TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Dakwah Bukan Sekadar Bicara
Dakwah sering kali disalahpahami sebagai aktivitas berbicara di mimbar, menyampaikan dalil, lalu merasa tugas telah selesai. Padahal, dakwah sejatinya adalah ikhtiar panjang menjemput hidayah Allah melalui cara yang diridhai-Nya. Tidak semua kebenaran akan diterima jika disampaikan tanpa hikmah, dan tidak semua dalil akan menyentuh hati jika disampaikan tanpa keteladanan.
Di sinilah pentingnya strategi komunikasi dakwah. Dakwah bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi bagaimana menyampaikannya dan siapa yang menyampaikannya.
Dakwah dan Strategi: Antara Ilmu dan Kebijaksanaan
Allah Swt., berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini bukan sekadar perintah dakwah, melainkan peta strategi komunikasi ilahiah. Di dalamnya terdapat tiga pendekatan utama:
1. Bil Hikmah – Dakwah dengan kebijaksanaan
2. Mau‘izhah Hasanah – Dakwah dengan sentuhan hati
3. Mujadalah Billati Hiya Ahsan – Dakwah dialogis yang santun
Artinya, Islam tidak mengajarkan dakwah yang keras, apalagi memaksa. Dakwah adalah seni menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling mungkin diterima hati.
Ketika Pesan Lebih Kuat dari Sekadar Kata
Dalam teori komunikasi modern, dikenal konsep kredibilitas komunikator. Pesan akan lebih diterima bila penyampainya dipercaya, dihormati, dan diteladani. Islam telah lama mengajarkan hal ini melalui konsep uswah hasanah.
Rasulullah Saw., tidak hanya berdakwah dengan lisan, tetapi dengan:
Kejujuran hidupnya
Kesabaran akhlaknya
Konsistensi antara ucapan dan perbuatan
Tidak heran bila para sahabat masuk Islam bukan karena retorika, melainkan karena akhlak yang hidup.
Dakwah hari ini sering kehilangan daya sentuh bukan karena kekurangan dalil, tetapi karena ketiadaan keteladanan.
Pola Komunikasi Dakwah: Dari Mimbar ke Kehidupan
1. Dakwah Linear: Penting tapi Tidak Cukup
Ceramah, khutbah, dan tausiyah satu arah tetap penting, terutama untuk menyampaikan nilai dasar. Namun, jika dakwah berhenti di sini, maka ia rawan menjadi rutinitas tanpa transformasi.
2. Dakwah Interaktif: Mendengar sebelum Menasihati
Rasulullah Saw., sering bertanya, mendengar, dan memahami kondisi umat sebelum memberi arahan. Dakwah yang dialogis membuat mad‘u merasa dihargai, bukan dihakimi.
3. Dakwah Transaksional: Tumbuh Bersama Umat
Dalam pola ini, da’i dan mad‘u sama-sama belajar. Dakwah menjadi ruang perjumpaan ruhani, bukan panggung superioritas.
4. Dakwah Kultural: Merangkul Tradisi, Menyucikan Nilai
Islam hadir bukan untuk mematikan budaya, tetapi membersihkannya dari syirik dan kemungkaran. Dakwah yang peka budaya akan lebih mudah diterima dan mengakar.
5. Dakwah Digital: Menjemput Jiwa di Ruang Sunyi
Media sosial hari ini adalah ruang sunyi manusia modern. Dakwah digital yang bijak, empatik, dan tidak menghakimi dapat menjadi cahaya bagi mereka yang sedang mencari arah.
Dakwah yang Menyentuh Hati: Dari Teori ke Hikmah
Teori komunikasi menyebut bahwa manusia hanya menerima pesan yang dirasa memberi manfaat dan ketenangan. Al-Qur’an telah menegaskan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28).
Maka dakwah sejati adalah dakwah yang:
Menenangkan, bukan menakut-nakuti
Menguatkan, bukan melemahkan
Membimbing, bukan menghakimi
Dakwah yang kasar mungkin memenangkan perdebatan, tetapi kehilangan hati.
Penutup: Dakwah sebagai Jalan Cinta
Dakwah bukan perlombaan siapa paling lantang, melainkan siapa paling tulus. Strategi komunikasi dakwah sejatinya adalah strategi cinta mencintai manusia sebagaimana Rasulullah Saw., mencintai umatnya.
Apabila dakwah dilakukan dengan ilmu, disampaikan dengan hikmah, dan dikuatkan dengan keteladanan, maka ia tidak hanya sampai di telinga, tetapi menetap di hati.
Semoga Allah menjadikan kita bukan hanya penyampai kebenaran, tetapi juga jalan datangnya hidayah bagi sesama.
Dr Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo