TintaSiyasi.id -- Di tengah rentetan musibah yang menimpa masyarakat—baik berupa krisis moral, ketimpangan sosial, kerusakan alam, konflik horizontal, hingga kegelisahan batin yang meluas—umat sering kali terjebak pada pembacaan yang sempit. Bencana dianggap semata-mata sebagai peristiwa alam, malapetaka dilihat hanya sebagai nasib buruk, dan penderitaan dipahami sekadar takdir tanpa makna.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa peristiwa sosial tidak pernah netral secara nilai. Ada hukum Allah (sunnatullah) yang bekerja dalam kehidupan manusia, sebagaimana hukum sebab-akibat yang mengatur alam semesta.
Atsar Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menegaskan dengan sangat lugas:
إِنَّمَا صَلَحَتِ الْأَرْضُ بِطَاعَةِ اللَّهِ، وَفَسَدَتْ بِمَعْصِيَتِهِ
“Sesungguhnya bumi menjadi baik karena ketaatan kepada Allah, dan menjadi rusak karena kemaksiatan kepada-Nya.”
Atsar ini bukan sekadar nasihat moral individual, tetapi sebuah prinsip peradaban.
Akar Masalah: Bukan Sekadar Teknis, Tapi Ideologis
Salah satu kesalahan besar umat hari ini adalah mendiagnosis penyakit peradaban dengan kacamata teknis semata, padahal penyakitnya bersifat ideologis dan sistemik.
Korupsi dianggap masalah individu, padahal sistem membuka peluang besar untuk itu
Kemiskinan dianggap akibat malas bekerja, padahal distribusi kekayaan tidak adil
Kerusakan lingkungan dianggap ulah oknum, padahal paradigma pembangunan sekuler eksploitatif
Krisis keluarga dianggap persoalan pribadi, padahal hukum Allah tentang keluarga ditinggalkan
Islam tidak memisahkan antara ketaatan individu dan ketaatan kolektif. Ketika Islam tidak diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka yang lahir bukan sekadar dosa personal, tetapi kerusakan struktural.
Islam Diturunkan untuk Mengatur Kehidupan, Bukan Sekadar Ritual
Kesalahan fatal umat adalah menyempitkan Islam menjadi sekadar:
Ibadah ritual
Akhlak personal
Seruan moral tanpa sistem
Padahal Allah menurunkan Islam sebagai manhaj al-hayah (sistem kehidupan). Islam mengatur:
Politik dan kepemimpinan
Ekonomi dan distribusi harta
Hukum dan keadilan
Sosial dan kemasyarakatan
Hubungan internasional
Pendidikan dan pembentukan manusia
Ketika Islam hanya tinggal di masjid dan majelis taklim, sementara kehidupan publik diatur oleh sistem sekuler, kapitalistik, dan liberal, maka kerusakan adalah keniscayaan.
Malapetaka sebagai Teguran, Bukan Sekadar Cobaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
(QS. Ar-Rum: 41)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
Ayat ini menegaskan bahwa:
1. Kerusakan bersifat nyata dan sistemik
2. Penyebabnya adalah perbuatan manusia
3. Bukan semata faktor alam atau takdir buta
Malapetaka dalam pandangan Islam bukan hanya ujian kesabaran, tetapi juga peringatan agar umat kembali kepada aturan Allah secara total.
Penyadaran Umat: Tugas Dakwah yang Hakiki
Upaya penyadaran masyarakat bukan sekadar mengajak:
Bersabar
Berdoa
Memperbanyak ibadah ritual
Semua itu penting, tetapi tidak cukup.
Dakwah yang hakiki harus mengajak umat:
1. Menyadari akar masalah peradaban
2. Menyadari bahwa meninggalkan syariat Allah membawa kehancuran
3. Menyadari bahwa solusi hakiki bukan tambal sulam, tetapi perubahan sistem
4. Menyadari kewajiban menerapkan Islam secara kaffah
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
(QS. Al-Baqarah: 208)
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
Dari Kesadaran Menuju Perubahan
Penyadaran umat bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan jiwa. Bukan untuk menyalahkan korban, tetapi untuk mengembalikan arah hidup.
Jika bumi rusak karena maksiat, maka:
Perbaikannya adalah ketaatan
Kebangkitannya adalah penerapan Islam
Keselamatannya adalah kembali kepada hukum Allah
Bukan Islam yang gagal, tetapi manusia yang menolak menerapkannya.
Penutup: Kembali kepada Islam, Kembali kepada Kehidupan
Islam bukan beban, tetapi rahmat.
Islam bukan ancaman, tetapi solusi.
Islam bukan nostalgia sejarah, tetapi kebutuhan masa depan.
Selama umat masih enggan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara, maka malapetaka akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.
Dan selama umat mau kembali kepada Allah dengan ketaatan yang menyeluruh, sebagaimana pesan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka bumi—dengan izin Allah—akan kembali baik.
Sesungguhnya bumi menjadi baik karena ketaatan kepada Allah, dan menjadi rusak karena kemaksiatan kepada-Nya.
Semoga Allah membukakan hati umat ini untuk melihat kebenaran, menerima kebenaran, dan memperjuangkan kebenaran.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis 38 Judul buku, Akademisi, Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)