TintaSiyasi.id -- Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising oleh ambisi, kompetisi, dan kegelisahan, kalimat sederhana namun sarat makna ini kembali menggema dalam relung jiwa kita:
“Gusti Allah mboten sare.”
(Tuhan tidak pernah tidur).
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan tradisi lisan masyarakat Jawa yang religius, tetapi merupakan manifestasi tauhid yang hidup, sebuah pengingat spiritual bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi, menjaga, dan mengatur kehidupan kita tanpa jeda, tanpa lalai, dan tanpa batas waktu.
Allah Tidak Pernah Tidur: Aqidah yang Menenteramkan
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dengan sangat jelas: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
(QS. Al-Baqarah: 255)
Ayat ini adalah fondasi keimanan kita. Allah tidak pernah lengah, tidak pernah lalai, dan tidak pernah terlewat dari satu pun detak kehidupan. Ketika manusia terlelap dalam tidur panjangnya, Allah tetap terjaga mengatur alam semesta, menakar rezeki, menjaga ruh, dan menulis takdir dengan penuh hikmah.
Kesadaran ini seharusnya melahirkan ketenangan batin, bukan ketakutan semata. Sebab Allah yang mengawasi kita adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan sekadar Pengawas yang menghukum.
Dimensi Sufistik: Merasa Diawasi, Bukan Sekadar Diawasi
Dalam jalan tasawuf, keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur melahirkan maqam spiritual yang tinggi, yaitu ihsan.
Rasulullah SAW bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Inilah ruh dari ungkapan “Gusti Allah mboten sare”. Seorang hamba yang hidup dengan kesadaran ini akan:
Malu untuk bermaksiat
Ringan untuk berbuat kebaikan
Tulus dalam amal
Ikhlas dalam pengabdian
Ia tidak butuh sorotan manusia, karena hatinya selalu merasa berada di bawah pandangan Allah.
Pengawasan Ilahi dalam Kehidupan Sehari-hari
Ketika seseorang benar-benar menghayati bahwa Allah tidak pernah tidur, maka ia akan:
Jujur meski tidak diawasi manusia
Amanah meski tidak ada saksi
Sabar meski tidak dipuji
Teguh meski sendirian
Karena ia yakin, tidak ada satu air mata pun yang jatuh tanpa diketahui Allah, dan tidak ada satu doa pun yang melayang tanpa dicatat oleh-Nya.
Boleh jadi manusia tidak melihat perjuanganmu, tetapi Allah menyaksikan setiap niat dan langkahmu.
Peringatan bagi yang Lalai, Harapan bagi yang Terzalimi
Ungkapan “Allah tidak tidur” juga menjadi peringatan keras bagi orang-orang zalim, yang merasa aman berbuat curang, menindas, dan menyakiti sesama.
Namun di saat yang sama, kalimat ini menjadi pelipur lara bagi mereka yang teraniaya, bahwa:
Ketidakadilan tidak abadi
Air mata tidak sia-sia
Doa orang terzalimi tidak tertolak
Allah hanya menunda, bukan lupa. Allah memberi waktu, bukan membiarkan.
Hidup dalam Pengawasan Allah: Jalan Keselamatan
Orang yang hidup dengan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi akan menata hidupnya dengan penuh kehati-hatian:
Hatinya dijaga
Lisannya ditimbang
Langkahnya diarahkan
Niatnya disucikan
Inilah kehidupan yang selamat (salim), sebagaimana doa para salihin: “Ya Allah, selamatkan hati kami sebelum amal kami.”
Penutup: Kesadaran yang Menghidupkan Jiwa
Wahai saudaraku, jika manusia bisa tertidur dan lalai, Allah tidak pernah tertidur. Jika manusia bisa lupa janji, Allah tidak pernah lupa. Jika manusia bisa berkhianat, Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Mari kita hidup dengan kesadaran ini, bukan dengan ketakutan yang membelenggu, tetapi dengan cinta, rasa malu, dan pengharapan kepada Allah.
Karena sesungguhnya, Gusti Allah mboten sare. Dan di bawah pengawasan-Nya lah, hati-hati yang jujur akan menemukan ketenangan, dan jiwa-jiwa yang ikhlas akan menemukan keselamatan.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)