Pendahuluan: Ketika Ilmu Diuji oleh Kekuasaan
TintaSiyasi.id -- Sejarah umat Islam mengajarkan satu pelajaran besar: ilmu dan kekuasaan tidak selalu berjalan seiring dalam kebenaran. Di satu sisi, ilmu adalah cahaya; di sisi lain, kekuasaan seringkali adalah ujian. Di antara keduanya berdiri sosok yang sangat menentukan arah umat: ulama.
Namun tidak semua ulama berada pada maqam yang sama. Ada ulama yang ilmunya tinggi tetapi hatinya rapuh. Ada pula ulama yang ilmunya sederhana, namun wara’ dan takut kepada Allah, sehingga lisannya menjadi penunjuk jalan lurus.
Maka benarlah ungkapan ini: “Ulama yang wara’ itu dekat kepada Allah Yang Maha Kuasa, bukan malah kepada para penguasa.”
Kalimat ini bukan provokasi, tetapi peringatan ideologis. Ia bukan seruan pembangkangan, melainkan panggilan kesadaran agar ilmu tetap berdiri di atas nilai, bukan tunduk pada kepentingan.
Makna Wara’: Pilar Moral Seorang Ulama
Dalam khazanah Islam, wara’ bukan sekadar sikap berhati-hati. Ia adalah kesadaran spiritual tingkat tinggi, yaitu menjauhi perkara yang syubhat karena khawatir terjerumus dalam yang haram.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa wara’ adalah benteng terakhir iman, karena ketika batas halal dan haram mulai kabur, yang menyelamatkan seseorang hanyalah ketakwaan hati.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Ayat ini menegaskan: parameter keulamaan sejati adalah rasa takut kepada Allah, bukan kedekatan dengan istana, kamera, atau kekuasaan.
Ulama dan Penguasa: Hubungan yang Paling Berbahaya
Islam tidak pernah memisahkan agama dari urusan publik. Namun Islam juga tidak pernah menghalalkan penjinakan ulama oleh kekuasaan.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan secara tegas: “Akan datang para pemimpin, siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku.”
(HR. Ahmad)
Inilah garis ideologis dakwah Islam:
Ulama boleh menasehati penguasa
Ulama harus mengoreksi penguasa
Tetapi ulama haram menjual kebenaran demi kekuasaan
Ketika ulama kehilangan jarak kritis, umat kehilangan kompas moral.
Teladan Para Ulama Salaf: Ilmu yang Tidak Tunduk
Sejarah Islam dipenuhi contoh ulama wara’ yang memilih Allah daripada dunia:
Imam Abu Hanifah menolak jabatan qadhi, memilih dipenjara daripada menggadaikan independensi ilmu.
Imam Malik dicambuk karena fatwanya tidak sesuai dengan kepentingan politik.
Imam Ahmad bin Hanbal disiksa dalam fitnah khalqul Qur’an karena menolak tunduk pada tekanan penguasa.
Mereka semua satu suara:
ilmu tidak boleh menjadi alat legitimasi kebatilan.
Inilah ulama ideologis:
teguh di atas akidah, kokoh di atas prinsip, dan lurus dalam keberpihakan kepada kebenaran.
Krisis Zaman: Ketika Ulama Kehilangan Wara’
Hari ini, umat menghadapi krisis yang lebih halus namun berbahaya:
krisis keberanian moral ulama.
Sebagian ulama:
Lebih sibuk menjaga akses daripada menjaga amanah
Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan ridha Allah
Lebih nyaman menenangkan penguasa daripada menyadarkan umat
Padahal Ibnu Mas’ud رضي الله عنه mengingatkan: “Akan datang suatu zaman, banyak ulama tetapi sedikit fuqaha; banyak pembaca Al-Qur’an tetapi sedikit yang mengamalkannya.”
Ilmu yang kehilangan wara’ berubah menjadi komoditas, bukan lagi cahaya petunjuk.
Ulama Wara’ dan Dakwah Penyadaran Umat
Ulama wara’ tidak selalu populer, tetapi selalu relevan. Ia mungkin tidak dielu-elukan, namun doanya didengar langit. Ia mungkin tidak viral, tetapi jejaknya membekas dalam sejarah.
Ciri ulama wara’:
1. Takwa sebagai orientasi, bukan kekuasaan
2. Ilmu sebagai amanah, bukan alat tawar-menawar
3. Kebenaran diucapkan meski sendirian
4. Kritik disampaikan dengan hikmah, bukan pesanan
5. Diamnya karena hikmah, bukan karena takut
Ulama seperti inilah yang menjaga akidah umat tetap lurus di tengah gelombang kepentingan.
Penutup: Mengembalikan Ulama ke Poros Ilahi
Umat tidak butuh ulama yang pandai merangkai kata untuk membela kekuasaan.
Umat butuh ulama yang berani berdiri di hadapan kekuasaan.
Karena sejatinya:
Ulama adalah saksi Allah di bumi
Ilmu adalah amanah langit
Kebenaran tidak pernah tunduk pada jabatan
Maka marilah kita berdoa: “Ya Allah, karuniakan kepada umat ini ulama-ulama yang wara’, yang ilmunya jujur, hatinya bersih, dan keberaniannya lahir dari takut kepada-Mu.”
Sebab ketika ulama dekat kepada Allah, umat akan dekat kepada kebenaran.
Namun ketika ulama terlalu dekat kepada penguasa, umat berisiko jauh dari jalan lurus.
Dan di situlah sejarah selalu berulang—
antara cahaya ilmu dan bayang-bayang kekuasaan.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)