TintaSiyasi.id -- Analis Politik dari Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS) Arief B IskandarArief B. Iskandar, mengatakan, nasionalisme saat ini hanyalah dijadikan topeng.
"Nasionalisme saat ini hanya dijadikan topeng. Paling banter hanya berhenti pada kulit; lantang disuarakan dalam pidato, tetapi kosong dalam kebijakan," ungkapnya di kutip TintaSiyasi.id, Senin (12/1/2026).
Dia mengatakan bahwa nasionalisme "topeng" justru melahirkan penguasa-pedagang. Bendera asing mereka tancapkan di jantung bumi pertiwi. Tambang dikeruk, hutan digunduli, laut dijarah. Inilah nasionalisme "topeng" tanpa kedaulatan.
Ia mengatakan orang yang mengklaim paling nasionalis rajin berteriak “Indonesia tanah air beta”. Akan tetapi, mereka dengan sadar menjual napas rakyatnya sendiri. Rakyat mereka biarkan hidup segan mati tak mau. Kekayaan negeri mereka gadaikan kepada oligharki dan pihak asing atas nama pembangunan.
"Nasionalisme "topeng" ini berpadu mesra dengan sekularisme. Pancasila dielu-elukan. Akan tetapi, Ketuhanan Yang Maha Esa dikosongkan dari makna politik dan hukum. Tuhan dipersilakan hadir di mimbar-mimbar doa, tetapi diusir dari ruang kebijakan," tambahnya.
Nasionalisme "topeng" kata Arief, justru meminta rakyat untuk terus loyal meski dizalimi. “NKRI harga mati” diteriakkan, tetapi harga NKRI justru mati ketika kedaulatan dijual demi cuan segelintir orang. Yang tersisa pada akhirnya hanyalah ampas negara. Rakyat lapar. Jurang sosial menganga. Ketergantungan pada asing makin dalam. Dalam kondisi seperti ini, negeri ini tak lagi disegani, melainkan ditertawakan.
Ketika hukum Allah disingkirkan, lanjut dia, yang naik tahta bukan kemanusiaan, melainkan harta dan kekuasaan. Demokrasi lalu dipoles sebagai puncak kedaulatan rakyat. HAM dijadikan mantra sakti. Akan tetapi faktanya, keduanya diterapkan secara tebang pilih. Kritik dianggap subversif.
"Demonstrasi dilabeli ancaman negara. Bahkan ibadah pun dicurigai jika tidak sejalan dengan selera penguasa. Di sinilah wajah asli demokrasi kapitalistik: kebebasan untuk elit, pembatasan untuk rakyat," jelasnya.
Semboyan pembangunan apa pun namanya tak lebih dari kemasan retoris. Faktanya, karpet merah digelar untuk penjajah gaya baru: investor rakus, korporasi multinasional dan kekuatan asing. Dulu imperialisme dilawan dengan teriakan dan senjata di tangan. Kini ia disambut dengan senyum manis, perjanjian dan konsesi. Nasionalisme pun akhirnya tak lebih dari sekadar ketundukan pada penjajahan.
Ia mengutip Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَإِ، وَالنَّارِ»
Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api (energi) (HR Abu Dawud).
"Hadis ini secara tegas menutup ruang privatisasi dan penjajahan atas sumberdaya alam strategis. Karena itu nasionalisme yang membiarkan kekayaan negeri dikuasai segelintir elit dan asing adalah nasionalisme "topeng" alias nasionalisme palsu," urainya.
Ia memaparkan, inilah hakikat nasionalisme kulit: topeng baja kaum elit. Ia keras kepada rakyat, lunak kepada penjajah. Ia memabukkan kaum alit dengan lagu dan simbol, sementara para bandit kekuasaan tertawa di balik kontrak dan konsesi.
Islam datang bukan untuk mempercantik topeng ini, melainkan mencampakkannya.
"Selama nasionalisme hanya dijadikan topeng tanpa syariah, tanpa keadilan dan tanpa kedaulatan ia akan terus menjadi alat penipuan massal. Jalan keluar sejati bukan tambal sulam slogan, melainkan perubahan ideologis: meninggalkan sistem sekuler kapitalistik dan kembali pada Islam sebagai sistem hidup dan sistem negara. Tanpa itu, nasionalisme akan terus menjadi gincu tebal yang menipu rakyat, sementara negeri perlahan kehilangan ruh dan harga dirinya," jelasnya.
"Islam menolak nasionalisme semacam ini. Islam tidak memusuhi cinta tanah air, tetapi menolak menjadikan itu sebagai berhala," pungkasnya.[] Alfia