Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengosongkan Diri dari Dunia, Menghadirkan Akhirat dalam Jiwa

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:37 WIB Last Updated 2026-01-02T06:37:38Z
Renungan dari Nasihat Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

TintaSiyasi.id -- Manusia seringkali terperangkap dalam ilusi panjangnya usia dan manisnya dunia. Padahal, para arif billah justru menjadikan kematian sebagai sahabat batin yang selalu mereka ingat, bukan untuk menakut-nakuti diri, melainkan untuk membersihkan hati dari kelalaian.

Sayyid Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله dalam Fathur Rabbani menasihatkan:
“Perbanyaklah mengingat kematian dan apa yang ada setelahnya, serta Shirath dan apa yang ada sesudahnya. Ingatlah akhirat dengan segala kenikmatan dan siksanya.”

1. Mengingat Kematian: Pintu Kesadaran Ruhani
Mengingat kematian bukanlah tanda keputusasaan, tetapi tanda kebangkitan kesadaran ruhani. Kematian memotong angan-angan palsu, meruntuhkan kesombongan, dan menghidupkan kejujuran dalam amal.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (kematian).”
(HR. Tirmidzi)

Orang yang mengingat kematian akan ringan meninggalkan dosa, cepat bertaubat, dan tulus beramal. Ia tidak lagi beramal demi pujian manusia, karena yang ia pandang adalah hari perjumpaan dengan Allah.

2. Shirath: Jembatan yang Menguji Hakikat Amal
Al-Jailani mengingatkan tentang Shirath, jembatan di atas neraka Jahannam. Ia bukan sekadar simbol, melainkan realitas akhir yang akan dilalui setiap hamba.
• Ada yang melintasinya secepat kilat,
• Ada yang merangkak,
• Ada pula yang tergelincir karena beratnya dosa dan lemahnya tauhid.

Shirath adalah cermin dari kehidupan dunia: lurusnya iman, keikhlasan amal, dan kekuatan melawan hawa nafsu.
Barangsiapa hidup mengikuti syahwat, ia akan terseok-seok.
Barangsiapa hidup bersama Allah, ia akan dimudahkan.

3. Menghadirkan Akhirat: Antara Harap dan Takut
Akhirat bukan hanya tentang surga, tetapi juga tentang neraka. Seorang mukmin sejati berjalan dengan dua sayap:
• Raja’ (harap akan rahmat Allah),
• Khauf (takut akan keadilan-Nya).
Surga memotivasi jiwa untuk taat.
Neraka menahan diri dari maksiat.
Keseimbangan inilah yang melahirkan ketaatan yang matang, bukan ketaatan karena emosi sesaat.

4. Mengosongkan Diri dari Dunia: Jalan Para Wali
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani berkata:
“Kosongkanlah diri dari dunia dengan bersibuk bersama Allah Azza wa Jalla.”
Mengosongkan dunia bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi:
• Dunia tidak menguasai hati,
• Dunia tidak menjadi tujuan,
• Dunia hanya sarana menuju Allah.
Hati yang penuh dunia tidak akan mampu menampung cahaya ma’rifat.

5. Mensucikan Hati dan Sirr
Al-Jailani menekankan penyucian:
• Qalb (hati) dari penyakit riya’, hasad, dan cinta dunia,
• Sirr (rahasia batin) dari selain Allah.
Inilah maqam para salik:
tubuh di dunia,
hati di akhirat,
ruh bersama Allah.

6. Melawan Nafsu dan Memerangi Syetan
Jihad terbesar bukan di medan perang, melainkan di dalam diri.
• Nafsu mengajak pada syahwat,
• Syetan menghiasinya dengan dalih dan pembenaran.
Siapa yang menang atas nafsunya, ia telah menang atas dunia.
7. Mengurangi Kerisauan Dunia
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kosongkanlah diri kalian dari berbagai kerisauan dunia semampu kalian.”

Kerisauan dunia:
• melemahkan iman,
• mengeraskan hati,
• menjauhkan dari tawakal.
Sebaliknya, hati yang diserahkan kepada Allah akan merasakan:
• ketenangan,
• kecukupan,
• keberkahan meski dengan sedikit.

Penutup: Kembali kepada Allah Sebelum Kembali kepada Tanah
Nasihat al-Jailani ini bukan sekadar kata-kata, tetapi peta jalan menuju keselamatan. Siapa yang mengingat kematian, mempersiapkan Shirath, membersihkan hati, dan menyibukkan diri bersama Allah—maka dunia tidak akan mampu menipunya.

“Wahai manusia, kembalilah kepada Allah sebelum kalian dikembalikan kepada-Nya.”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang hidup di dunia dengan hati akhirat, dan berjalan menuju-Nya dengan selamat.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM)

Opini

×
Berita Terbaru Update