Tintasiyasi.id.com -- Sejak pandemi Covid-19 hingga kini, ruang utama bagi generasi muda adalah media sosial. Di sana, mereka belajar, berinteraksi, mencari inspirasi, bahkan membentuk identitas diri. Informasi di media digital terbuka begitu lebar untuk diakses, termasuk arus deras pemikiran sekuler.
Efek positif media digital pastilah ada, akan tetapi efek negatif yang mempengaruhi kehidupan generasi muda saat ini juga tidak kalah banyaknya.
Kebutuhan Mendesak Umat
Digitalisasi yang disembah sebagai kemajuan zaman, ternyata berdiri di bawah hegemoni kapitalisme. Ia bukan sekedar alat yang sebetulnya mubah saja diadopsi, tetapi ternyata menjadi sarana penyebaran ideologi batil yang menggerus keimanan, merusak cara berpikir, dan menyingkirkan pemikiran Islam ideologis dari ruang publik.
Di sinilah letak akar problematik umat pada era digital. Mereka tidak hanya mengalami krisis akhlak, tetapi juga krisis sistem. Mereka tampak kehilangan makna hidup bukan karena kekurangan nasihat kebaikan.
Bukan juga karena mereka kurang cerdas, tetapi salah arah perjuangan. Juga sepi dan langkanya pembinaan Islam ideologis terhadap masyarakat, terutama ibu dan generasi muda.
Di dalam QS Ali Imran ayat 104, Allah Taala berfirman,
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar."
Ayat ini menegaskan urgensi kehadiran jama'ah dakwah Islam ideologis sebagai kebutuhan mendesak umat.
Jama'ah dakwah ini bergerak membina ibu dan generasi muda agar memiliki Syakhsiyyah Islamiyyah (kepribadian/jati diri sebagai muslim sejati). Di dalam pembinaan itu, mereka mempelajari dan memahami berbagai problematik kehidupan dan diberi solusi dengan sudut pandang Islam. Semua itu dalam rangka mewujudkan perubahan hakiki.
Ngaji, Nggak Ketinggalan Zaman
Mencermati semua ini, aktivitas ngaji bagi seluruh elemen umat bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, apalagi untuk kaum ibu dan generasi muda. Ngaji justru aktivitas yang akan mampu membentengi para individu muslim dari arus deras sekularisasi. Ngaji adalah circle yang tidak hanya positif, tetapi juga wadah untuk saling menjaga dan menasihati dalam ketaatan.
Di tengah penerapan sistem sekuler kapitalisme, kehadiran jemaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam.
Karakter generasi muda sebagai digital natives semestinya menjadi penyampai dakwah yang sangat efektif pada era digital. Potensi dua generasi, yakni generasi muda dan kaum ibu hendaknya ditakar menurut kontribusi mereka di jalan Allah.
Perbedaan generasi, ada yang tua dan muda adalah sunatullah, jangan dibiarkan ada gap, apalagi sampai ada jurang. Perbedaan antargenerasi semestinya dijembatani agar terus terhubung satu sama lain.
Di dalam Islam, rangkaian dan ketersambungan antargenerasi sangat penting, karena ketersambungan tersebut adalah modal besar dalam rangka melanjutkan perjuangan umat dan penyebaran risalah Islam.
Circle ngaji dalam jemaah dakwah Islam ideologis akan mewujudkan ketersambungan generasi dan penyebaran risalah Islam itu, karena umat akan sangat rugi jika tidak memahaminya.
Allah Taala berfirman di dalam QS Al-'Ashr ayat 1-3,
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." Wallahualam bishshawwab. []
Oleh: Shinta Erry
(pemerhati keluarga, founder Komunitas Menantu Idaman, Pare, Kediri)