Tintasiyasi.id.com -- Pertikaian antara guru dengan murid saat ini menjadi sesuatu yang "nampak normal" terjadi. Seperti kejadian viral baru-baru ini di sebuah SMK di Jambi, dimana seorang guru dikeroyok beberapa murid.
Menurut versi guru, kasus ini terjadi diduga karena ada siswa yang meneriakkan kata kurang sopan pada sang guru, kemudian guru menampar siswanya. Sedangkan versi murid, gurunya sering menggunakan kata yang kasar dan menghina siswa dan orang tua, misalkan menggunakan kata bodoh dan miskin.
Bapak Ranto selaku Kepala Sekolah SMK terkait menyampaikan "sudah melaksanakan mediasi yang diikuti oleh Pak Kapolsek, Pak Babinsa, Pak Kanit beserta jajarannya, serta kita turut mengundang Pak Camat, Pak Lurah, ketua komite, beserta siswa dan guru." (Kompas.TV, 20 Januari 2026).
Fenomena guru yang bertingkai dengan muridnya tentu bukan karena emosi sesaat dan konflik pribadi semata. Dan kasus di Jambi semakin menambah daftar problem di dunia pendidikan yang sedang sakit.
Hubungan antara guru dengan murid yang harusnya didasari dengan rasa hormat, keteladanan dan perkataan yang baik, saat ini justru menjadi hubungan yang penuh kebencian, konflik dan bahkan kekerasan.
Jujur kita harus mengakui bahwa saat ini banyak lahir murid yang ringan berkata tidak sopan dan kasar. Kondisi di dunia pendidikan ini semakin memprihatinkan, karena harus diakui juga ada guru yang sering menghina dan melabeli muridnya.
Dan tentu saja kata-kata hinaan akan nyata menggores mental anak didik. Inilah bukti nyata ketika pendidikan dijauhkan dari pengaturan agama Islam, maka sikap dan akhlaq yang nampak dari guru dan siswa adalah akhlaq buruk dan nir-adab.
Pendidikan Dengan Panduan Islam
Dalam Islam dikenal “Adab sebelum ilmu” yang maknanya yaitu pelajarilah ilmu tentang adab (tata krama, etika menuntut ilmu, etika kepada Allah, dan etika pada guru) sebelum mempelajari ilmu-ilmu syar’i lainnya.
Adab sebelum ilmu akan menjadi pondasi kuat untuk para guru maupun para murid ketika akan menimba ilmu.
Menurut Hadratusy Syaikh KH.
Hasyim Asy‘ari -- "ilmu tidak akan memberi manfaat dan berkah jika tidak disertai adab. Ilmu tanpa adab seperti api tanpa cahaya, bahkan bisa menyesatkan". Maka dari itu, seorang murid haruslah memuliakan gurunya.
“Barang siapa tidak memuliakan gurunya, maka ia tidak akan memperoleh keberkahan ilmunya.”
Bahkan para salaf memberikan nasihat -- “Hendaklah diammu lebih banyak daripada bicaramu.”
Hendaklah murid diam dan menyimak dengan mendalam saat guru memberikan pelajaran. Jangan sampai menjadi murid yang banyak bicara, dan ingin segera berkomentar (karena ingin terlihat lebih hebat dibanding gurunya).
Karena ini ibaratnya jendela hatinya (murid) telah tertutup. Padahal ilmu hanya bisa masuk ke hati yang lapang dan tidak sombong.
Bahkan perkara membuka lembaran kitab pun, para ulama telah memberikan teladan adab yang luarbiasa.
Imam Syafi’i berkata tentang gurunya, Imam Malik, “Aku membuka kitab di hadapannya dengan pelan karena segan padanya. Aku tidak berani membalik lembaran dengan cepat karena aku menghormatinya.”
Selain adab murid pada guru, dalam Islam juga terdapat adab guru terhadap muridnya.
Imam Al Ghazali menjelaskan adab guru terhadap muridnya diantaranya : banyak bersabar, lambat marah, duduk dengan kewibawaan, meninggalkan sifat sombong dan takabur, memberikan kasih sayang dan lembut pada murid yang tidak terlalu pandai, dan lainnya.
Sungguh inilah kesempurnaan panduan Islam dalam mengajarkan adab baik untuk murid maupun untuk para guru. Selain itu, para gurupun harus memberikan teladan yang benar, sehingga dia tidak hanya "piawai" mengajar tapi juga mengamalkan ilmu yang diajarkan.
Selain adab, maka negara sebagai pengurus urusan umat akan memastikan dunia pendidikan menggunakan kurikulum dengan menjadikan aqidah Islam sebagai landasannya. Dengan begitu setiap mata pelajaran akan diarahkan untuk membina dan membentuk kepribadian Islam pada generasi.
Tentu ini sangat berbeda dengan kurikulum sekuler yang tidak menjadikan Islam sebagai panduan. Dan terbukti kurikulum sekuler yang diterapkan saat ini justru mencetak generasi yang tujuannya hanya untuk memenuhi standar kompetensi pasar (pekerjaan).
Besar harapan umat, agar dunia pendidikan dijalankan sesuai dengan panduan syariah Islam, sehingga akan lahir guru-guru yang bertakwa, dan murid-murid yang cerdas dan juga berakhlaq mulia.[]
Oleh: Dahlia Kumalasari
(Pendidik)