TintaSiyasi.id -- Tragedi kemanusiaan di Palestina bukanlah peristiwa sesaat, melainkan luka panjang yang terus menganga di hadapan dunia. Dari generasi ke generasi, rakyat Palestina hidup di bawah bayang-bayang penjajahan, kekerasan, dan pengusiran sistematis. Pertanyaannya: sampai kapan penderitaan ini dibiarkan berlangsung?
Fakta yang Tak Terbantahkan
Pertama, rezim Israel secara konsisten melakukan serangan militer, pembunuhan warga sipil, serta pencaplokan wilayah Palestina. Semua itu bukan insiden sporadis, melainkan bagian dari kebijakan terstruktur untuk menghapus eksistensi Palestina. Dunia menyaksikan, namun kejahatan itu terus berulang.
Kedua, Israel bahkan melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina. Artinya, bukan hanya nyawa yang direnggut, tetapi bantuan untuk sekadar bertahan hidup pun dihalangi. Ini menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina memang sengaja dipelihara.
Analisis Akar Masalah
Penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui maupun tidak oleh dunia internasional. Sebab, sejak awal berdirinya, Israel dibangun di atas penjajahan dan perampasan hak rakyat Palestina.
Israel juga tidak pernah menyembunyikan cita-citanya untuk mewujudkan “Israel Raya” serta memperluas pengaruh politik dan ekonomi global dengan segala cara. Selama ambisi ini tidak dihentikan, maka agresi dan penjajahan akan terus berlanjut.
Karena itu, membiarkan Israel tetap eksis sama saja dengan membiarkan Palestina menderita selamanya. Berbagai tawaran penyelesaian konflik yang dipimpin Amerika Serikat terbukti tidak pernah berpihak pada Palestina. Sebaliknya, solusi-solusi tersebut justru memposisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang semakin dalam dengan dalih perdamaian semu.
Mengutuk Israel atau memohon agar mereka membuka akses bantuan kemanusiaan jelas tidak cukup. Itu hanya reaksi moral yang tidak menyentuh akar persoalan. Selama penjajahnya tetap berdiri kokoh, penderitaan tidak akan berakhir.
Konstruksi Solusi yang Hakiki
Pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim yang terus berkompromi dengan kepentingan penjajah harus dihentikan. Pada saat yang sama, kesadaran kaum Muslimin untuk bangkit dan bersatu dalam satu kepemimpinan Islam harus terus dikobarkan.
Umat Islam perlu diyakinkan bahwa penderitaan Palestina baru akan benar-benar berakhir jika ada negara adidaya Khilafah yang berfungsi sebagai junnah (perisai), yang melindungi darah, tanah, dan kehormatan kaum Muslimin.
Karena itu, perjuangan menegakkan Khilafah Islam harus terus didorong dan dikuatkan di tengah umat dan dunia internasional sebagai solusi politik yang nyata, bukan sekadar slogan kemanusiaan.
Akhirnya, umat Islam harus terus diingatkan bahwa Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan tanah milik umat Islam yang dijajah. Membela Palestina berarti membela akidah, sejarah, dan kehormatan umat itu sendiri. Selama akar masalah tidak diselesaikan, maka pertanyaan “kapan penderitaan Palestina berakhir?” akan terus menggema—dan jawabannya akan tetap sama: belum, selama penjajahan masih dipertahankan.
Oleh: Nur Hidayah
(Aktivis Muslimah)