Tintasiyasi.id.com -- Stunting masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Tak hanya menghambat pertumbuhan fisik, kecerdasan, produktifitas, namun resiko penyakit kronis sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan kemajuan bangsa.
Meskipun data stunting disebutkan menurun secara nasional, tetapi masih belum mampu terselesaikan hingga ke akarnya.
Program MBG sudah berjalan setahun ini namun masih jauh dari harapan bahkan kian menuai kontra. Terdapat keracunan massal, ompreng mengandung zat babi, SPPG yang tak sesuai standar, menjadikan anggaran besar ini terancam ditiadakan mewarnai MBG. MBG berjalan seperti tidak terarah, rancu dan penuh manipulasi serta rentan korupsi mengakibatkan program ini tidak fokus berjalan.
Mirisnya MBG tetap berjalan saat libur sekolah Desember hingga awal Januari 2026 seakan dipaksakan justru menjadikan program ini terlihat tidak efektif. Direktur Kebijakan publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, mengkritik MBG yang tetap disalurkan padahal sekolah sedang libur.
Ia mengatakan, ada kesalahan sangat signifikan dalam tata kelola MBG, terutama pada saat libur sekolah. Minim pengawasan terhadap mekanisme penyaluran. Terdapat keganjilan sehingga banyak mengkritik kebijakan ini. Jelas ada pihak yang paling diuntungkan dari program yang terus berjalan yaitu dapur SPPG (https://www.kompas.tv/nasional, 26-12-2025).
Kebijakan ini seperti dimanfaatkan, yang harusnya permurid mendapat MBG seharga Rp15.000 namun di beberapa daerah didapati penyalurannya dibawah harga Rp 15.000 membuat para orang tua geram sebab terjadi pengurangan harga. Alhasil dipertanyakan soal keseriusan MBG dan penyaluran saat libur sekolah berakibat muncul persoalan baru.
Program Populis
Sengkarut MBG merupakan program populis Kapitalis yang mementingkan terlaksananya program bukan manfaatnya untuk kemaslahatan rakyat. Keseriusan mengatasi stunting sekedar dinilai dari modal angka dan data, bahkan cenderung manipulasi padahal faktanya masih jauh dari harapan. Penanganan stunting hanya dilihat dari permukaan saja, wajar stunting terus muncul bahkan menjadi ancaman serius.
Meskipun MBG dipaksa terus berjalan namun tetap bukan kepentingan rakyat melainkan penguasa dan pengusaha pihak pengelola dapur SPPG yang merupakan kroni penguasa.
Program MBG menunjukkan bahwa penguasa Kapitalistik tidak amanah terhadap anggaran negara yang strategis. Pengelolaan anggaran didapat dari rakyat harusnya murni untuk rakyat, penguasa tidak boleh mengambil keuntungan darinya. Jelas jauh dari kepentingan rakyat.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik - baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An Nisa : 58).
Gagal Paham Pola Hidup
Sistem Kapitalis menyebabkan gagal paham mengenai pola hidup. Di dalam sistem Kapitalisme lebih mengutamakan keuntungan dari pada kemaslahatan. Sistem ini tidak mengenal halal haram/ Sekuler (memisahkan agama dari kehidupan).
Agama hanya bersifat privat / individu dengan Tuhannya saja, sebaliknya agama dilarang mencampuri urusan dunia. Sistem Kapitalis menganggap agama sebagai penghambat perkembangan dan kemajuan.
Hal ini berdampak pada pandangan hidup manusia. Manusia menjalani aturan tidak berdasarkan pada aturan agama wajar tak sedikit yang salah arah. Lebih dari itu tak mampu atasi berbagai persoalan manusia.
Munculnya stunting akibat dari kebijakan penerapan ekonomi Kapitalis mengakibatkan rakyat susah mendapat pekerjaan, selain pajak yang tinggi, sekolah dan kesehatan mahal, semakin menambah kemiskinan.
Pandangan hidup menjadi kacau. Rakyat bergulat menempuh jalur ekonomi tidak berdasarkan pada aturan agama. Menjual / memperoleh kebutuhan dasar jauh dari thoyyib dan halal.
Sementara itu negara tak peduli dengan apa yang diusahakan rakyatnya. Rakyat tak mampu dibiarkan mencari sendiri kebutuhan hidupnya walaupun harus berhadapan dengan petugas keamanan yang siap menggusur sewaktu-waktu. Rakyat dibuat susah bahkan dari sejak dalam kandungan. Kenyataan membuktikan bahwa kebijakannya hanya populis yang tidak merakyat.
Ditambah minimnya edukasi pada remaja dan calon ibu dalam memahami pandangan hidup menyebabkan salah arah dan tak paham hak dan kewajiban menjadi ibu. Faktanya generasi hari ini kerap disebut sebagai "generasi micin", hampir semua pola hidupnya serba instan menyelimuti dunia mereka.
Karenanya kasus stunting menjadi ancaman oleh karena pandangan hidup yang telah dibentuk sejak awal sangat berpengaruh pada pola hidup di masa yang akan datang. Bermula dari pandangan hidup Kapitalis Sekuler yang diterapkan menghasilkan kegagalan negara mengurus rakyatnya.
Pandangan Islam
Dalam negara Islam -yang menerapkan sistem Islam- bahwa setiap kebijakan adalah untuk kemaslahatan rakyat. Kabijakan harus sesuai syariat Islam. Visi negara adalah raa'in sehingga kebijakan harus dalam rangka melayani kebutuhan rakyat bukan kepentingan pengusaha atau popularitas penguasa.
Sebaliknya hal itu larangan sebab jauh dari makna imamah (kepemimpinan). Kebijakan harus dilandasi iman dan ketakwaan penuh kepada Allah agar terhindar dari sifat rakus dan tamak.
Rakyat butuh penjagaan atas akidah maupun kebutuhan jasmani rakyatnya. Negara Islam harus siap dalam memenuhi kebutuhan gizi sebelum terjadinya stunting, bukan sebaliknya.
Negara wajib melakukan edukasi tentang makanan thoyyib dan halal pada remaja dan calon ibu serta kesiapan pemenuhan kebutuhan ibu dan anak dalam rangka menjamin kesejahteraannya untuk generasi masa depan.
Negara Islam menerapkan sistem ekonomi Islam dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Dengan menyediakan lapangan pekerjaan sehingga rakyat dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarganya dengan baik dan benar.
Menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga yang terjangkau sehingga makanan bergizi dapat diperoleh dengan mudah. Semuanya butuh keseriusan negara dalam mengelola sumber daya alamnya untuk kesejahteraan rakyat apalagi dalam kondisi hari ini yang mana rakyat masih bergelut dengan kebutuhan dasarnya.
Sengkarut stunting dan problem yang melingkupinya akan teratasi sejak dini bahkan tidak lagi menjadi ancaman sebab Khalifah memahami benar apa yang menjadi kewajibannya untuk mengurus rakyat.
Sebab setiap kebijakan yang diambil akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Hal itu mampu diwujudkan hanya dengan penerapan Islam secara kaffah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Wallahu'alam bishshowwab.[]
Oleh: Punky Purboyowati, S.S
(Aktivis Muslimah)