TintaSiyasi.id -- Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan derasnya arus informasi, umat Islam dihadapkan pada sebuah paradoks. Banyak orang berilmu, tetapi tidak semua berperilaku bijak. Lisan semakin fasih, argumen semakin tajam, tetapi hati kerap kering dari kebeningan. Padahal, Islam tidak hanya menuntut kecerdasan intelektual, melainkan juga kedewasaan spiritual dan kematangan moral.
Dalam Islam, kebijaksanaan (al-ḥikmah) bukan sekadar kepandaian menyusun kata, tetapi kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan kesadaran akan kehadiran Allah Swt.
Oleh karena itu, Allah Swt., menegaskan:
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.”
(QS. Al-Baqarah: 269).
Ayat ini menegaskan bahwa kebijaksanaan adalah karunia sekaligus amanah. Ia harus dicari, dilatih, dan digunakan. Bukan untuk meninggikan ego, melainkan untuk menenangkan jiwa dan memperbaiki kehidupan.
1. Kebijaksanaan Melalui Refleksi dan Muhasabah Diri
Langkah pertama menuju kebijaksanaan adalah kesediaan untuk berhenti sejenak dan bercermin. Inilah yang dalam tradisi Islam disebut sebagai muhasabah.
Muhasabah bukan tanda kelemahan, tetapi ciri kematangan iman. Orang yang berani mengoreksi diri menunjukkan bahwa ia sadar akan keterbatasannya sebagai hamba. Sebaliknya, mereka yang anti kritik dan alergi evaluasi sering kali terjebak dalam kesombongan spiritual yang tidak disadari.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi).
Refleksi diri melatih seseorang untuk:
Tidak reaktif dalam menyikapi masalah
Tidak mudah menyalahkan keadaan dan orang lain
Mampu membaca pesan Ilahi di balik peristiwa hidup
Dalam perspektif sufistik, muhasabah adalah pintu pembuka hijab hati. Semakin jujur seseorang terhadap dirinya, semakin dekat ia pada kebijaksanaan. Sebab, kebijaksanaan tidak tumbuh di hati yang penuh pembenaran diri.
2. Kebijaksanaan Melalui Proses Mengamati, Meniru, Memodifikasi, dan Menyesuaikan Diri
Islam adalah agama keteladanan. Rasulullah Saw., dihadirkan sebagai uswah hasanah, bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diikuti. Namun, mengikuti tidak identik dengan meniru secara tekstual dan kaku.
Orang yang bijak memahami bahwa:
Tidak semua yang cocok bagi orang lain, otomatis cocok bagi dirinya
Nilai harus diambil, bukan sekadar simbol
Prinsip dijaga, sementara metode dapat disesuaikan
Dalam proses kehidupan, seseorang perlu mengamati orang-orang shaleh dan berpengalaman, meniru nilai kebaikannya, lalu memodifikasi dan menyesuaikan dengan konteks diri, zaman, dan lingkungan tanpa keluar dari koridor syariat.
Imam Malik pernah berkata:
“Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali Rasulullah Saw,.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan menuntut keterbukaan berpikir sekaligus keteguhan prinsip. Fanatisme buta melahirkan kekakuan, sementara kebebasan tanpa nilai melahirkan kebingungan.
3. Kebijaksanaan yang Ditempa oleh Pengalaman, Sekalipun Pahit
Tidak semua pelajaran datang melalui teori dan nasihat. Sebagian besar justru datang melalui pengalaman hidup yang pahit, menyakitkan, dan melelahkan. Namun, di situlah letak pendidikan Allah yang paling efektif.
Pengalaman pahit:
Menghancurkan kesombongan
Melatih kesabaran
Menumbuhkan empati
Allah Swt., berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216).
Orang yang matang secara ruhani tidak menjadikan pengalaman pahit sebagai alasan untuk marah kepada takdir, tetapi sebagai bahan bakar kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih bijak.
Dalam tasawuf, luka yang disikapi dengan iman akan berubah menjadi hikmah. Namun, luka yang disikapi dengan keluh kesah akan berubah menjadi beban jiwa.
Kebijaksanaan: Tanda Kedewasaan, Bukan Superioritas
Kebijaksanaan sejati tidak menjadikan seseorang merasa paling benar. Justru semakin bijak seseorang, semakin ia:
Berhati-hati dalam berbicara
Rendah hati dalam bersikap
Lapang dalam menyikapi perbedaan
Kebijaksanaan melahirkan ketenangan, bukan kegaduhan.
Melahirkan solusi, bukan provokasi.
Melahirkan kedamaian, bukan permusuhan.
Penutup
Mencari kebijaksanaan adalah perjalanan seumur hidup.
Menggunakannya adalah tanggung jawab moral dan spiritual.
Barang siapa menjadikan kebijaksanaan sebagai jalan hidupnya,
maka ia tidak akan mudah goyah oleh pujian,
tidak hancur oleh cacian,
dan tidak tersesat oleh ambisi dunia.
Karena pada akhirnya, kebijaksanaan adalah tanda bahwa seseorang sedang berjalan pulang menuju Allah Swt., dengan hati yang sadar dan jiwa yang tenang.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM. Coach Pengusaha Hijrah