TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ketika Dunia Menjadi Ujian, Bukan Tujuan
Di antara penyakit paling halus yang menjangkiti manusia modern adalah tertipu oleh nikmat. Harta, jabatan, ilmu, dan popularitas, semuanya bisa menjadi jembatan menuju Allah, tetapi juga bisa berubah menjadi tirai yang menghalangi. Al-Qur’an, dengan kelembutannya tidak mematikan dunia. Ia meluruskannya. Dan salah satu ayat yang paling jernih menata orientasi hidup adalah QS. Al-Qashash ayat 77.
Ayat ini turun dalam rangkaian kisah Qarun. Sebuah potret klasik tentang manusia yang diberi banyak, tetapi lupa kepada Sang Pemberi. Maka, Al-Qur’an hadir bukan untuk mencela kekayaan, melainkan menyelamatkan pemiliknya.
Ayat Penyeimbang: Dunia di Tangan, Akhirat di Hati
Allah berfirman (maknanya):
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat ini menyuguhkan peta hidup yang lengkap, tidak timpang, tidak ekstrem, tidak rapuh. Di dalamnya terdapat empat perintah agung dan satu larangan fundamental.
Pertama: Orientasi Akhirat sebagai Kompas Hidup
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat.”
Akhirat bukan sekadar keyakinan. Ia kompas. Siapa yang menjadikan akhirat sebagai arah, dunia akan tertata. Namun, siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, akhirat akan terabaikan.
Harta, ilmu, waktu, dan kekuasaan, semuanya netral. Nilainya ditentukan oleh ke mana ia diarahkan. Maka, orang beriman bukan meninggalkan dunia, tetapi menjadikannya kendaraan menuju Allah.
Kedua: Islam Tidak Memusuhi Dunia
“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
Ini adalah bantahan halus terhadap dua ekstrem:
yang menuhankan dunia,
dan yang mematikan dunia atas nama agama.
Islam mengajarkan kewajaran: makan yang halal, hidup yang layak, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menikmati nikmat tanpa melampaui batas. Dunia bukan musuh, ketergantungan padanya yang berbahaya.
Zuhud bukan berarti miskin, melainkan tidak diperbudak.
Ketiga: Berbuat Baik sebagai Buah Syukur
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
Nikmat Allah bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi diteruskan. Kebaikan yang berhenti pada diri sendiri akan berubah menjadi beban hisab.
Orang yang benar-benar bersyukur akan bertanya:
“Dengan nikmat ini, kebaikan apa yang bisa aku hadirkan?”
Kedermawanan, keadilan, empati, dan pelayanan. Itulah bahasa syukur yang hidup.
Keempat: Larangan Merusak, Pesan Moral Sepanjang Zaman
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Kerusakan tidak selalu berbentuk kekerasan. Ia bisa hadir dalam:
keserakahan yang memiskinkan
kekuasaan yang menindas
ilmu yang disalahgunakan
agama yang dijadikan alat pembenar
Allah menegaskan: Dia tidak mencintai para perusak sebab agama ini diturunkan untuk memakmurkan, bukan menghancurkan.
Refleksi Ruhani: Nikmat adalah Amanah
Ayat ini mengajarkan tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa melalui kesadaran:
bahwa nikmat adalah titipan
hidup adalah ladang amal
dan kesuksesan sejati bukan pada banyaknya kepemilikan, tetapi kedalaman makna.
Dunia yang berada di tangan akan menolong, sedangkan dunia yang masuk ke hati akan membelenggu.
Relevansi untuk Umat Hari Ini
Di tengah krisis moral, ekonomi, dan spiritual, QS. Al-Qashash: 77 hadir sebagai obat penyeimbang:
bagi pemimpin agar adil
bagi orang kaya agar dermawan
bagi ulama agar membumi
bagi generasi muda agar berorientasi makna.
Ayat ini menolak korupsi tanpa mematikan produktivitas, menolak hedonisme tanpa mematikan kebahagiaan.
Penutup: Hidup yang Berbuah, Bukan Merusak
QS. Al-Qashash ayat 77 mengajak kita menjalani hidup yang berbuah kebaikan.
Bukan hidup yang hanya sibuk mengumpulkan, tetapi lupa menunaikan.
Bukan hidup yang memamerkan nikmat, tetapi menyebarkan manfaat.
Carilah akhirat dengan dunia
nikmati dunia tanpa melupakan Allah
tebarkan kebaikan
dan jangan pernah menjadi sebab kerusakan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai menata nikmat,
sehingga dunia mengantar kita pulang dengan wajah yang diridhai-Nya.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis 38 judul buku, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM. Coach Pengusaha Hijrah