Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Temukan Apa yang Menggerakkan Anda dan Beri Diri Anda Ruang untuk Mengembangkan Versi Terbaik Diri Anda

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34 WIB Last Updated 2026-01-15T04:34:41Z
TintaSiyasi.id -- Setiap manusia berjalan di jalan kehidupannya masing-masing. Ada yang melangkah cepat, ada yang perlahan. Namun tidak semua yang berjalan benar-benar bergerak. Ada yang sibuk, tetapi hatinya kosong. Ada yang tampak diam, tapi jiwanya sedang menempuh perjalanan panjang menuju cahaya. Karena sesungguhnya, yang terpenting bukan seberapa jauh kita melangkah, tetapi apa yang menggerakkan langkah itu.

1. Menemukan Apa yang Menggerakkan Diri

Pertanyaan paling mendasar dalam kehidupan ini bukan “apa yang sedang saya lakukan?”, melainkan “mengapa saya melakukannya?”

Banyak orang bekerja keras, mengejar karier, menumpuk pencapaian, namun di ujung lelah, yang mereka rasakan hanyalah kehampaan. Sebab aktivitas tanpa makna adalah perjalanan tanpa arah.

Apa yang menggerakkan Anda bukanlah sekadar ambisi, tetapi niat dan makna yang hidup di dalam hati.
Itu bisa berupa keinginan untuk memberi manfaat, untuk memperbaiki diri, untuk menebar kebaikan, atau bahkan sekadar untuk menjadi lebih dekat dengan Allah.

“Maka larilah kamu kepada Allah…”
(QS. Adz-Dzariyat: 50)

Ayat ini menegaskan arah gerak sejati manusia: bukan sekadar dari titik A ke titik B, tapi dari kelalaian menuju kesadaran, dari maksiat menuju ketaatan, dari cinta dunia menuju cinta Ilahi.
Gerakan sejati selalu dimulai dari kesadaran ruhani, bukan hanya dorongan emosional.

Tanyakanlah pada dirimu sendiri:

Apa yang membuat hatimu bergetar ketika melakukannya?

Apa yang tetap ingin kamu lakukan meski tidak ada tepuk tangan?

Hal apa yang membuat lelah terasa ibadah, bukan beban?

Ketika Anda menemukan jawabannya, Anda akan sadar bahwa makna adalah bahan bakar jiwa.

Ia menyalakan semangat bahkan ketika dunia memadamkan cahaya.
Ia membuat langkah kecil terasa seperti perjalanan besar.

2. Memberi Ruang untuk Versi Terbaik Diri

Namun, menemukan apa yang menggerakkan diri saja tidak cukup.
Anda juga perlu memberi ruang untuk bertumbuh — ruang untuk berproses, ruang untuk gagal, ruang untuk belajar menjadi versi terbaik diri Anda.

Banyak orang ingin menjadi lebih baik, tetapi mereka menolak memberi waktu dan ruang bagi dirinya untuk tumbuh. Mereka menuntut kesempurnaan seketika. Padahal, bahkan pohon tertinggi pun bermula dari biji kecil yang diberi waktu untuk menembus tanah, menumbuhkan akar, dan menghadapi musim demi musim.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan hanya penghibur, tapi juga pengingat agar kita tidak menzalimi diri sendiri dengan ekspektasi berlebihan.
Berilah jeda.
Berilah ruang.

Karena ruang adalah tempat jiwa bernafas dan kesadaran bertumbuh.

Versi terbaik diri Anda tidak akan lahir dari tekanan atau perbandingan, melainkan dari kesabaran, keikhlasan, dan kasih kepada diri sendiri.
Izinkan diri Anda:

belajar tanpa takut salah,

berproses tanpa harus sempurna,

berjalan tanpa harus cepat.

Ruang itu bisa berupa waktu untuk bermuhasabah, menyepi, membaca, berdoa, atau sekadar menarik napas panjang dan mengucap “Alhamdulillah, aku masih di jalan ini.”

3. Bergerak dengan Kesadaran, Bertumbuh dengan Kasih

Jika digabungkan, dua hal ini adalah kunci keseimbangan hidup:
gerak yang sadar dan ruang yang lembut.
Gerak tanpa ruang membuat Anda terbakar kelelahan.

Ruang tanpa gerak membuat Anda terjebak dalam kenyamanan.
Keduanya perlu berjalan bersama: bergerak menuju makna, dan memberi ruang untuk bertumbuh.

Ketika Anda tahu apa yang menggerakkan Anda, langkah terasa ringan.
Ketika Anda memberi ruang bagi diri, hati terasa tenang.

Dan pada titik itu, hidup tidak lagi sekadar tentang mencapai sesuatu — tetapi tentang menjadi seseorang yang lebih dekat kepada Allah, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih damai dengan dirinya sendiri.

4. Penutup: Berjalan dalam Irama Jiwa

Hidup bukan lomba cepat-cepat sampai, tapi perjalanan panjang untuk mengenali siapa diri kita dan kepada siapa kita kembali.

Kadang Allah memperlambat langkah kita bukan karena Ia ingin menghentikan, tapi karena Ia ingin kita menyadari makna setiap langkah.

Maka, temukan apa yang menggerakkan Anda.
Dan beri diri Anda ruang untuk mengembangkan versi terbaik diri Anda.

Sebab di antara keduanya, di antara gerak dan jeda, di antara usaha dan sabar —
di situlah letak kedewasaan jiwa dan ketenangan batin.

Pelan-pelanlah.
Karena yang berjalan menuju Allah tidak akan pernah sia-sia.

“Barang siapa berjalan menuju Allah, maka Allah akan berlari menyambutnya.”
(Hadis Qudsi)

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update