“Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?” — Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari
TintaSiyasi.id -- Kalimat ini bukan sekadar keluhan seorang alim di penghujung usia. Ia adalah tamparan cinta bagi setiap jiwa yang masih diberi nafas. Sebab umur, dalam pandangan para arif billah, bukan angka yang bertambah setiap tahun, melainkan amanah Ilahi yang terus berkurang setiap detik.
Dalam perspektif sufistik, waktu adalah wadah rahasia Allah. Siapa yang mengisinya dengan kelalaian, ia kehilangan makna. Siapa yang mengisinya dengan amal dan ilmu, ia sedang menabung cahaya untuk perjumpaan abadi.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–2)
Kerugian itu bukan karena sedikit harta, bukan pula karena rendah jabatan, tetapi karena waktu berlalu tanpa nilai taqarrub kepada Allah.
Karya: Jejak Ruhani yang Tertinggal
Dalam dunia tasawuf, karya tidak selalu berarti buku tebal atau bangunan megah. Karya adalah bekas kebaikan yang tertinggal setelah kita pergi. Bisa berupa:
Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas
Akhlak yang menenangkan orang lain
Anak yang dididik dengan adab dan iman
Dakwah yang membangunkan hati
Doa yang diam-diam menguatkan umat
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ
“Apabila anak Adam wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Perhatikan: dua dari tiga warisan keabadian itu adalah karya dan pengetahuan.
Maka pertanyaan Hadratussyaikh sejatinya adalah pertanyaan akidah dan kesadaran akhirat:
Jika hidupku tak melahirkan manfaat, lalu apa yang kubawa menghadap Allah?
Pengetahuan: Cahaya yang Menghidupkan Jiwa
Ilmu dalam pandangan para sufi bukan sekadar informasi, tetapi cahaya (nur). Ia menghidupkan hati, menuntun amal, dan membersihkan niat.
Imam Al-Ghazali menegaskan: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
Maka orang yang menghabiskan umur tanpa ilmu, ibarat berjalan dalam gelap. Dan orang yang berilmu tanpa amal, ibarat membawa pelita tetapi tak menerangi jalan.
KH. Hasyim Asy’ari bukan sekadar ulama kitab, tetapi ulama peradaban. Ilmunya melahirkan pesantren, murid, umat, bahkan arah bangsa. Maka kegelisahan beliau tentang umur adalah kegelisahan orang-orang besar yang tak pernah merasa cukup di hadapan Allah.
Sufisme Waktu: Antara Lalai dan Hadir
Dalam tasawuf, waktu disebut “al-waqt”—saat kini yang harus dihadiri sepenuh hati. Orang lalai hidup di masa lalu atau tenggelam dalam angan masa depan. Orang arif hidup bersama Allah di saat ini.
Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari berkata: “Janganlah engkau menunda amal karena menunggu waktu luang, sebab kelalaianmu saat ini adalah bagian dari kelalaianmu yang akan datang.”
Berapa banyak umur habis karena:
Menunda kebaikan
Menunggu sempurna baru bergerak
Sibuk mengomentari, lupa mengabdi
Banyak tahu, sedikit bertumbuh
Padahal satu langkah kecil dalam keikhlasan lebih bernilai daripada seribu rencana tanpa amal.
Refleksi Diri: Untuk Apa Aku Diciptakan?
Pertanyaan Hadratussyaikh seharusnya kita bisikkan setiap malam:
Sudahkah hari ini aku menambah ilmu, atau hanya menambah distraksi?
Sudahkah waktuku melahirkan manfaat, atau hanya kesibukan?
Jika hari ini adalah hari terakhirku, karya apa yang tertinggal?
Allah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا
“Apakah kalian mengira Kami menciptakan kalian sia-sia?”
(QS. Al-Mu’minun: 115)
Tidak. Hidup bukan kebetulan. Umur bukan main-main. Dan waktu bukan untuk dihabiskan, tetapi ditunaikan.
Penutup: Menjadi Hamba yang Bermakna
Makna hidup bukan terletak pada lamanya umur, tetapi pada dalamnya pengabdian. Bukan pada banyaknya aktivitas, tetapi pada hadirnya Allah dalam setiap amal.
Jika hari ini kita belum punya karya besar, mulailah dari niat yang lurus.
Jika belum mampu mengajar banyak orang, ajarilah satu jiwa—termasuk diri sendiri.
Jika belum menulis buku, tulislah kebaikan dalam akhlak dan keteladanan.
Sebab di hadapan Allah kelak, yang ditanya bukan: “Seberapa lama engkau hidup?” melainkan: “Untuk apa umur itu engkau gunakan?”
Semoga Allah menjadikan sisa umur kita penuh karya, bercahaya dengan ilmu, dan berakhir dengan husnul khatimah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)