Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Renungan: Jika Ingin Bermaksiat, Carilah Tempat yang Tak Terlihat oleh Siapa pun

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:38 WIB Last Updated 2026-01-02T06:38:48Z
Renungan tentang Muraqabah, Rasa Malu kepada Allah, dan Jalan Kembali Menuju Kesucian Hati

Pendahuluan: Kalimat Pendek yang Mengguncang Iman

TintaSiyasi.id -- Ada satu ungkapan sederhana, namun tajam menembus relung jiwa: “Jika ingin bermaksiat, carilah tempat yang tak terlihat oleh siapa pun.”

Kalimat ini bukan ajakan kepada dosa,
melainkan tamparan kesadaran iman yang membangunkan hati yang lalai.

Sebab ketika kalimat ini dihadapkan pada akidah tauhid, muncullah pertanyaan besar yang tak mungkin dijawab oleh siapa pun:
Bukankah Allah Maha Melihat?
Bukankah Allah Maha Mendengar?
Bukankah Allah Maha Mengetahui?
Jika demikian, di manakah tempat itu berada?

Ilusi Persembunyian: Ketika Manusia Lupa kepada Allah

Manusia sering merasa aman saat:
• pintu tertutup,
• suasana sepi,
• tidak ada manusia yang melihat,
• dan dosa bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Padahal yang sesungguhnya terjadi bukanlah ketiadaan pengawasan,
melainkan hilangnya kesadaran akan kehadiran Allah.

Allah berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al-Hadid: 4)

Ayat ini menghancurkan seluruh ilusi:
tidak ada ruang gelap, tidak ada waktu lengah, dan tidak ada satu sudut pun di alam ini yang luput dari pandangan Allah.

Maksiat Bukan Soal Tempat, tetapi Soal Hati

Sesungguhnya maksiat tidak terjadi karena tempatnya tersembunyi,
melainkan karena hati kehilangan muraqabah.

Jika hati sadar bahwa Allah sedang melihatnya, maka tangan akan terhenti, langkah akan tertahan, dan dosa akan terasa berat meski peluang terbuka lebar. Sebaliknya, jika iman melemah, maka dosa terasa ringan meski dilakukan di hadapan Allah. Inilah penyakit hati yang sangat berbahaya: malu kepada manusia, tetapi berani kepada Allah.

Muraqabah: Kesadaran yang Menghidupkan Takwa

Dalam khazanah tasawuf Islam, kesadaran ini disebut muraqabah: merasakan pengawasan Allah setiap saat.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata: “Pokok segala kebaikan adalah pengetahuan bahwa Allah melihatmu.”

Muraqabah melahirkan:
• ketakwaan yang konsisten,
• keikhlasan dalam amal,
• rasa malu dalam maksiat,
• dan kesiapan untuk segera bertaubat ketika tergelincir.

Orang yang hidup dengan muraqabah tidak membutuhkan: kamera pengawas, ancaman hukuman, atau sorotan manusia, karena hatinya telah dijaga oleh iman.

Allah Maha Mengetahui yang Tersembunyi
Allah tidak hanya mengetahui yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi di balik dada.

Allah berfirman: “Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS Thaha: 7)

Bahkan niat maksiat yang belum dilakukan pun berada dalam ilmu Allah. Maka bagaimana mungkin seorang hamba berani merencanakan dosa, sementara ia tahu Allah sedang menyimak bisikan hatinya?

Rasa Malu: Akhlak Tertinggi Orang Beriman

Rasulullah ﷺ bersabda: “Malu itu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malu kepada Allah bukan sekadar takut akan siksa, melainkan kesadaran bahwa: Allah menutup aib kita, memberi rezeki tanpa henti, memanjangkan umur, dan tetap membuka pintu taubat.

Jika rasa takut belum mampu menahan diri, maka malulah kepada Allah.

Jika Terjatuh, Jangan Putus Asa
Islam bukan agama yang menutup pintu bagi pendosa, tetapi agama yang menutup pintu keputusasaan.

Allah berfirman:
۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ  

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Az-Zumar: 53)

Orang beriman bukanlah yang tidak pernah bermaksiat, tetapi yang tidak betah tinggal dalam dosa.

Ia segera kembali kepada Allah
dengan penyesalan, dengan taubat, dan dengan tekad memperbaiki diri.

Renungan Penutup: Di Mana Engkau Akan Bersembunyi?

Jika engkau ingin bermaksiat,
carilah tempat yang tak terlihat oleh siapa pun.

Namun jika engkau mengenal Allah,
engkau akan sadar bahwa:
langit adalah ciptaan-Nya,
bumi adalah milik-Nya,
gelap dan terang berada dalam kuasa-Nya,
dan hatimu pun dalam genggaman-Nya.

Maka di mana engkau akan bersembunyi?
Lebih baik carilah:
• tempat taubat,
• waktu munajat,
• dan jalan kembali kepada Allah.
Karena Allah Maha Melihat,
namun Dia juga Maha Pengampun.

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang malu bermaksiat ketika sendiri,
dan cepat kembali kepada-Mu ketika tergelincir.”


Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update