. Hal ini juga terlihat pada Amerika Serikat yang mengusung sistem kapitalisme, sistem yang justru melahirkan konflik dan penderitaan.

Sistem kapitalisme memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada individu atau kelompok yang memiliki kekuasaan modal dan politik untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Tidak ada nilai kebenaran yang pasti dalam sistem kapitalisme selain materi dan kepentingan. Akibatnya, pertentangan dan konflik menjadi keniscayaan.

Berbeda dengan Islam. Islam tegak di atas ideologi yang bersumber dari Allah Swt., yang diturunkan untuk menyelesaikan permasalahan manusia karena sesuai dengan fitrah manusia. Islam mampu membentuk negara yang kuat tanpa bergantung pada pengaruh negara lain, serta memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan arah politiknya.

Politik luar negeri Islam bertumpu pada dakwah dan jihad, dengan tujuan menyebarluaskan Islam, mempertahankan negara dari segala bentuk intervensi penjajahan, serta menghapuskan kezaliman. Jihad secara ofensif berfungsi membuka jalan dakwah dan membebaskan manusia dari penyembahan selain kepada Allah Swt., sehingga cahaya Islam dapat tegak di atas keadilan dan perdamaian.
Wallāhu a‘lam.

Oleh: Anastasia 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update