Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Isra' Mikraj: Seruan Kesadaran, Bukan sekadar Peringatan

Senin, 19 Januari 2026 | 13:40 WIB Last Updated 2026-01-19T06:40:34Z
Tintasiyasi.id.com -- Bulan Rajab merupakan salah satu diantara empat bulan haram (Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharrom, Rajab) yang dimuliakan oleh Allah. Dimana pada bulan-bulan ini Allah swt melipatgandakan amalan-amalan kebaikan termasuk juga dosa-dosa. 

Didalamnya dilarang melakukan kezaliman termasuk peperangan. Dianjurkan meningkatkan ibadah-ibadah sekaligus momentum untuk melakukan introspeksi diri.

Salah satu peristiwa pada bulan rajab yang masyhur di kalangan masyarakat kita terjadi pada tanggal 27 Rajab yaitu peristiwa Isra Mikraj (perjalanan Nabi Muhammad dari masjidil haram ke Masjidil Aqsha lalu ke Sidratul Muntaha). Dalam peristiwa tersebut turun perintah dari Allah swt untuk melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari (Tirto.id 11/1/26).

Peristiwa spiritual tersebut yang kemudian diperingati oleh seluruh umat muslim khususnya di Indonesia setiap tahunnya. Baik di tempat tinggal, pun di sekolah, diselenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati Isra Mikraj. Dengan pengajian, atau lomba-lomba Islami misalnya dengan tujuan menanam kebaikan dan meneguhkan keimanan (detikbali,10/1/26).

Hari ini, hikmah Isra Mikraj seringkali direduksi sebatas penetapan shalat dalam makna ibadah mahdhah saja. Padahal, lebih luas lagi shalat merupakan kinayah (ungkapan simbolik) atas penerapan syariat dan kepemimpinan Islam. Sehingga makna Isra Mikraj sebetulnya tidak berhenti pada sajadah, tetapi menuntut realisasi nilai-nilai langit dalam kehidupan sosial politik. 

Diantara berbagai peristiwa besar di bulan Rajab lainnya, juga ada satu sejarah kelam yang masih jarang disadari kaum muslim hari ini. Yaitu runtuhnya Daulah khilafah islam yang terjadi pada 28 Rajab 1342 H.

Sejak saat itu, telah lenyap peradaban Islam yang agung yang telah berdiri selama kurang lebih 1300 tahun. Pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tersebut, dunia islam kemudian terpecah belah menjadi beberapa negara yang lemah dan tidak berdaya dibawah kekuasaan negara kafir. Sudah tidak ada lagi satu negara pun yang menerapkan syariat islam secara meyeluruh seperti sebelumnya.

Realita kehidupan kita saat ini telah didominasi oleh sistem sekuler-demokrasi yang berarti hukum-hukum Allah telah tersingkirkan dan diabaikan dari kehidupan publik. 

Sekulerisme dengan asas pemisahan agama dari kehidupan sangat bertentangan dengan islam sebagai Din wa Daulah (agama dan sistem kehidupan). Tentu dengan ditinggalkannya Islam sebagai sistem kehidupan akan memberi dampak mudlorot (bahaya) dalam segala aspek. Baik dari segi politik, ekonomi, sosial kemanusiaan, bahkan bencana alam. 

Maka terhitung sejak 105 tahun yang lalu umat muslim hidup berada dalam bencana dan penderitaan. Hidup terpuruk dan tidak memiliki kekuatan mandiri. Pembantain kaum muslim di beberapa penjuru dunia terus berlangsung dari waktu ke waktu tanpa henti hingga hari ini. Salah satunya adalah yang terjadi di Palestina.

Oleh karena itu, Rajab dan Isra’ Mi‘raj bukan sekadar momentum peringatan, melainkan momen kesadaran ideologis untuk membumikan kembali hukum Allah dalam kancah kehidupan. 

Membumikan hukum Allah berarti menolak dominasi hukum buatan manusia yang bertentangan dengan wahyu, dan menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya standar kehidupan secara kaffah. Hal ini sejalan dengan fungsi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dan solusi peradaban.

Kemudian, Masjidil Aqsha sebagai titik awal Isra’ Mi‘raj menegaskan bahwa Palestina bukan hanya isu kemanusiaan, tetapi juga isu akidah dan kepemimpinan umat. Sejarah membuktikan bahwa pembebasan dan perlindungan wilayah-wilayah Islam hanya efektif ketika umat berada di bawah satu kepemimpinan politik yang kuat dan bersatu.

Islam memandang bahwa persatuan umat bukan utopia, melainkan kewajiban syar‘i. Fragmentasi negeri-negeri Muslim justru memperlemah posisi umat dan membuka jalan bagi penjajahan, penindasan, serta kezaliman terhadap kaum Muslim di berbagai belahan dunia. 

Sejarah Islam sarat dengan teladan kepemimpinan yang lahir dari akidah dan syariat: dari Khulafaur Rasyidin, Al-Mu‘tasim, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, hingga para khalifah akhir Daulah Utsmaniyah. Mereka bukan mitos sejarah, melainkan bukti konkret bahwa Islam mampu memimpin peradaban dunia dengan keadilan.

Perjuangan menegakkan kembali kehidupan Islam merupakan perjuangan ideologis yang memerlukan kesadaran umat, pembinaan pemikiran, dan dakwah yang konsisten. Islam tidak diajarkan untuk reaktif, tetapi untuk membangun perubahan secara terarah sesuai manhaj kenabian.

Rajab dan Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa hukum Allah tidak diturunkan untuk disimpan di langit atau dibatasi di masjid, melainkan untuk ditegakkan dalam kehidupan. Selama umat Islam memisahkan ibadah dari sistem kehidupan, maka kemuliaan Islam akan terus tereduksi. Wallahua'lam bishshowwab.[]

Oleh: Nabilah Rohadatul 'Aisy
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update