“Sampah sering dipahami sebagai
persoalan teknis—TPA penuh, teknologi daur ulang, atau disiplin
masyarakat—padahal akar sesungguhnya adalah cermin ideologi peradaban yang
gagal menempatkan manusia, alam, dan nilai secaa proporsional,” tegas HILMI kepada
TintaSiyasi.ID dalam Intellectual Opinion No. 037, Rabu
(21/01/2026).
HILMI mengungkapkan bahwa Islam
sejak awal menempatkan kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi moral, bukan
kejadian acak. “Al-Qur’an bahkan mengaitkan kerusakan di darat dan laut dengan
perilaku manusia, bukan dengan keterbatasan teknologi semata,” lugas HILMI.
“Ini menegaskan bahwa krisis
lingkungan, termasuk sampah, adalah krisis moral dan ideologis,” imbuh HILMI.
Dalam tinjauan sistemisnya, HILMI
menjelaskan bahwa persoalan sampah sudah diciptakan sejak tahap produksi.
“Praktik planned obsolescence,
material sulit terurai, dan kemasan berlebihan menunjukkan bahwa orientasi
ekonomi modern adalah percepatan konsumsi, bukan kemaslahatan jangka Panjang,”
ungkapnya.
“Dalam Islam, produksi adalah
amanah. Produsen adalah pemimpin atas dampak produknya dan akan dimintai
pertanggungjawaban,” jelasnya.
HILMI menilai produksi yang
secara zat halal tetapi berdampak merusak lingkungan tidak memenuhi prinsip tayib.
“Keuntungan ekonomi tidak bisa
dilepaskan dari tanggung jawab sosial dan ekologis. Sampah adalah bukti
material dari kegagalan menjaga amanah,” tandas HILMI.[] Rere
