Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengenal Standar Kebahagiaan Dunia: WHR, Butan, Flourishing, dan Perspektif Islam

Selasa, 20 Januari 2026 | 06:59 WIB Last Updated 2026-01-19T23:59:56Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) mengenalkan empat standar kebahagiaan dunia yang kerap berujung membingungkan ketika menetapkan negara mana yang paling bahagia.

 

“Perdebatan tentang “negara paling bahagia” kerap berujung membingungkan. Pasalnya, publik sering mencampuradukkan dua hal yang tampak mirip tetapi sejatinya berbeda: kebahagiaan subjektif dan kesejahteraan manusia yang bersifat multidimensi,” ungkap HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Senin (12/01/2026).

 

Ia menegaskan jika perbedaan sudut pandang itulah yang menjelaskan mengapa satu negara bisa dinilai “bahagia” oleh satu indeks, tetapi hanya “biasa saja” oleh indeks lainnya.

 

Lalu HILMI mencontohkan bagaimana ketika World Happiness Report (WHR) secara konsisten menempatkan Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia, sementara studi Global Flourishing Study justru menobatkan Indonesia sebagai negara paling flourishing.

 

“Ini bukan kontradiksi, melainkan cerminan dari standar kebahagiaan yang berbeda,” tandas HILMI.

 

Lebih lanjut, HILMI membeberkan empat standar kebahagiaan yang ada di dunia.

 

Pertama, bahagia versi World Happiness Report (WHR). “WHR mengukur kebahagiaan berbasis evaluasi hidup. Instrumen utamanya adalah pertanyaan skala 0–10 yang dikenal sebagai Cantril Ladder, di mana responden diminta menilai kualitas hidup mereka secara keseluruhan.

 

“Skor ini kemudian dikaitkan dengan variabel dukungan sosial, pendapatan per kapita, harapan hidup sehat, kebebasan membuat pilihan hidup, persepsi korupsi, dan kedermawanan,” lanjutnya.

 

“Pendekatan ini menjadikan WHR sangat efektif sebagai “termometer global”. Ukurannya ringkas, mudah dibandingkan lintas negara, dan peka terhadap kualitas institusi serta rasa aman dalam kehidupan sehari-hari,” urai HILMI.

Indonesia, berdasarkan laporan yang sama, HILMI menyebut berada di peringkat ke-83 dengan skor 5,617.

 

“Secara konseptual, posisi ini bukan berarti masyarakat Indonesia tidak bahagia, melainkan menunjukkan bahwa evaluasi hidup masyarakat sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan publik, ketertiban institusi, keamanan ekonomi, dan persepsi keadilan,” simpul HILMI.

 

Kedua, bahagia sebagai tujuan negara ala Butan. “Butan melalui konsep Gross National Happiness (GNH). Butan tidak menempatkan kebahagiaan sebagai hasil sampingan pembangunan, melainkan sebagai tujuan eksplisit kebijakan publik,” jelas HILMI.

 

“GNH memetakan kesejahteraan melalui sembilan domain dan 33 indikator, mencakup standar hidup, kesejahteraan psikologis, kesehatan, penggunaan waktu, pendidikan, budaya, tata kelola pemerintahan, vitalitas komunitas, serta keberlanjutan lingkungan,” cetus HILMI.

 

Kerangka itu disebut HILMI menjadikan kebahagiaan sebagai kompas pembangunan, bukan sekadar statistik perbandingan global.

 

“Butan bahkan memiliki pejabat setingkat menteri yang secara khusus mengurusi kebahagiaan nasional. Dalam kerangka ini, kebahagiaan dipahami sebagai kesejahteraan holistik, bukan hanya kepuasan emosional atau pendapatan ekonomi,” lugas HILMI.

 

Ketiga, Studi Global Flourishing. “Kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup yang dipublikasikan di jurnal Nature Mental Health, mendefinisikan flourishing sebagai “hidup yang berjalan baik” dalam banyak dimensi,” sebut HILMI.

 

“Survei lintas 22 negara ini mengukur enam dimensi utama: kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik dan mental, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang dekat, serta keamanan finansial dan material,” paparnya.

 

“Posisi ini dinilai masuk akal karena Indonesia memiliki kekuatan sosial-kultural yang besar, seperti jejaring keluarga, solidaritas komunitas, praktik keagamaan, dan kebiasaan prososial. Namun, keunggulan ini tidak otomatis tercermin dalam skor WHR karena indeks tersebut sangat sensitif terhadap kinerja institusi dan rasa keadilan struktural,” ungkap HILMI.

 

Keempat, perspektif Islam. “Dalam Islam, kebahagiaan (sa‘ādah) tidak direduksi menjadi perasaan subjektif. Kebahagiaan dipahami sebagai hidup yang selaras dengan kehendak Allah.

 

“Al-Qur’an menjanjikan ḥayātan ṭayyibah bagi orang beriman dan beramal saleh, yang oleh para mufasir klasik dimaknai sebagai ketenangan batin, keberkahan hidup, dan rasa cukup,” ulas HILMI.

 

Syariat Islam mencakup praktik konkret yang sejalan dengan temuan studi flourishing modern, yang dicontohkan HILMI seperti keadilan muamalah, zakat dan sedekah, ibadah yang menenangkan jiwa, serta amar makruf nahi mungkar sebagai tanggung jawab sosial.

 

“Dalam perspektif ini, kebahagiaan personal sangat bergantung pada kesehatan moral masyarakat dan keadilan tatanan publik,” pungkas HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update