Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

105 Tahun Tanpa Khilafah: Dunia Islam di Persimpangan Sejarah

Minggu, 18 Januari 2026 | 22:28 WIB Last Updated 2026-01-18T15:28:30Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Indonesia Justice Monitor Agung Wisnuwardana membentangkan sejarah singkat “105 Tahun Tanpa Khilafah: Dunia Islam di Persimpangan Sejarah” di kanal TikTok pribadinya bertajuk Refleksi 105 Tahun Tanpa Khilafah.

 

105 Tahun Tanpa Khilafah: Dunia Islam di Persimpangan Sejarah,” ujar Agung, Rabu (14/01/2026).

 

“105 tahun telah berlalu sejak berakhirnya institusi khilafah secara formal pada 1924. Momentum ini kembali mengundang perhatian publik, terutama di bulan Rajab 1447 Hijriah, sebagai titik refleksi sejarah dunia Islam,” kata pembukanya.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah khilafah kembali diperbincangkan. “Ada yang merasa asing, ada yang khawatir, dan ada pula yang menyimpan kerinduan. Untuk itu penting membahasnya secara jernih sebagai bagian dari literasi, bukan prasangka,” ajaknya.

 

Agung menjelaskan, dalam khazanah intelektual Islam, khilafah bukan konsep baru. Ia merupakan bagian dari siyasah syar’iyyah (politik Islam) yang dibahas para ulama, setara dengan pembahasan yang lain kewajiban seperti salat, zakat, puasa, dan haji. ”Oleh karena itu khilafah tersebut adalah ajaran Islam,” tegasnya.

 

Ia melanjutkan, secara normatif dan historis, keberadaannya mencatat jelas jejaknya bisa ditemukan, bahkan khilafah adalah kewajiban yang  disebut sebagai tājul furūdh, mahkota kewajiban.

 

“Jika khilafah hilang maka akan banyak hukum-hukum Islam yang hilang dan terabaikan,” ujarnya.

 

Ia mengutip pandangan Imam Al-Mawardi yang mendefinisikan khilafah bukan sembarang kepemimpinan, melainkan khilafah sebagai khilāfatun nubuwwah, kepemimpinan yang menggantikan peran kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengannya.

 

Lanjutnya, disebut pula Imam Al-Qurthubi juga menegaskan tidak adanya perbedaan pendapat di kalangan para imam mazhab mengenai kewajiban mengangkat khalifah dikalangan para umat dan para imam mazhab. “Ahlusunah pun memandang wajib adanya khilafah,” ungkapnya.

 

“Ada satu titik waktu yang penting untuk kita renungkan bersama, tepat di bulan Rajab 1447 H ini, dunia Islam melewati momentum 105 tahun sejak berakhirnya institusi khilafah secara formal di Turki pada tahun 1924,” rekapnya.

 

Lalu agung menjelaskan, satu abad inilah dunia mengalami berbagai dinamika, Gaza dan Palestina masih terus berdarah tanpa pelindung, tanpa perisai yang berarti. “Arogansi Amerika Serikat dengan koboinya menginjak-injak harkat martabat dunia dan manusia tanpa ada perlawanan yang sepadan,” urainya.

 

Ia sebut pula di negeri ini kerusakan moral dan kerusakan alam masih terus terjadi, dikarenakan kapitalisme semakin nyata. “Korupsi semakin menjadi-jadi: berjemaah, vertikal, horizontal, dan berbagai macam kerusakan lainnya,” ungkapnya.

 

“Angka 105 tahun ini bukanlah sekedar angka statistik, melainkan jeda panjang untuk mengevaluasi diri bahwa kerusakan terstruktur, tersistematis, dan masif ini terjadi karena tidak diterapkannya hukum Allah syariat Islam secara kaffah, karena manusia memberhalakan hukum manusia yang berujung pada kerusakan” tegasnya

 

“Di sinilah, khilafah memiliki tiga esensi utama: penerapan Islam secara kaffah, penguatan ukhuwah islamiah, dan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Semuanya baik buat kita,” tegasnya lagi.

 

Ia mengingatkan bahwa sejarah bukan untuk bernostalgia, bukan halu, melainkan untuk menyadari bahwa ada yang perlu dihadirkan kembali di masa kini. “Yaitu liistina filhayati islamiah, yakni melanjutkan kembali kehidupan Islam melalui penerapan Islam secara kaffah dengan Al-Qur’an dan sunah.

 

“Penerapan syariat secara kaffah hanya bisa terwujud dengan penegakan Khilafah Islamiah dalam keyakinan yang bersandar pada Al-Qur’an dan sunah. Semua pasti akan terwujud karena itu adalah janji Allah dan kabar gembira dari Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam,” tambahnya.

 

“Mari terus belajar, menimbang dengan jernih, dan bergerak dengan kesadaran sejarah,” tutupnya.[] Titin Hanggasari

Opini

×
Berita Terbaru Update