TintaSiyasi.id -- Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk berakal yang berkembang cara berpikirnya secara bertahap, seiring pengalaman, pendidikan, dan kehidupan sosial. Akal manusia tidak bekerja dalam satu tingkat, tetapi melalui beberapa taraf berpikir.
Secara garis besar, akal manusia menurut Ibnu Khaldun memiliki tiga tingkatan utama:
1. Al-‘Aql at-Tamyīzī (Akal Pembeda / Diskriminatif)
Hakikatnya
Ini adalah tingkatan berpikir paling dasar, yang membedakan manusia dari hewan.
Ciri-ciri:
Mampu membedakan:
baik dan buruk
bermanfaat dan berbahaya
Berpikir bersifat praktis dan instingtif
Berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup sehari-hari
Fungsi Utama:
Bertahan hidup
Mengatur perilaku dasar
Menyesuaikan diri dengan lingkungan
Contoh:
Anak kecil yang tahu api itu panas
Seseorang menghindari bahaya
Memilih makanan yang aman
Ini adalah akal alami (fitri), dimiliki semua manusia sejak awal.
2. Al-‘Aql at-Tajrībī (Akal Eksperimental / Pengalaman)
Hakikatnya
Akal ini berkembang melalui pengalaman hidup dan interaksi sosial.
Ciri-ciri:
Belajar dari pengalaman
Mampu menarik pelajaran dari kejadian
Mulai memahami sebab-akibat
Bersifat empiris dan kontekstual
Fungsi Utama:
Membentuk kebijaksanaan praktis
Mengatur hubungan sosial
Menjadi dasar etika dan adat
Contoh:
Seseorang belajar dari kegagalan usaha
Seorang pemimpin memahami karakter manusia
Guru memahami cara mendidik murid dari pengalaman
Inilah akal sosial, yang tumbuh dalam peradaban (umran).
3. Al-‘Aql an-Naẓarī (Akal Teoretis / Reflektif)
Hakikatnya
Ini adalah tingkatan berpikir tertinggi, khas para ilmuwan, ulama, dan filsuf.
Ciri-ciri:
Mampu berpikir abstrak
Menganalisis konsep universal
Menyusun teori dan sistem ilmu
Mencari hakikat dan kebenaran
Fungsi Utama:
Melahirkan ilmu pengetahuan
Mengembangkan filsafat dan sains
Menjaga dan membangun peradaban
Contoh:
Berpikir tentang sebab-sebab sejarah
Menyusun teori sosial
Menganalisis hukum-hukum alam dan masyarakat
Pada tingkat inilah manusia mencapai kematangan intelektual.
Hubungan Antartingkatan
Ibnu Khaldun menegaskan bahwa:
Akal berkembang bertahap (tadarruj)
Tidak semua orang mencapai tingkat tertinggi
Pendidikan berfungsi menaikkan taraf berpikir manusia
Akal teoritis tanpa akhlak bisa merusak
Integrasi Akal dan Wahyu
Meski membahas akal, Ibnu Khaldun menegaskan:
Akal tidak bertentangan dengan wahyu
Akal memiliki batas
Wahyu membimbing akal agar tidak tersesat
Ilmu tertinggi bukan hanya mengetahui, tetapi menyadari keterbatasan akal di hadapan Allah.
Relevansi dalam Pendidikan
Tingkatan berpikir ini sangat relevan untuk dunia pendidikan:
Anak>>>akal tamyizi
Remaja>>>akal tajribi
Mahasiswa / ilmuwan>>>akal nazari
Kurikulum harus bertahap, tidak memaksa, dan sesuai perkembangan berpikir.
Penutup (Refleksi)
“Manusia tidak dilahirkan dengan ilmu, tetapi dengan potensi berpikir. Ilmu tumbuh seiring pengalaman, bimbingan, dan adab.”
— Intisari Pemikiran Ibnu Khaldun
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)