TintaSiyasi.id -- Karena dari sanalah arah hidup ditentukan
Pikiran adalah anugerah besar dari Allah SWT. Ia ibarat ruang kendali (control room) bagi seluruh perilaku manusia. Apa yang kita pikirkan, itulah yang perlahan kita rasakan, ucapkan, dan lakukan. Karena itu, mengawasi dan mengelola pikiran bukan sekadar urusan psikologis, tetapi juga ibadah ruhani yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Rasulullah Saw., mengingatkan bahwa baik dan rusaknya amal bermula dari dalam diri manusia. Dan pusat dari “dalam diri” itu adalah pikiran dan hati.
1. Pikiran adalah Pintu Hati
Dalam Islam, pikiran tidak berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan qalb (hati). Pikiran yang dibiarkan liar, negatif, dan kotor akan mengotori hati. Sebaliknya, pikiran yang dijaga akan menenangkan hati.
Allah Swt., berfirman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28).
Ketika pikiran dipenuhi dzikir, syukur, dan prasangka baik, maka hati akan hidup. Namun, ketika pikiran dikuasai oleh su’uzhan, kecemasan, iri, dan keluh kesah, hati akan gelisah dan gelap.
2. Pikiran yang Tak Dijaga Akan Mengendalikan Anda
Banyak orang merasa lelah, gelisah, dan stres bukan karena hidupnya berat, tetapi karena pikirannya tidak terkelola. Ia membiarkan:
Pikiran negatif berulang-ulang
Kekhawatiran tentang masa depan yang belum tentu terjadi
Penyesalan masa lalu yang tidak bisa diubah
Bisikan syaitan yang melemahkan iman
Padahal, pikiran yang tidak diawasi akan:
Melemahkan semangat ibadah
Merusak rasa syukur
Menutup pintu tawakal
Menghilangkan husnudzan kepada Allah
3. Mengelola Pikiran adalah Tanggung Jawab Iman
Seorang mukmin bukan orang yang pikirannya selalu positif, tetapi orang yang sadar saat pikirannya mulai menyimpang, lalu segera mengembalikannya kepada Allah.
Imam Al-Ghazali Rahimahullah menegaskan bahwa:
“Pikiran adalah awal dari keinginan, dan keinginan adalah awal dari perbuatan.”
Karena itu, mengelola pikiran berarti memutus keburukan sejak akarnya.
4. Cara Islami Mengawasi dan Mengelola Pikiran
Beberapa langkah ruhani yang bisa kita latih:
a. Muhasabah Pikiran
Setiap hari, tanyakan pada diri sendiri:
Apa yang paling sering saya pikirkan hari ini?
Apakah pikiran itu mendekatkan saya kepada Allah atau menjauhkan?
b. Ganti Pikiran, Jangan Dilawan
Pikiran buruk jangan dilawan dengan emosi, tetapi diganti dengan:
Dzikir
Doa
Ayat Al-Qur’an
Kalimat syukur
c. Perbanyak Dzikir dan Shalawat
Dzikir adalah “penjernih pikiran”. Pikiran yang sibuk mengingat Allah tidak punya ruang untuk waswas.
d. Latih Husnudzan kepada Allah
Apa pun yang terjadi, yakini:
“Allah tidak mungkin salah dalam menetapkan takdir.”
5. Pikiran yang Terkelola Melahirkan Jiwa yang Kuat
Ketika pikiran terjaga:
Iman menjadi stabil
Emosi lebih tenang
Keputusan lebih bijak
Hidup terasa ringan meski ujian berat
Inilah tanda kedewasaan ruhani. Bukan hidup tanpa masalah, tetapi pikiran tidak tenggelam dalam masalah.
Penutup: Jadilah Penjaga Pikiran Anda
Jangan biarkan pikiran menjadi pintu masuk kegelisahan dan keputusasaan. Jadikan ia ladang dzikir, syukur, dan tawakal.
Ingatlah:
Anda tidak selalu bisa mengendalikan keadaan, tetapi Anda selalu bisa mengendalikan cara berpikir.
Dan ketika pikiran Anda bersama Allah,
maka tidak ada kegelisahan yang mampu bertahan lama.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Refleksi Dakwah & Pencerahan Jiwa