Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rajab, Isra Mikraj, dan Kewajiban Membumikan Syariat

Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:33 WIB Last Updated 2026-01-17T02:38:04Z
TintaSiyasi.id -- Bulan Rajab menempati posisi istimewa dalam kalender kaum Muslim. Di bulan inilah terjadi peristiwa agung Isra’ Mi’raj, perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini kerap diperingati umat Islam sebagai momentum spiritual yang identik dengan turunnya perintah shalat. Namun, pemaknaan Isra’ Mi’raj sejatinya tidak boleh berhenti pada ritual ibadah semata.

Faktanya, Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan fisik Rasulullah ﷺ dan kewajiban shalat lima waktu. Tak lama setelah peristiwa ini, sejarah mencatat terjadinya Baiat Aqabah Kedua—sebuah peristiwa politik yang menentukan arah perjuangan Islam. Baiat ini menandai kesiapan kaum Anshar untuk melindungi Rasulullah ﷺ dan menegakkan Islam sebagai sistem kehidupan. Artinya, Isra’ Mi’raj adalah gerbang perubahan besar umat, bukan hanya spiritual, tetapi juga ideologis dan politis.

Sayangnya, selama lebih dari satu abad pascaruntuhnya Khilafah Islamiyah—sekitar 102 tahun yang lalu—umat Islam hidup tanpa penerapan hukum dari langit secara kaffah. Syariat Islam tercerabut dari kehidupan publik dan digantikan oleh sistem buatan manusia yang bertumpu pada sekularisme dan demokrasi kapitalistik.

Isra’ Mi’raj dan Makna Menegakkan Shalat
Hikmah Isra’ Mi’raj hari ini banyak direduksi sebatas kewajiban shalat sebagai ibadah mahdhah. Padahal, dalam banyak nash, shalat memiliki makna yang jauh lebih luas. Dalam hadis tentang larangan memerangi imam selama mereka “menegakkan shalat”, para ulama menjelaskan bahwa makna menegakkan shalat adalah menegakkan hukum Allah secara menyeluruh.

Ketika umat hanya memahami shalat sebagai ritual individual, sementara hukum Allah disingkirkan dari sistem pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan peradilan, maka hakikat Isra’ Mi’raj telah direduksi. Lebih dari itu, penerapan sistem sekuler demokrasi secara global sejatinya merupakan bentuk penentangan terhadap hukum dari langit. Kedaulatan tidak lagi berada di tangan syariat, tetapi di tangan manusia, mayoritas, dan kepentingan modal.

Ditinggalkannya syariat Islam telah melahirkan bencana politik dan ekonomi struktural, ketimpangan sosial yang parah, krisis kemanusiaan berkepanjangan, bahkan kerusakan alam yang masif. Runtuhnya Khilafah adalah bencana besar bagi umat Islam dan dunia. Sejak saat itu, umat manusia dipaksa tunduk pada kepemimpinan kapitalisme global yang rakus, zalim, dan tidak berperikemanusiaan.

Membumikan Kembali Hukum Langit

Rajab dan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momen refleksi dan kebangkitan: saatnya membumikan kembali hukum Allah dari langit ke bumi. Caranya bukan dengan kosmetik spiritual, tetapi dengan mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Masjidil Aqsha—tempat Rasulullah ﷺ memulai perjalanan Isra’ Mi’raj—hari ini berada di bawah penjajahan entitas Yahudi. Palestina terus berdarah, sementara dunia Islam terpecah menjadi negara-negara lemah tanpa pelindung sejati. Kezaliman terhadap kaum Muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina Selatan terus berlangsung tanpa pembelaan nyata. Semua ini adalah konsekuensi absennya satu kepemimpinan Islam yang mempersatukan dan melindungi umat.

Karena itu, seruan kepada tentara-tentara Muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah adalah seruan yang sah, mendesak, dan ideologis. Umat Islam bukan umat lemah. Mereka adalah umat Rasulullah ﷺ, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al-Mu‘tasim, cucu Shalahuddin Al-Ayyubi, cucu Muhammad Al-Fatih, cucu para khalifah Utsmani hingga Abdul Hamid II. Sejarah telah membuktikan, umat ini mampu mengubah wajah dunia ketika dipimpin oleh Islam.

Hari ini, partai Islam ideologis terus berjuang siang dan malam, memimpin dan membimbing umat agar kembali melanjutkan kehidupan Islam. Menegakkan Khilafah bukanlah perjuangan pinggiran, melainkan perjuangan pokok, agung, penting, dan vital. Inilah jalan untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan memuliakan umat manusia dengan keadilan hukum dari langit.
Rajab dan Isra’ Mi’raj bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah seruan langit agar umat Islam bangkit, bersatu, dan menjemput kembali kepemimpinan Islam atas dunia.


Oleh: Nur Hidayah
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update