“Kalau ingin menjadi Muslimah yang empowered,
kita harus menjadi manusia yang bermanfaat,” ujarnya dalam slot Bicara Muslimah
Online berjudul Pemberdayaan Perempuan: Antara Perspektif Kapitalis dan
Islam, Sabtu (03/01/2026).
Sebagaimana dipahami oleh masyarakat,
peran utama Muslimah adalah sebagai ummu warabbatul bait (ibu dan
pengelola rumah tangga). “Namun ada peran lain yang tidak kalah penting, yaitu
peran Muslimah sebagai ummu ajyal (ibu generasi),” jelaskan Dr. Diyana.
“Perempuan ini memiliki dua peran.
Dalam konteks yang menyeluruh, perempuan bukan hanya pengelola rumah tangga. Ia
juga adalah ummu ajyal, yaitu ibu generasi, di mana ibu generasi
memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat,” ulasnya.
Menurut dia, Muslimah harus
bercita-cita untuk berkontribusi dalam perjuangan membangkitkan generasi, dan
usaha ini merupakan manfaat besar dampaknya bagi umat Islam.
“Ia (Muslimah) memiliki tanggung
jawabnya sendiri, memiliki kontribusi yang harus dipikul. Ia harus tampil ke
depan dan tetap relevan dengan nilai-nilai Islam serta identitas Islam untuk
membangun generasi itu sendiri,” tambahnya.
Dia memberi contoh perempuan di
Palestina yang memahami peran Muslimah sebenarnya, meskipun menghadapi
tantangan dan dampak peperangan yang dahsyat. “Semangat mereka sangat kuat
dalam membangun generasi penerus perjuangan,” sebutnya.
“Kita melihat contoh Muslimah yang
berada di tengah-tengah kelompok pengungsi Muslim, Gaza, bagaimana keteguhan
hati Muslimah di Palestina. Mereka memahami dan mengenal peran mereka yang
sesungguhnya sebagai perempuan,” katanya.
Dia berpandangan bahwa dalam konteks
pemberdayaan perempuan, Muslimah Palestina layak dijadikan teladan karena
karakter dan kepribadian Islam sejati yang ada pada diri mereka.
“Mereka memiliki karakter Muslim yang
paling baik jika kita ingin mengambil contoh. Jika kita ingin melihat seperti
apa pemberdayaan perempuan dalam Islam, kita dapat melihat apa yang ada pada
masyarakat Palestina,” ujarnya lagi.
Dia membandingkan dengan pemahaman
pemberdayaan perempuan di Malaysia yang cenderung mengukur keberhasilan
perempuan semata-mata dari pencapaian status dan materi.
“Jika kita merefleksikan pemberdayaan
perempuan dalam konteks lingkungan kita, perempuan dianggap berhasil jika
memiliki jabatan tinggi, menjadi menteri, ketua menteri, memiliki posisi dalam
organisasi, menjadi direktur, kaya, memiliki mobil besar, dan sebagainya. Lalu,
siapakah sebenarnya Muslimah empowered itu?” tanyanya.
Dia mengutip hadis riwayat Ahmad, Ath-Thabrani,
dan Ad-Daruquthni yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat bagi manusia lainnya. “Hadis ini menjadi penguat bagi Muslimah agar
yakin dan mampu menjalankan setiap peran yang diamanahkan demi ketakwaannya
kepada Allah dan Rasul-Nya,” lugasnya.
“Seorang Muslimah yang empowered
adalah wanita yang mampu menjalankan setiap dimensi kehidupan untuk tujuan
Islam dan memiliki cita-cita besar untuk meraih kemuliaan umat Nabi Muhammad saw.,”
pungkasnya.[] Rahmah
