Refleksi Sufistik tentang Waktu, Kematian, dan Kesadaran Hidup
TintaSiyasi.id -- Kalimat ini terdengar sederhana, namun menghunjam ke dasar kesadaran: Kita sedang berjalan, bukan menetap. Dunia bukan rumah, melainkan persinggahan. Ia bukan tujuan akhir, tetapi ladang bekal menuju perjalanan yang lebih panjang dan lebih abadi. Setiap hari kita melangkah, namun jarang bertanya: ke mana sebenarnya kita menuju?
Dunia: Tempat Singgah, Bukan Tempat Tinggal
Para arif berkata, hidup di dunia ibarat musafir yang berhenti sejenak untuk mengisi perbekalan. Orang bijak tidak sibuk memperindah tempat singgah, tetapi sibuk memastikan bekalnya cukup dan benar.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” ( QS. Al-Baqarah: 197)
Bekal terbaik bukan harta, jabatan, atau popularitas, melainkan takwa—kesadaran terus-menerus bahwa kita hidup di hadapan Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Bersegeralah, Karena Waktu Tidak Pernah Menunggu
Ungkapan “bersegeralah” adalah panggilan kesadaran. Kematian tidak menunggu kita siap. Ia datang tepat waktu, sementara kita sering menunda taubat, menunda amal, dan menunda perubahan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan: “Penundaan adalah tentara iblis.”
Banyak jiwa yang berniat baik, tetapi tertipu oleh kata nanti. Padahal nanti sering kali tidak pernah datang.
Kematian: Guru Paling Jujur
Kematian bukan musuh kehidupan, tetapi guru paling jujur. Ia mengajarkan bahwa:
• yang kita banggakan akan kita tinggalkan,
• yang kita kejar akan kita lepaskan,
• dan yang tersisa hanyalah amal.
Ibnu ‘Athaillah berkata dengan hikmah yang tajam: “Tiada yang paling bermanfaat bagi hati seperti uzlah yang dengannya ia masuk ke medan tafakur.”
Mengingat kematian bukan untuk menakuti, tetapi untuk menjernihkan prioritas.
Apa Bekal yang Sungguh Kita Bawa?
Ketika tirai dunia ditutup, tidak ada yang ikut kecuali:
• iman yang jujur,
• amal yang ikhlas,
• dan hati yang bersih.
Bekal itu disiapkan bukan di akhir usia, tetapi di setiap hari yang kita jalani. Setiap pilihan adalah investasi akhirat, setiap niat adalah arah perjalanan.
Kesibukan yang Menipu
Sering kali kita sibuk, tetapi bukan sibuk yang benar. Sibuk mengejar dunia, namun lupa menyiapkan bekal pulang. Sibuk mengumpulkan, namun lupa melepaskan. Sibuk menata hidup, namun lupa menata hati.
Tasawuf mengajarkan: yang perlu dipercepat bukan langkah kaki, tetapi kesadaran jiwa.
Penutup: Jangan Pulang dengan Tangan Kosong
Kita akan pergi, cepat atau lambat. Tidak ada pengecualian. Maka pertanyaannya bukan apakah kita akan mati, tetapi dalam keadaan apa kita dipanggil.
Mari berbekal selagi ada waktu.
Mari bersegera selagi pintu taubat masih terbuka. Mari hidup dengan kesadaran bahwa setiap detik adalah amanah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak tertipu oleh dunia, tidak lalai oleh usia, dan pulang kepada-Nya dengan bekal yang diridhai.
اللهم اجعل خير أعمالنا خواتيمها، وخير أيامنا يوم نلقاك
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)