TintaSiyasi.id -- Ulama Jawa Barat Ustaz Eri Taufiq Abdul Kharim, mengatakan, pemimpin yang tumbuh dalam demokrasi tidal menyisakan apa-apa kecuali hanya berpikir memperkaya diri sendiri.
"Pemimpin-pemimpin yang tumbuh di alam demokrasi itu tidak lagi menyisakan apa-apa, kecuali mereka akan menjadi pemimpin yang berpikir hanya untuk memperkaya diri sendiri," ungkapnya di Spesial Interview, Krisis Kepemimpinan - Islam Solusinya, di akun YouTube Rayah TV. Senin (5/1/2026).
Dia mengungkapkan, inilah yang terjadi hari ini, makanya pemimpin haribini tidak ada sense of crisis sama sekali. Para pemimpin dan pejabat makan-makan dengan hidangan yang mewah,sementara di Sumatera yang menjadi tanggung jawab mereka, orangnya sampai tidak dapat makan. istrik, air, nir empati banget, karakter kepemimpinan seperti ini muncul gitu ya jadi kalau menurut saya itu penyebabnya," tambahnya.
Ia mengutip buku yang ditulis oleh George Maxwell tentang karakter kepemimpinan itu adalah born and create, pemimpin dilahirkan dan dibentuk. Tetapi, dalam konteks demokrasi, yang terjadi adalah bagi-bagi kekuasaan.
"Misalnya seorang terpilih menjadi presiden kemudian dia punya tim sukses ketika kampanye. Nah orang-orang seperti inilah yang kemudian diharapkan nantinya mereka mengharapkan dapat jatah kursi jabatan," ujarnya.
Sehingga, ketika pemimpin diuji dengan ujian berat seperti bencana, justru kepemimpinan apakah muncul atau tidak.
"Persoalan Aceh kalau menurut saya pesan dari Allah Bahwa kalian punya pemimpin seperti ini diuji dengan cara seperti ini, gimana kamu ngelihat karakter kepemimpinannya dan ternyata hampir semua mengecewakan kondisinya" ungkapnya.
Padahal, kata Eri para penguasa hari ini pasti melakukan pelatihan (kepemimpinan) dan sebagainya, serta doktrin-doktrin kepemimpinan sudah disampaikan. Harusnya sudah siap dengan semua literasi kepemimpinan, cuman kepemimpinan itu bukan sekedar literasi tetapi bagaimana dia memimpin dengan tindakan, kalau menurut saya kepemimpinan itu akan muncul dalam krisis, kita akan mengerti bahwa orang ini layak untuk jadi pemimpin, orang ini memang enggak layak menjadi pemimpin," jelasnya.
Ia mencontohkan, ketika bencana Bupati Aceh Selatan malah umroh. Sesuatu enggak pas. lebih simpati ke gubernur Aceh Mualem betul-betul turun ke sana (lokasi bencana), makan bersama rakyatnya, nangis bersama, hanya saja penuh keterbatasan enggak bisa mengatasi sendiri. Sehingga ada usulan untuk meminta bantuan luar negeri. Karena dari Jakarta enggak dapat bantuannya.
"Saya pikir wajar karena hopples juga melihat kondisi masyarakat seperti itu, dia udah berusaha untuk masuk ke masyarakatnya nolongin masyarakatnya ternyata enggak dapat bantuan dari pusat seperti yang diinginkan, akhirnya muncul usulan seperti itu, kemudian minta bantuan keluar negeri tapi ini juga jadi masalah lagi, pusat enggak pengin (ada bantuan) sehingga beberapa bantuan dari luar negeri itu akhirnya kan ditolak, walaupun ada diterima oleh Muhammadiyah dan sebagainya gitu, diterimanya malah oleh NGO (Non-Governmental Organization) bukan oleh pihak yang bertanggung jawab di sana gitu, jadi ini nih problem kepemimpinan," pungkasnya.[] Alfia