Pendahuluan: Umat yang Bingung Arah
TintaSiyasi.id -- Salah satu penyakit besar umat Islam hari ini bukanlah kemiskinan, keterbelakangan teknologi, atau kekurangan sumber daya. Penyakit yang paling berbahaya adalah kebingungan arah hidup. Umat tampak bergerak cepat, tetapi tidak tahu ke mana melangkah. Tampak maju secara materi, tetapi rapuh secara makna.
Di sinilah pentingnya kita kembali memahami satu konsep fundamental dalam pemikiran Islam, sebagaimana dijelaskan secara jernih oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhāmul Islām, yaitu perbedaan antara Hadlarah dan Madaniyah.
Banyak kaum Muslimin hari ini mencampuradukkan pandangan hidup dengan sarana hidup, sehingga tanpa sadar mengadopsi cara berpikir Barat, sembari merasa masih berada di jalan Islam.
Hadlarah: Penentu Arah dan Makna Hidup
Hadlarah (الحضارة) bukan sekadar peradaban fisik, bukan gedung megah, bukan teknologi canggih. Hadlarah adalah sekumpulan pemikiran mendasar tentang kehidupan, yang lahir dari suatu akidah dan membentuk cara pandang manusia terhadap hidup.
Dalam Islam, Hadlarah Islam bersumber dari Akidah Islam:
• Allah sebagai Pencipta dan Pengatur
• Hidup sebagai amanah dan ujian
• Dunia sebagai ladang akhirat
• Halal dan haram sebagai standar nilai
• Ridha Allah sebagai tujuan tertinggi
Inilah worldview Islam yang menuntun:
• Cara berpikir
• Cara bersikap
• Cara mengambil keputusan
• Cara memaknai sukses dan gagal
Allah ﷻ berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia?”
(QS. Al-Mu’minun: 115)
Hadlarah Islam menjawab tegas: hidup tidak pernah sia-sia.
Madaniyah: Alat, Bukan Tujuan
Berbeda dengan Hadlarah, Madaniyah (المدنية) adalah hasil kemajuan material:
• Teknologi
• Ilmu terapan
• Sarana transportasi
• Media komunikasi
• Infrastruktur dan alat-alat kehidupan
Madaniyah lahir dari:
• Akal manusia
• Pengalaman
• Eksperimen
• Sains dan teknologi
Karena itu, Madaniyah bersifat netral. Ia seperti pisau: bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula melukai.
Islam tidak pernah anti Madaniyah. Rasulullah ﷺ sendiri memanfaatkan:
• Strategi perang
• Sistem administrasi
• Teknologi yang ada pada zamannya
Namun Islam menolak menjadikan Madaniyah sebagai penentu nilai hidup.
Kesalahan Fatal Umat: Menukar Arah dengan Alat
Di sinilah kesalahan besar umat modern:
mengambil Hadlarah Barat dan hanya menyisakan simbol Islam.
Hadlarah Barat berdiri di atas:
• Sekularisme (agama dipisahkan dari kehidupan)
• Liberalisme (kebebasan tanpa batas)
• Kapitalisme (materi sebagai ukuran sukses)
Akibatnya:
• Agama hanya ada di masjid, bukan di pasar
• Islam dibatasi pada ritual, bukan sistem hidup
• Moral tunduk pada kepentingan, bukan kebenaran
Allah ﷻ telah mengingatkan:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85)
Islam tidak boleh dipilah-pilah. Hadlarah Islam harus diambil secara utuh (kaffah).
Sikap Islam yang Tegas dan Adil
Islam adalah agama yang adil dan seimbang:
1. Terhadap Hadlarah Barat: Ditolak, karena bertentangan dengan akidah Islam.
2. Terhadap Madaniyah Barat: Diterima, selama:
Tidak mengandung keharaman
Tidak menjadi sarana maksiat
Tidak membawa ideologi kufur
Inilah sikap Islam yang dewasa:
teguh dalam prinsip, terbuka dalam sarana.
Refleksi: Mengapa Umat Kehilangan Keberkahan?
Banyak orang bertanya: “Kenapa hidup makin maju tapi hati makin kosong?”
Jawabannya sederhana namun dalam:
karena hadlarah Islam ditinggalkan, diganti hadlarah materialistik.
Teknologi tanpa tauhid melahirkan kesombongan.
Ilmu tanpa iman melahirkan kehampaan.
Kemajuan tanpa arah melahirkan kehancuran.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan:
“Kerusakan ilmu terjadi ketika ilmu kehilangan tujuannya menuju Allah.”
Penutup: Kembali ke Arah yang Benar
Umat Islam tidak butuh arah baru.
Umat Islam hanya perlu kembali ke arah yang benar.
Hadlarah Islam adalah kompas.
Madaniyah hanyalah kendaraan.
Tanpa kompas, kendaraan secanggih apa pun akan tersesat.
Maka tugas dakwah hari ini bukan sekadar mengajak umat beribadah lebih rajin, tetapi:
• Meluruskan cara berpikir
• Memurnikan pandangan hidup
• Mengembalikan Islam sebagai manhaj al-hayah (sistem kehidupan)
Allah ﷻ berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.” (QS. Al-An‘am: 153)
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang teguh memegang Hadlarah Islam, cerdas memanfaatkan Madaniyah, dan selamat hingga menghadap Allah dengan hati yang lurus.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)