Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pendobrak Perubahan pada Pemuda dan Kaum Ibu

Sabtu, 03 Januari 2026 | 18:17 WIB Last Updated 2026-01-03T11:17:48Z

TintaSiyasi.id -- Sekularisme yang melingkupi kehidupan selama ini, semakin terasa memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Pemuda, pihak yang digadang-gadang menjadi pelopor dan tulang punggung perubahan terkena imbasnya juga. Sekularisme menjadikan nilai agama jauh dari berbagai urusan masyarakat sehingga agama dipandang sebagai urusan pribadi, bukan lagi pedoman utama dalam kehidupan sosial. Hal tersebut sangat mempengaruhi pemuda dalam memaknai hidupnya. Sebagian besar pemuda menjalani hidup sesuai dengan gaya yang mereka senangi, mengikuti trend yang sedang hangat di kalangan mereka, tanpa melihat lebih dalam, hal yang mereka lakukan tersebut benar atau salah, aman atau berbahaya. Fenomena ini menjadikan pemuda sangat mudah kehilangan jati dirinya.

Sementara itu, digitalisasi -perwujudan perkembangan teknologi dalam kehidupan ini– berkontribusi banyak bagi pemuda dalam menjalani kehidupannya. Digitalisasi mengubah cara berpikir pemuda dalam menentukan identitasnya. Di sinilah hal penting yang perlu dicermati. Digitalisasi merupakan sarana bagi siapa pun termasuk pemuda untuk mengakses berbagai informasi, baik sesuai fakta ataupun hoaks. Ketika digitalisasi bertemu dengan sekularisasi, nyatalah kerusakan di depan mata. Ditemukan kasus di Magelang beberapa waktu lalu tentang terjadinya kasus-kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan anak-anak muda yang ternyata bermula dari interaksi di sosial media. Kasus ibu sebagai korban kehidupan sekuler kapitalis juga tampak di Magelang, bulan Desember ini. Dikabarkan dalam kumparan.com bahwa seorang ibu dan anaknya diculik oleh debt collector karena menunggak pembayaran kredit sepeda motor selama 8 bulan.

Kejadian-kejadian tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa digitalisasi akan menjadi sesuatu yang merusak jika berjalan dalam kehidupan sekuler kapitalis. Digitalisasi tanpa landasan nilai Ilahi memungkinkan masyarakat, khususnya pemuda dan ibu menjadi korban keganasannya. Pemuda tumbuh menjadi pribadi yang tidak mengenal penciptanya secara mendalam sehingga melangkah semau mereka dalam kehidupan ini. Pikiran mereka hanya berorientasi pada kesenangan dan materi karena memang nuansa kehidupan saat ini menggiring mereka ke arah hedonis. Di sisi lain, para ibu juga disibukkan dengan aktivitas pribadinya baik yang menunjang ekonomi keluarga ataupun sekedar mengikuti gaya hidup sosialita di dunia nyata ataupun digital. Efek buruk terlihat dalam terbengkalainya tugas ibu sebagai pendidik dan pengurus rumah tangga. Anak-anak tumbuh tanpa arah sehingga mereka mencari kenyamanan masing-masing.  

Kapitalisme selalu berorientasi materi dalam segala hal. Negara kapitalis memandang pemuda dan ibu sebagai objek komersial. Mereka memanfaatkan segala celah untuk mendapatkan keuntungan. Berbagai kebijakan ditempuh untuk meraih tujuan tersebut. Target mereka adalah ekonomi bertumbuh, namun tak ada pantauan untuk keamanan diri serta mental dalam keimanan masyarakat. Hasilnya, masyarakat tampak jelas mengikuti perkembangan kehidupan dengan teknologi dan cara hidup kekinian tetapi keimanan, jati diri, harga diri tergadaikan. Karenanya, mengadopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara merupakan keputusan yang tidak tepat. Kesalahan dalam mengambil kebijakan ini mendatangkan banyak kegusaran di masyarakat.

Jemaah Dakwah Islam Ideologis, Nadi Perubahan

Kondisi masyarakat yang rusak karena sistem kehidupan sekuler kapitalis, hanya bisa diperbaiki dengan pembinaan mendasar, yang mampu memberikan perubahan pemikiran bagi masyarakat. Oleh karena itu sangat penting hadirnya jemaah dakwah ideologi di tengah masyarakat saat ini. Jemaah dakwah inilah yang akan membina pemuda dan kaum ibu hingga menjadi pribadi unggul yang menggunakan Islam sebagai landasan hidupnya. Mereka akan dibina hingga paham Islam dan menerapkannya dalam kehidupan serta turut memperjuangkan Islam. Dakwah Islam ideologis memungkinkan pemuda dan kaum ibu merubah cara berpikirnya secara menyeluruh. Berawal dari pemikiran yang berubah dengan standar Islam, diharapkan pemuda dan kaum ibu akan menyesuaikan semua hal yang mereka lakukan dengan nilai-nilai Ilahi. 

Pembinaan merupakan cara yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. untuk membina para sahabat hingga menjadi pembela Islam yang ulung. Pembinaan (tasqif) adalah tahapan awal metode dakwah Rasulullah, berlanjut dengan interaksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah) dan penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebaai sistem kehidupan (istilamul hukmi).

Inilah poin penting yang dibutuhkan masyarakat saat ini terhadap jemaah dakwah Islam ideologis. Pemuda dan kaum ibu sangat membutuhkan pembinaan mendasar yang akan menjadikan mereka berkepribadian Islam dan mau memperjuangkannya dalam kehidupan ini. Allah berfirman dalam QS Ali Imron ayat 104 yang artinya, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Jemaah dakwah Islam ideologis sungguh akan berkolaborasi dengan negara dalam membina masyarakat. Kerjasama dua pihak ini akan mampu menangkal pengaruh-pengaruh negatif yang muncul di masyarakat sebagai efek perkembangan kehidupan yang selalu terjadi. Ketika negara melalui kebijakannya menggiring masyarakat untuk mengikuti pembinaan oleh jemaah dakwah ideologis dan jemaah dakwah ini memberikan pembinaan Islam kaffah secara intensif dan berkesinambungan kepada masyarakat, khususnya pemuda dan kaum ibu, tentu akan menghasilkan anggota masyarakat yang paham nilai-nilai Islam secara ide dan penerapannya. Dengan demikian, dalam masyarakat akan timbul pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama, yaitu berlandaskan Islam. Tak akan lagi masyarakat mempunyai berbagai penilaian terhadap segala sesuatu. Dengan pembinaan ideologis itu, masyarakat menjadi homogen dalam menilai segala hal. Benar atau salah, aman atau berbahaya, semuanya dinilai dengan standar Islam.

Demikianlah, ketika pemikiran pemuda dan kaum ibu sudah tepat, selalu menggunakan Islam sebaai landasannya, perubahan pasti akan dilakukan untuk memperbaiki kondisi masyarakat saat ini. Semua anggota masyarakat akan bekerjasama mewujudkan kehidupan yang harmonis dan membahagiakan serta mensejahterakan dengan Islam. Allah berfirman dalam QS Al A’raf ayat 96 yang artinya, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan betakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang mereka kerjakan.” []


Oleh: Dewi Susanti
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update