TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menggambarkan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi peta jalan peradaban masa depan.
“Isra Mikraj bukan sekadar
peristiwa masa lalu, tetapi peta jalan peradaban masa depan,” lugas HILMI dalam
pernyataannya Intellectual Opinion No. 036 kepada TintaSiyasi.ID,
Senin (19/01/2026).
HILMI mengingatkan bahwa umat
yang ingin merdeka harus menguasai domain strategis zamannya, tanpa kehilangan
kompas moral Ilahi.
“Di abad ke-21, langit adalah
teknologi, dan salat adalah sistem nilai yang menjaga teknologi agar tidak
berubah menjadi alat kezaliman,” ulas HILMI.
Ia mengatakan, jika umat Islam
ingin menjaga kedaulatan—baik sebagai bangsa maupun peradaban—maka tidak ada
jalan lain selain mengintegrasikan iman, ilmu, dan kekuasaan secara bertanggung
jawab.
“Tanpa sains, umat akan
tertindas. Tanpa salat kaffah, umat akan menindas atau ditindas. Isra Mikraj
datang untuk mencegah keduanya,” tandas HILMI.
Salat
HILMI mengatakan, seharusnya salat ditempatkan sebagai sistem pencegah
kezaliman struktural dalam pembacaan Isra Mikraj, bukan sekadar ritual privat
tanpa dampak pada tata kelola kekuasaan dan keadilan.
“Puncak Isra Mikraj bukan
penguasaan langit, tetapi perintah salat yang diterima langsung tanpa
perantara,” tegas HILMI.
HILMI menilai, ayat tentang salat
yang mencegah perbuatan keji dan munkar kerap direduksi menjadi nasihat moral
individual. “Padahal kemunkaran terbesar hari ini bersifat sistemis dan
dilembagakan,” tandasnya.
“Penjarahan sumber daya, sanksi
ekonomi yang mematikan rakyat sipil, manipulasi informasi global, hingga
penjajahan berbasis teknologi adalah kemunkaran modern,” tegas HILMI.
Karena itu, ia menyebut salat
dipahami tidak cukup berhenti pada disiplin personal, tetapi harus
termanifestasi dalam sistem hukum, politik, dan ekonomi negara.
“Negara yang menegakkan salat
adalah negara yang menjadikan hukum Allah sebagai rujukan keadilan dan
melindungi rakyat dari kezaliman,” lugas HILMI.
Isra Mikraj, dalam pandangan ini,
dinyatakan HILMI telah mempertemukan dua pilar peradaban yang tidak boleh
dipisahkan, yaitu ilmu dan syariat.
“Teknologi tanpa nilai Ilahi
melahirkan penindasan canggih, sementara kesalehan tanpa kekuatan ilmu
melahirkan umat yang rapuh secara struktural,” tuturnya.
“Langit harus didekati dengan
ilmu, dan bumi harus diatur dengan salat,” simpulnya.[] Rere
