Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengobati Penyakit Hati Cinta Dunia

Minggu, 18 Januari 2026 | 10:50 WIB Last Updated 2026-01-18T03:50:42Z

Refleksi Sufistik menurut Imam Al-Ghazali dan Ibnu ‘Athaillah

TintaSiyasi.id -- Penyakit hati yang paling halus, paling berbahaya, dan paling sulit disadari adalah cinta dunia. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk kerakusan harta atau ambisi jabatan. Terkadang ia bersembunyi dalam niat baik, amal saleh, bahkan dalam aktivitas dakwah dan ilmu. Karena itu para ulama tasawuf menyebutnya sebagai penyakit hati yang menipu.

Imam Al-Ghazali dan Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari sama-sama menempatkan cinta dunia sebagai akar dari banyak kerusakan ruhani. Namun mereka juga menghadirkan jalan penyembuhan yang lembut, realistis, dan mendalam.

Hakikat Cinta Dunia

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menegaskan:
“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.”
Yang dimaksud cinta dunia bukanlah sekadar memiliki dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai tujuan, bukan sebagai sarana. Dunia menjadi pusat harapan, sumber kebahagiaan, dan penentu nilai diri.

Ibnu ‘Athaillah menguatkan makna ini dengan hikmah yang tajam:
“Dunia adalah tempat kegelapan, dan yang meneranginya hanyalah cahaya kebenaran.”
Artinya, dunia tidak menjadi masalah selama ia berada di tangan, bukan di hati.

Pandangan Imam Al-Ghazali: Mengobati Cinta Dunia dengan Ilmu dan Muhasabah

Imam Al-Ghazali menawarkan penyembuhan melalui kesadaran intelektual dan latihan ruhani.

1. Mengenali Hakikat Dunia
Menurut Al-Ghazali, dunia itu:
• fana,
• menipu,
• dan tidak pernah setia.
Maka obat pertama cinta dunia adalah menyadari kefanaannya. Seseorang tidak akan mencintai berlebihan sesuatu yang ia tahu akan segera hilang.

2. Mengingat Kematian (Dzikir al-Maut)

Al-Ghazali menekankan pentingnya mengingat kematian, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meluruskan orientasi hidup. Orang yang sering mengingat mati akan:
• ringan melepas dunia,
• berat melakukan dosa,
• dan fokus pada amal yang abadi.

3. Melatih Zuhud yang Seimbang
Zuhud menurut Al-Ghazali bukan meninggalkan dunia secara fisik, tetapi mengosongkan hati dari ketergantungan. Dunia boleh ada, tetapi tidak menguasai jiwa.

Pandangan Ibnu ‘Athaillah: Mengobati Cinta Dunia dengan Penyerahan dan Tauhid Hati

Jika Al-Ghazali menekankan kesadaran dan latihan, Ibnu ‘Athaillah menekankan pembersihan tauhid hati.

1. Meluruskan Ketergantungan
Ibnu ‘Athaillah berkata:
“Tanda matinya hati adalah tidak bersedih atas ketaatan yang luput, dan tidak menyesal atas dosa yang diperbuat.”
Cinta dunia membuat hati bergantung pada makhluk, bukan pada Allah. Maka obatnya adalah mengalihkan ketergantungan dari dunia kepada Allah.

2. Ridha terhadap Pembagian Allah
Dalam Al-Hikam, beliau menegaskan:
“Tenangkan dirimu dari mengatur (urusan dunia), karena apa yang telah diatur oleh selainmu tidak perlu engkau sibukkan.”
Cinta dunia sering lahir dari kegelisahan berlebihan terhadap rezeki, masa depan, dan status. Ridha dan tawakal adalah obat utamanya.

3. Menghadirkan Allah dalam Setiap Keadaan
Ibnu ‘Athaillah mengajarkan bahwa hati yang sibuk dengan Allah akan kehilangan ruang untuk cinta dunia yang berlebihan. Bukan dengan memerangi dunia secara frontal, tetapi dengan menghadirkan Allah secara penuh.

Titik Temu Al-Ghazali dan Ibnu ‘Athaillah
Keduanya sepakat:

• dunia tidak perlu dibenci,
• tetapi cinta berlebihan harus disembuhkan,
• dan hati harus dikembalikan kepada Allah.

Al-Ghazali mengobati dengan ilmu, muhasabah, dan disiplin jiwa.
Ibnu ‘Athaillah mengobati dengan tauhid hati, ridha, dan penyerahan diri.
Ilmu tanpa penyerahan melahirkan kesombongan.
Penyerahan tanpa ilmu melahirkan kelalaian.
Maka keduanya saling melengkapi.

Langkah Praktis Mengobati Cinta Dunia
1. Perbanyak dzikir dan tafakur
2. Latih qana’ah dan syukur
3. Kurangi keluhan, perbanyak ridha
4. Perbanyak sedekah sebagai terapi keterikatan
5. Luruskan niat dalam setiap aktivitas duniawi

Penutup: Mengosongkan Hati untuk Diisi Cahaya

Cinta dunia bukan dihilangkan dengan kebencian, tetapi dikalahkan dengan cinta yang lebih tinggi. Ketika hati dipenuhi cinta kepada Allah, dunia akan turun ke tempat yang semestinya: sebagai pelayan, bukan tuan.

Sebagaimana kata Ibnu ‘Athaillah:
“Jangan heran jika engkau sulit meninggalkan dunia, karena engkau belum benar-benar merasakan manisnya mengenal Allah.”

Semoga Allah menyembuhkan hati kita dari cinta dunia yang berlebihan, menggantinya dengan cinta kepada-Nya, dan menjadikan dunia sebagai jalan, bukan tujuan.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update