Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemimpin Negara Dunia Ketiga Disetir Para Pemilik Modal

Senin, 19 Januari 2026 | 17:43 WIB Last Updated 2026-01-19T10:43:08Z

TintaSiyasi.id -- Ulama Jawa Barat Ustaz Eri Taufiq Abdul Kharim, menjelaskan bawah dalam sistem demokrasi, pemimpin negara dunia ketiga disetir para pemilik modal.

"Negara-negara dunia ketiga lebih repot lagi karena mereka pemimpin-pemimpin boneka sebenarnya, yang tidak punya ideologi apapun, kecuali diarahkan saja oleh para pemilik modal," ungkapnya di Spesial Interview, Krisis Kepemimpinan - Islam Solusinya, di akun YouTube Rayah TV. Senin (5/1/2026).

Ia memaparkan dalam kajian-kajian kepemimpinan, George Maxwell mengatakan bahwa hukum pertama kepemimpinan adalah keyakinan. Seorang akan jadi hebat akan jadi besar kalau memang dia punya keyakinan, visi besar sebagai pemimpin. 

"Nah kalau bahasa kita visi besarnya ideologi itu yang akan dijadikan dia besar, celakanya ini tidak kita temukan di para pemimpin di negara dunia ketiga, utamanya negara-negara yang dikuasai oleh oligarki karena pemimpinnya justru disetir, diarahkan oleh para pemilik modal sehingga yang muncul pemimpin-pemimpin yang menyenangkan (pemilik modal), jadi bukan kepemimpinan yang betul-betul yakin dengan keyakinan, visi besar dia, kalau ada yang menghambat visi besarnya kita selesaikan hambatan-hambatan ini (bencana), 

Ia mengutip bukunya George Maxwell bahwa sebagia pemimpin Amerika betul-betul pemimpin yang ideologi. Jadi mereka akan menyelesaikan persoalan-persoalan dengan ideologi mereka (kapitalisme sekuler) ini yang menjadi hebat.

"Mikhail Gorbachev dia dapat hadiah Nobel dari orang-orang sekuler, tetapi harus diingat bahwa dia sudah menghancurkan sebuah ideologi besar komunis yang sudah tegak hampir 100 tahun tentu dapat Nobel dari kelompok sekuler, tetapi kita lihat hasilnya ketika ideologi itu runtuh pemimpin Rusia sekarang tidak menggunakan ideologi sosialis komunis lagi gitu yang enggak bisa bangkit dibawah kekuasaan sekuler," ujarnya. 

Kemudian ia menambahkan, dalam kepemimpinan sekuler kapitalisme pemimpin disetir oleh sekelompok orang yang punya modal. Boleh jadi penguasa enggak bisa banyak bergerak.

"Misalnya kalau betul bencana Aceh itu mau ditelusuri, diselesaikan saya pikir akan banyak orang yang terlibat di dalamnya, karena memang bencana itu luar biasa, memang di satu sisi siklonnya itu besar sekali ada yang mengatakan bahwa airnya tuh besar sekali, ditambah oleh kerakusan manusia yang menggunduli hutan sehingga air sebesar itu enggak sanggup ditahan oleh pohon-pohon yang ada karena udah beralih fungsi lahannya," contohnya. 

"Nah siapa yang membuat alih fungsi lahan ini jadi problem, tentu kekuatan-kekuatan pemodal kan enggak mungkin masyarakat bisa melakukan itu, karena kemampuan masyarakat enggak akan sampai besar itu pasti para pemilik modal. Sehingga untuk menutupi hal ini mereka (penguasa) dipasang untuk berkicau seperti tadi enggak usah dibenar-benarkan (bencana) tenang aja, ini bencana daerah aja kok, kalau sudah bencana nasional itu sudah lain lagi ceritanya kan, asing boleh masuk, media boleh mask. Nah mungkin ada eksposi yang lain, sehingga saya seringkali melihat dalam kondisi bencana seperti ini para pejabat publik kadang-kadang jadi bumper aja gitu," tambahnya.

Ia juga menjelaskan, pemimpin dunia ketiga seperti Indonesia hanya jadi objek kapitalis yang akhirnya hanya berputar-putar di model-model kepemimpinannya.

"Kalau menurut saya enggak menarik, saya enggak ngelihat ada pidato-pidato yang menarik kecuali janji-janji kosong dari presiden sekarang. Saya akan membantai korupsi ternyata yang kecil-kecil enggak menarik, demokrasi di negara dunia ketiga ini hanya alat penjajahan gaya baru oleh barat untuk bisa mensetir para pemimpin-pemimpinnya," pungkasnya. [] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update