Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI Sebut Masalah Sampah Lahir dari Sistem yang Menuntut Pertumbuhan Tanpa Batas

Senin, 26 Januari 2026 | 15:40 WIB Last Updated 2026-01-26T08:40:33Z

TintaSiyasi.id -- Akar terdalam krisis sampah, menurut Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) tidaklah berdiri sendiri, tetapi lahir dari budaya konsumsi berlebihan dan sistem yang menuntut pertumbuhan tanpa batas

 

“Masalah sampah tidak berdiri sendiri, tetapi lahir dari budaya konsumsi berlebihan dan sistem yang menuntut pertumbuhan tanpa batas,” lugas HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Rabu (21/01/2026).

 

HILMI menjelaskan di dalam Intellectual Opinion No. 037 yang dirilisnya bahwa Islam memandang konsumsi secara tegas melalui konsep kanaah dan larangan israf serta tabzir.

 

“Budaya modern, sebaliknya, mendorong pembelian berbasis identitas, gengsi, dan tren, bukan kebutuhan riil,” bebernya.

 

“Barang dibuang bukan karena rusak, tetapi karena tidak lagi tren. Di sinilah sampah menjadi bukti hilangnya pengendalian diri,” ulasnya.

 

Lebih jauh, HILMI mengkritik sistem ekonomi global yang menjadikan pertumbuhan sebagai tujuan utama, meski harus dibayar dengan kerusakan lingkungan.

 

“Sistem semacam ini kehilangan hikmah karena bergantung pada produksi sampah agar tetap berjalan,” sebutnya.

 

“Daur ulang penting, tetapi tidak cukup jika hanya menjadi pembenaran untuk terus memproduksi dan mengonsumsi secara berlebihan,” sebut HILMI.

 

Menurut HILMI, solusi teknis tanpa perubahan nilai hanya akan memindahkan masalah. “Tanpa pergeseran paradigma, teknologi dan regulasi tidak menyentuh akar persoalan,” tandasnya.

 

“Islam menawarkan paradigma khalifah, amanah, dan keseimbangan melalui maqāṣid al-syarī‘ah, di mana menjaga lingkungan adalah prasyarat menjaga kehidupan,” jelasnya.

 

“Sampah adalah muhasabah peradaban, penanda sejauh mana manusia lupa bahwa bumi bukan miliknya, melainkan titipan Allah,” simpul HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update