“Secara logika, sesuatu yang kita takuti biasanya akan
kita jauhi. Namun rasa takut kepada Allah justru membawa kita semakin dekat dan
semakin menghampiri Allah Swt.,” ujarnya dalam rangkaian Tadabbur Surah
Al-Baqarah (198–203) bertajuk Manasik Haji: Simbol Penyatuan Umat dan
Keseimbangan Dunia dan Akhirat, Sabtu (20/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa dengan ketakwaan, seseorang akan
berusaha untuk senantiasa menaati perintah Allah Swt. dan menjauhi
larangan-Nya.
“Karena ketakwaan dan rasa takut kepada Allah itulah
yang memastikan kita selalu mengikuti perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya,” tuturnya.
Terkait dengan ibadah haji, beliau menerangkan bahwa
manasik haji yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada hakikatnya menghapus
segala perbedaan dan jurang di antara umat manusia. Yang membedakan apakah
seseorang mulia atau tidak adalah nilai ketakwaan dalam amal ibadahnya.
“Ketika menunaikan ibadah haji, para jemaah berkumpul
di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dengan pakaian yang sama. Semua ini
menumbuhkan kerendahan hati, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada
Allah Swt.,” ungkapnya.
Ia melanjutkan bahwa nilai ketakwaan tidak hanya
muncul ketika menunaikan ibadah haji, tetapi harus hadir dalam setiap keadaan
kehidupan.
“Takwa bukan hanya ketika kita menunaikan ibadah haji
saja, tetapi takwa itu harus senantiasa ada, karena dengan takwa itulah kita
mampu mengendalikan diri dari perbuatan dosa,” jelasnya.
Aishah juga menerangkan bagaimana ketakwaan akan
membimbing setiap perbuatan agar selaras dengan aturan Islam, sehingga
dipandang sebagai ibadah yang bernilai pahala.
Sebagai contoh, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 198
yang artinya, “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu
(dengan tetap melakukan perdagangan ketika mengerjakan haji...”
Dari tadabur ayat 198 itu, ia menjelaskan adanya
keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, di mana Allah Swt. membolehkan
bermuamalah saat melaksanakan ibadah haji.
Tambahnya lagi, sebagai Muslim yang bertakwa, setiap
amal yang dilakukan baik ibadah mahda, seperti haji maupun ibadah umum seperti
jual beli, harus sepenuhnya terikat dengan aturan dan hukum Allah Swt. agar
memperoleh keuntungan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
“Baik dalam beribadah maupun menjalani kehidupan
sehari-hari, jika terdapat nilai ketakwaan dalam perbuatan kita, itu berarti
kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan memiliki aturan dalam Islam,
memiliki hukum yang wajib kita patuhi ,” ungkapnya.
“Di situlah terdapat nilai ibadah dan pahala, dan itu
adalah sebuah keuntungan. Keuntungan apa? Keuntungan dunia dan akhirat,” tegasnya.
Ia menutup dengan menegaskan pentingnya ketakwaan agar
kita tetap berada di jalan yang lurus.
