Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sinergi Ibu dan Generasi Menghadapi Arus Digitalisasi

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:29 WIB Last Updated 2026-01-03T00:29:39Z

TintaSiyasi.id -- Arus digitalisasi kian deras membawa ide sekularisme. Ide yang memisahkan kehidupan dengan aturan Islam, menjadikan konten ruang digital bebas tanpa batas. Alhasil, generasi muda sebagai konsumen utama kehilangan jati dirinya sebagai pelopor perubahan. Mereka nyaman menjadi generasi rebahan dengan menghabiskan waktu di media digital. 

Kaum ibu pun ikut terseret arus digitalisasi. Bermula sekadar ingin tau supaya melek teknologi, malah kebablasan hingga melalaikan kewajiban. Perannya sebagai pengurus rumah tangga dan pendidik generasi mengalami degradasi. Kondisi demikian harus segera disadari, ibu dan generasi butuh bersinergi menghadapi arus digitalisasi. 

Ibu dan Generasi Menjadi Sasaran

Kehidupan generasi muda saat ini tidak bisa lepas dari media digital. Berbagai aktivitas dilakukan dengan melibatkan media digital. Sayangnya, digitalisasi yang kerap dianggap netral sejatinya berada dalam hegemoni Kapitalisme. Ia menguasai berbagai platform digital. Tujuannya bukan sekadar motif ekonomi tetapi juga menyebarkan sekularisasi, ideologi batil yang menjauhkan umat dari Islam sebagai Ideologi kehidupan. 

Kaum ibu saat ini juga mengalami hal yang sama. Gaya hidupnya disetir oleh algoritma media sosial. Tak sedikit ibu-ibu menjadi korban sistem Kapitalisme, selain menjadi konsumen juga menjadi pelaku ekonomi digital. Alhasil, kewajibannya mendidik anak kerap terabaikan. 

Negara sekuler memandang bahwa generasi muda dan kaum ibu merupakan objek komersial. Objek yang dapat mendatangkan cuan, sehingga mereka diberdayakan dan diperdaya melalui media digital untuk kepentingan mereka. Sekaligus menjauhkan mereka dari mempelajari dan menerapkan Islam kaffah. 

Dengan demikian, akar persoalannya terletak pada pengadopsian ide sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara. Selama ide itu diterapkan, maka Islam hanya dipelajari dan diterapkan sebagai ibadah ritual. Tidak dijadikan sebagai pengatur kehidupan. Wajar saja jika mayoritas penduduk negeri ini muslim, tetapi gaya hidupnya tidak terikat syariat Islam. Kemaksiatan pun merajalela, baik di dunia nyata maupun maya. 

Sinergi Ibu dan Generasi

Ibu dan generasi harus menyadari bahwa ada penjajahan dibalik masifnya media digital. Arus digitalisasi harus dihadapi bersama dengan sudut pandang Islam agar tidak tenggelam dalam arus sekularisasi digital. Kaum ibu dan generasi tidak boleh bersikap abai, mereka adalah dua generasi yang harus bersatu sebagai subjek pelopor perubahan. Sinergi diantara mereka akan berdampak besar untuk melejitkan pemikiran Islam.

Namun, hal itu saja tidak cukup. Kahadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi urgen untuk membina kaum ibu dan generasi. Dengan pembinaan Islam ideologis akan melahirnya umat yang berkepribadian Islam, baik pada generasi tua maupun muda. 

Allah Swt berfirman dalam QS. Ali- imran ayat 104, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Ayat ini menekankan pentingnya amar makruf nahi munkar, yaitu menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang baik, dan mencegah dari yang mungkar. Realisasinya dibutuhkan jamaah dakwah Islam yang terorganisir dengan tujuan perubahan secara fundamental, bukan sekadar perbaikan moral personal. Merujuk pada metode dakwah Rasulullah Saw, beliau membina umat baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda bersama kutlah jamaah. 

Tahapan awal dakwah Rasulullah Saw yakni pembinaan (tatsqif). Pada fase ini, Rasulullah Saw membina umat agar memiliki kepribadian Islam. Setelah itu, dakwah dilanjutkan dengan interaksi bersama umat membentuk opini umum Islam. Dengan kegigihan dakwah Islam, pada akhirnya terjadi penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan dalam bingkai negara Madinah. 

Metode inilah yang saat ini dibutuhkan oleh umat bersama jamaah dakwah Islam Ideologis. Membentuk umat berkepribadian Islam, dan terjun ditengah-tengah masyarakat melakukan amar makruf nahi mungkar, baik di dunia nyata maupun maya. Menyadarkan umat akan perannya menjadi agen perubahan peradaban, dengan menjadikan Islam sebagai Ideologi dalam bingkai negara yang syar'i, yakni Khilafah Islamiyah ala minhajin Nubuwwah. Allahu a'lam bi showab.

Oleh: Eni Imami, S.Si, S.Pd
Pendidik dan Pegiat Literasi

Opini

×
Berita Terbaru Update