TintaSiyasi.id -- Sudah lebih dari satu tahun berbagai janji penyelesaian konflik Palestina digulirkan oleh aktor-aktor global. Namun, alih-alih menghadirkan keadilan, yang terjadi justru peneguhan penjajahan dengan wajah baru. Di tengah hiruk-pikuk diplomasi, Zionis isrewel terus meluaskan cengkeramannya. Pada 21 Desember 2025, pemerintah isrewel kembali menyetujui 19 pemukiman ilegal di Tepi Barat, yang mengundang kecaman internasional karena dianggap melanggar hukum internasional dan melemahkan prospek perdamaian. (ANTARA News, 27 Desember 2025). Sementara itu, tragedi kemanusiaan di Gaza: mulai dari genosida, kelaparan massal, hingga serangan brutal pasca gencatan senjata, perlahan diredam dari pemberitaan, seolah nyawa Muslim Palestina tak lagi layak menjadi isu dunia.
Skema yang ditawarkan Barat sejatinya bukan solusi, melainkan jebakan. Gagasan dua negara, proposal politik bernuansa transaksional ala Trump dengan puluhan poinnya, hingga gencatan senjata yang timpang, semuanya bermuara pada satu tujuan: mengamankan eksistensi isrewel sekaligus mengukuhkan penguasaannya atas tanah Palestina. Narasi damai yang diusung hanyalah kedok untuk mengaburkan fakta bahwa penjajahan terus berjalan sistematis dan terencana.
Jika dicermati lebih dalam, watak isrewel memang tak pernah berubah. Segala cara ditempuh demi merebut seluruh wilayah Palestina, baik melalui agresi militer, kebijakan pemukiman ilegal, maupun tekanan politik global. Tak cukup sampai di situ, Zionis isrewel juga menampilkan arogansi sebagai kekuatan yang ingin mengatur arah politik dan ekonomi dunia. Dengan dukungan negara-negara besar, isrewel bertindak seolah kebal hukum internasional, bebas melanggar resolusi PBB, dan tanpa rasa bersalah menumpahkan darah warga sipil.
Kebencian ideologis terhadap Islam dan umatnya menjadi bahan bakar utama kejahatan ini. Serangan demi serangan bukan sekadar konflik teritorial, tetapi ekspresi dendam sejarah yang terus diwariskan. Dunia internasional pun tampak tak berdaya atau sengaja dibuat lumpuh dalam menghentikan kebiadaban tersebut. Genosida di Gaza menjadi bukti nyata bahwa sistem global hari ini gagal melindungi yang tertindas, justru berdiri di belakang para penindas.
Dalam pandangan Islam, kerusakan yang ditimbulkan oleh isrewel bukanlah hal baru. Allah SWT telah mengabarkan: “Dan Sesungguhnya telah Kami tetapkan untuk bani israil dalam kitab: kamu benar-benar akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali dan akan benar-benar mencapai keangkuhan yang besar.” (TQS Al-Isra’ [17]: 4). Realitas Palestina hari ini seakan menjadi potret hidup dari peringatan Allah SWT tersebut. Maka, keliru jika umat Islam berharap pada mekanisme dunia sekuler yang sejak awal dibangun tanpa landasan wahyu.
Islam juga memberikan panduan tegas terkait sikap politik umat. Loyalitas tidak boleh diberikan kepada pihak-pihak yang nyata memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Kitab Syakhshiyah Islamiyah Jilid 2 karangan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menegaskan hukum larangan memberikan wala’ kepada orang kafir, termasuk Yahudi dan Nasrani yang memerangi dan menzalimi umat Islam. Prinsip ini bukan ajakan kebencian, melainkan langkah penjagaan akidah dan keselamatan umat dari tipu daya politik global.
Sejarah kenabian pun memberikan teladan yang jelas. Dalam sirah Rasulullah Saw, tercatat bagaimana beliau bersikap tegas terhadap negara-negara kafir yang memerangi Islam serta pihak-pihak yang mengkhianati perjanjian. Ketegasan ini bukan dilandasi emosi, tetapi visi kepemimpinan yang menjaga kehormatan umat dan kedaulatan Islam, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Daulah Islam karangan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani.
Karena itu, harapan pembebasan Palestina tak mungkin disandarkan pada resolusi PBB, proposal damai sepihak, atau belas kasihan negara adidaya. Selama sumber kekuatan umat tercerai-berai, selama hukum Allah tak menjadi landasan politik global, kejahatan Zionis isrewel akan terus berulang. Islam memandang bahwa hanya dengan jihad yang terorganisir di bawah naungan khilafah, arogansi penjajah dapat dibungkam dan kezaliman sistematis bisa dihentikan.
Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi persoalan akidah dan peradaban. Selama umat Islam masih percaya pada solusi buatan penjajah, selama itu pula Palestina akan tetap terjajah. Saatnya umat kembali pada panduan Allah secara menyeluruh, agar pembebasan bukan sekadar slogan, melainkan keniscayaan sejarah. Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Mahrita Julia Hapsari
Aktivis Muslimah Banua