Refleksi Ruhani atas Nasihat Emas Albert Einstein
“Jangan berusaha menjadi orang yang sukses, tetapi berusahalah menjadi orang yang memiliki nilai.”
— Albert Einstein
Pendahuluan: Ketika Hidup Terjebak pada Angka dan Citra
TintaSiyasi.id -- Kita hidup di zaman yang gemar mengukur segalanya dengan angka dan tampilan. Ukuran keberhasilan sering kali direduksi menjadi jabatan, harta, popularitas, dan pengakuan publik. Media sosial mempercepat ilusi itu: siapa yang terlihat paling berhasil, dialah yang dianggap paling bermakna.
Namun, sejarah dan kebijaksanaan para arif justru mengajarkan sebaliknya. Kesuksesan lahiriah tidak selalu sejalan dengan kemuliaan batin. Banyak orang yang tampak berjaya, tetapi jiwanya gersang; terlihat tinggi, namun rapuh di dalam. Pada titik inilah nasihat Albert Einstein menemukan relevansinya yang sangat dalam: hidup bukan soal menjadi sukses, tetapi soal menjadi bernilai.
Makna Nilai: Akar dari Segala Kemuliaan
Nilai bukan sekadar prestasi. Nilai adalah kualitas batin yang memancar dalam sikap, akhlak, dan kontribusi. Nilai hidup dalam kejujuran, amanah, ketulusan, kesabaran, kepedulian, dan keikhlasan. Nilai tidak selalu terlihat, tetapi selalu terasa.
Dalam perspektif Islam, nilai manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari siapa dirinya di hadapan Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Takwa inilah inti nilai: kesadaran penuh bahwa hidup ini diawasi, diarahkan, dan akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
Menambah Nilai pada Diri Orang Lain: Esensi Kehadiran
Orang yang bernilai tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia hadir untuk menyembuhkan, menguatkan, dan menerangi. Setiap perjumpaan dengannya meninggalkan bekas kebaikan, sekecil apa pun itu.
Rasulullah ﷺ menegaskan prinsip agung ini:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Menambah nilai tidak selalu dengan hal besar. Kadang cukup dengan mendengar tanpa menghakimi, menasihati tanpa merendahkan, membantu tanpa pamer, dan mendoakan tanpa diketahui. Inilah amal-amal sunyi yang berat timbangannya di sisi Allah.
Kesuksesan Tanpa Nilai: Kemenangan yang Kosong
Kesuksesan yang tidak dibangun di atas nilai akan melahirkan kegelisahan. Ia membuat seseorang selalu takut kehilangan, cemas terhadap penilaian manusia, dan haus akan pujian. Inilah kesuksesan yang melelahkan jiwa.
Allah SWT mengingatkan bahwa orientasi dunia semata akan berujung pada kehampaan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Āli ‘Imrān: 185)
Sebaliknya, nilai melahirkan ketenangan, karena ia tidak bergantung pada tepuk tangan manusia, melainkan pada ridha Allah.
Nilai sebagai Jalan Sunyi Para Orang Saleh
Para nabi, ulama, dan orang-orang saleh tidak dikenal karena ambisi duniawi mereka, tetapi karena kedalaman nilai yang mereka hidupkan. Mereka mungkin miskin secara materi, tetapi kaya secara makna. Mereka mungkin sederhana secara penampilan, tetapi agung secara ruhani.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata: “Nilai seseorang diukur dari apa yang ia perbaiki, bukan dari apa yang ia miliki.”
Inilah standar kemuliaan sejati: sejauh mana kita memperbaiki diri dan orang lain.
Refleksi Diri: Apa Nilai Kehadiran Kita?
Cobalah bertanya dengan jujur pada diri sendiri: Apakah kehadiran saya menenangkan atau justru melukai? Apakah saya meninggalkan harapan atau kekecewaan? Apakah saya sibuk membangun citra, atau membangun makna?
Muhasabah ini penting, karena hidup yang tidak dievaluasi akan mudah tersesat dalam kesibukan yang sia-sia.
Penutup: Warisan Abadi Bernama Nilai
Kesuksesan berhenti di liang lahat, tetapi nilai melampaui kematian. Ia hidup dalam amal jariyah, ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan doa-doa yang dipanjatkan oleh mereka yang pernah disentuh kebaikan kita.
Maka benar kata Einstein, dan semakin benar dalam cahaya wahyu:
kejarlah nilai, niscaya kesuksesan akan mengikuti; tetapi jika mengejar sukses tanpa nilai, yang tersisa hanyalah kelelahan jiwa.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا أُنَاسًا ذَوِي قِيَمٍ، تُحِبُّهُمْ فِي السَّمَاءِ، وَتَنْفَعُ بِهِمْ فِي الْأَرْضِ
“Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang bernilai, yang Engkau cintai di langit dan Engkau jadikan bermanfaat di bumi.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)