Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tingkatan Berpikir Manusia menurut Ibnu Khaldun

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:45 WIB Last Updated 2026-01-13T11:45:37Z
TintaSiyasi.id -- Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk berakal yang berkembang cara berpikirnya secara bertahap, seiring pengalaman, pendidikan, dan kehidupan sosial. Akal manusia tidak bekerja dalam satu tingkat, tetapi melalui beberapa taraf berpikir. 

Secara garis besar, akal manusia menurut Ibnu Khaldun memiliki tiga tingkatan utama:

1. Al-‘Aql at-Tamyīzī (Akal Pembeda / Diskriminatif)

Hakikatnya

Ini adalah tingkatan berpikir paling dasar, yang membedakan manusia dari hewan.

Ciri-ciri:

Mampu membedakan:

baik dan buruk

bermanfaat dan berbahaya

Berpikir bersifat praktis dan instingtif

Berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup sehari-hari

Fungsi Utama:

Bertahan hidup

Mengatur perilaku dasar

Menyesuaikan diri dengan lingkungan

Contoh:

Anak kecil yang tahu api itu panas

Seseorang menghindari bahaya

Memilih makanan yang aman

 Ini adalah akal alami (fitri), dimiliki semua manusia sejak awal.

2. Al-‘Aql at-Tajrībī (Akal Eksperimental / Pengalaman)

Hakikatnya

Akal ini berkembang melalui pengalaman hidup dan interaksi sosial.

Ciri-ciri:

Belajar dari pengalaman

Mampu menarik pelajaran dari kejadian

Mulai memahami sebab-akibat

Bersifat empiris dan kontekstual

Fungsi Utama:

Membentuk kebijaksanaan praktis

Mengatur hubungan sosial

Menjadi dasar etika dan adat

Contoh:

Seseorang belajar dari kegagalan usaha

Seorang pemimpin memahami karakter manusia

Guru memahami cara mendidik murid dari pengalaman

 Inilah akal sosial, yang tumbuh dalam peradaban (umran).

3. Al-‘Aql an-Naẓarī (Akal Teoretis / Reflektif)

Hakikatnya

Ini adalah tingkatan berpikir tertinggi, khas para ilmuwan, ulama, dan filsuf.

Ciri-ciri:

Mampu berpikir abstrak

Menganalisis konsep universal

Menyusun teori dan sistem ilmu

Mencari hakikat dan kebenaran

Fungsi Utama:

Melahirkan ilmu pengetahuan

Mengembangkan filsafat dan sains

Menjaga dan membangun peradaban

Contoh:

Berpikir tentang sebab-sebab sejarah

Menyusun teori sosial

Menganalisis hukum-hukum alam dan masyarakat

 Pada tingkat inilah manusia mencapai kematangan intelektual.

Hubungan Antartingkatan

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa:

Akal berkembang bertahap (tadarruj)

Tidak semua orang mencapai tingkat tertinggi

Pendidikan berfungsi menaikkan taraf berpikir manusia

Akal teoritis tanpa akhlak bisa merusak

Integrasi Akal dan Wahyu

Meski membahas akal, Ibnu Khaldun menegaskan:

Akal tidak bertentangan dengan wahyu

Akal memiliki batas

Wahyu membimbing akal agar tidak tersesat

Ilmu tertinggi bukan hanya mengetahui, tetapi menyadari keterbatasan akal di hadapan Allah.

Relevansi dalam Pendidikan

Tingkatan berpikir ini sangat relevan untuk dunia pendidikan:

Anak>>>akal tamyizi

Remaja>>>akal tajribi

Mahasiswa / ilmuwan>>>akal nazari

Kurikulum harus bertahap, tidak memaksa, dan sesuai perkembangan berpikir.

Penutup (Refleksi)

“Manusia tidak dilahirkan dengan ilmu, tetapi dengan potensi berpikir. Ilmu tumbuh seiring pengalaman, bimbingan, dan adab.”
— Intisari Pemikiran Ibnu Khaldun

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update