Menyambut Tamu Agung dengan Jiwa yang Rindu dan Hati yang Tunduk.
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan…
TintaSiyasi.id -- Selamat datang wahai bulan yang ditunggu oleh langit dan bumi. Selamat datang wahai musim para pecinta Allah. Selamat datang wahai bulan yang menghidupkan hati-hati yang hampir mati oleh kelalaian.
Ramadhan bukan sekadar bulan dalam peredaran waktu, tetapi peristiwa ruhani. Ia datang sebagai undangan Ilahi, memanggil jiwa-jiwa yang lelah oleh dunia untuk kembali bersimpuh di hadapan Rabb-nya. Bagi orang-orang yang beriman, Ramadhan adalah waktu pulang, bukan sekadar waktu menahan lapar.
Dalam tradisi sufistik, Ramadhan disebut sebagai syahr at-tajalli—bulan tersingkapnya cahaya-cahaya Ilahi bagi hati yang bersih dan siap menerima.
Ramadhan: Tamu Agung yang Tidak Datang Setiap Saat
Para arif billah mengajarkan adab terhadap tamu. Jika tamu biasa saja kita sambut dengan senyum dan hidangan terbaik, maka bagaimana dengan Ramadhan, tamu yang membawa ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka?
Rasulullah ﷺ bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan…”
Kalimat “telah datang” bukan sekadar informasi, tetapi panggilan kesadaran. Ramadhan datang, tetapi pertanyaannya: Apakah hati kita juga hadir? Ataukah jasad kita di Ramadhan, namun ruh kita masih terbelenggu dunia?
Orang-orang saleh terdahulu berdoa enam bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengannya, dan enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah nikmat langka, bukan rutinitas tahunan.
Puasa: Jalan Sunyi Menuju Allah
Dalam kacamata tasawuf, puasa bukan hanya ibadah lahir, tetapi riyadhah jiwa. Ia adalah latihan sunyi untuk memutus ketergantungan pada selain Allah.
Rasulullah ﷺ meriwayatkan firman Allah: “Puasa itu milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sufi memahami hadis ini sebagai isyarat bahwa puasa adalah ibadah sirr (rahasia). Tidak ada yang benar-benar tahu kualitas puasa seseorang kecuali Allah. Maka puasa sejatinya adalah:
Menahan nafsu dari yang haram
Menjaga hati dari riya
Mengosongkan jiwa dari cinta dunia
Mengisi ruh dengan kehadiran Allah
Puasa yang hanya menahan lapar tanpa menjaga hati, menurut para arif, hanyalah puasa jasad, bukan puasa ruh.
Ramadhan: Madrasah Penyucian Hati (Tazkiyatun Nafs)
Tujuan puasa adalah takwa, dan takwa bermula dari hati. Ramadhan datang untuk membersihkan:
Hati yang dipenuhi iri
Jiwa yang dikuasai ambisi dunia
Pikiran yang jauh dari dzikir
Amal yang kehilangan keikhlasan
Dalam suluk ruhani, Ramadhan adalah madrasah pembersihan. Tangisan di sepertiga malam, sujud yang panjang, lapar yang disadari, semuanya adalah sarana Allah untuk melembutkan hati yang keras.
Betapa sering manusia merasa kuat, sampai Allah melemahkannya dengan lapar, agar ia sadar bahwa: “Kita ini hamba, bukan penguasa.”
Ramadhan: Bulan Al-Qur’an dan Dialog dengan Kalam Ilahi
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Namun para sufi mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an tidak cukup dengan lisan, tetapi harus dibaca dengan hati yang hadir.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, ia adalah surat cinta dari Allah. Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membuka dan merenungkannya.
Imam Al-Ghazali mengatakan: “Setiap ayat yang engkau baca seharusnya membuatmu bertanya: ini sedang berbicara tentang siapa dan untuk siapa?”
Jika Al-Qur’an belum membuat hati kita bergetar, bisa jadi bukan ayatnya yang jauh, tetapi hati kita yang tertutup.
Ramadhan: Bulan Taubat dan Kembali Pulang
Dalam perjalanan sufistik, taubat bukan sekadar menyesal, tetapi berbalik arah sepenuhnya. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk kembali kepada Allah sebelum kita kembali kepada tanah.
Rasulullah ﷺ memperingatkan: “Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan namun tidak diampuni dosanya.”
Ini bukan ancaman kosong, tetapi seruan kasih sayang. Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya, lalu memanggil hamba-Nya: “Adakah yang mau kembali?”
Ramadhan adalah bulan air mata.
Tangisan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda hidupnya hati.
Ramadhan: Menyambut dengan Adab, Menjalani dengan Kesadaran
Para salik menyambut Ramadhan dengan:
Membersihkan niat
Melunakkan hati
Memaafkan sesama
Mengurangi urusan dunia
Memperbanyak khalwat dengan Allah
Ramadhan tidak datang untuk dihabiskan, tetapi dihidupi.
Bukan sekadar sibuk berbuka dan sahur, tetapi sibuk mendekat dan bersimpuh.
Penutup: Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Tanpa Bekas
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan…
Jangan biarkan engkau datang lalu pergi, sementara kami tetap sama.
Jadikan Ramadhan sebagai titik balik kehidupan, bukan hanya kalender ibadah.
Semoga Ramadhan ini:
Membersihkan hati kita
Menghidupkan ruh kita
Menguatkan iman kita
Mendekatkan kita kepada Allah
Allahumma ahyina bil Qur’an, wa zayyinna bit taqwa, wa la taj‘al Ramadhana syahidan ‘alaina ya Rabb.
Marhaban ya Ramadhan…
Datanglah dengan cahaya, dan jangan tinggalkan kami kecuali dalam keadaan lebih dekat kepada-Mu.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)