Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Setahun Penyelesaian Palestina: Penuh Konspirasi Jahat dan Jauh dari Harapan

Senin, 05 Januari 2026 | 09:28 WIB Last Updated 2026-01-05T02:28:45Z

TintaSiyasi.id -- Sudah hampir satu tahun narasi “penyelesaian Palestina” digembar-gemborkan oleh kekuatan politik internasional. Namun realitas yang terjadi jauh dari harapan pembebasan Palestina yang adil dan bermartabat. Di lapangan, Isrewel — rezim Zionis yang tak pernah mengakui hak rakyat Palestina — terus melaju dalam agenda kolonialnya. Baru-baru ini, dikabarkan pembukaan 19 permukiman baru di Tepi Barat, sebuah praktik perampasan tanah yang semakin mengokohkan pendudukan dan mencabik cita-cita negara Palestina merdeka. Fakta ini dilaporkan oleh Antara News pada Desember 2025 sebagai kecaman dari pemerintah Chili terhadap persetujuan pembangunan permukiman baru tersebut.

Di waktu yang sama, serangan pemukim ilegal terhadap warga Palestina kian brutal; CNN Indonesia melaporkan bagaimana kelompok pemukim itu menyerang warga di Tepi Barat dan bahkan mencuri puluhan domba milik penduduk lokal, sebuah gambaran nyata bagaimana kekerasan struktural dan perampasan hak atas tanah terus berlangsung.

Sementara itu, pembicaraan tentang “gencatan senjata”, “solusi dua negara”, bahkan 20 poin kebijakan yang pernah digagas oleh pemerintahan Trump justru berubah menjadi alat legitimasi bagi dominasi Zionis, bukan jalan keluar yang adil. Narasi ini telah dibaca banyak pihak sebagai sebuah konspirasi jahat untuk menutupi agenda perluasan wilayah dan penindasan sistematik terhadap rakyat Palestina. Pernyataan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang mengutuk pengakuan rezim Israel atas wilayah Somaliland menunjukkan betapa luasnya kekhawatiran dunia Muslim terhadap pengakuan sepihak atas wilayah yang bukan milik Zionis.

Realitas ini membawa pada analisis yang tidak bisa ditawar: rezim Isrewel menempuh segala cara untuk merampas dan menguasai seluruh wilayah Palestina, bahkan dengan mengabaikan hukum internasional dan HAM. Hal ini bukan hanya soal wilayah; ini soal arogansi kekuasaan yang mengklaim hak untuk mendominasi politik dan ekonomi global, memberi contoh buruk bagi tatanan dunia yang seharusnya menjunjung martabat manusia.

Dendam dan kebencian terhadap Islam serta umat Islam bukan sekadar istilah retoris. Banyak tindakan dan kebijakan yang mengarah pada marginalisasi bahkan penghilangan hak dasar rakyat Palestina — sebuah fakta nyata yang terus berlangsung setelah apa yang disebut sebagai “penyelesaian” gagal menghasilkan keadilan. Dunia internasional, bahkan negara-negara besar yang mengaku sebagai penjaga tatanan dunia, tak memiliki kemampuan nyata untuk menghentikan tindakan jahat ini. Genosida di Gaza dan penindasan di Tepi Barat terus berlangsung tanpa sanksi yang tegas atau upaya pencegahan yang efektif.

Dalam perspektif Islam, sifat jahat yang merusak di muka bumi telah dinubuatkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Allah berfirman bahwa "Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik..." (TQS. Al-Maidah: 83), sebuah peringatan moral dan spiritual yang harus membuka mata umat Islam atas realitas yang terjadi.

Umat Islam diajarkan untuk tidak ber'wala’ (loyalitas) kepada orang kafir yang secara terang-terangan memusuhi Islam dan menindas kaum Muslim — sebuah prinsip yang dibahas dalam kitab Syakhshiyah 2 bab "hukum memberi loyalitas kepada orang kafir". Loyalitas dalam konteks ini bukan sekedar perasaan, melainkan sikap politik dan moral yang menentukan dukungan terhadap keadilan dan penentangan terhadap penindasan.

Sejarah peradaban Islam mencatat bagaimana Rasulullah SAW bersikap tegas terhadap kekuatan yang memusuhi umat dan mengkhianati perjanjian. Dalam catatan sirah dan kitab Daulah Islam karangan Imam Taqqiyyudin an Nabhani, sikap tegas dan prinsip kedaulatan umat menjadi inti dari cara bagaimana sebuah komunitas bebas melindungi dirinya dari dominasi kekuatan luar.

Dalam perspektif ini, hanya dua solusi: jihad dalam arti perjuangan membebaskan tanah yang dijajah, serta penerapan sistem Khilafah — sebuah struktur pemerintahan Islam yang mempersatukan umat dan menegakkan keadilan tanpa kompromi atas tanah, martabat, dan hak rakyat Palestina. Tanpa landasan politik dan spiritual yang kokoh, upaya pembebasan hanya akan terus berulang sebagai retorika kosong yang dimanfaatkan untuk memperpanjang dominasi kekuatan imperialis.

Setahun setelah klaim penyelesaian, harapan pembebasan yang tulus sekadar ilusi bagi jutaan rakyat Palestina. Dunia telah menyaksikan konspirasi konvensional yang berbalut diplomasi, namun gagal menghadirkan keadilan. Umat Islam dipanggil untuk memahami realitas ini bukan sebagai tragedi yang tak berujung, tetapi sebagai panggilan sejarah untuk bangkit, bersatu, dan kembali pada metode yang menegakkan kebenaran dan kemerdekaan sejati.[]


Oleh: Prayudisti S.P.
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update