Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Isra Mikraj Adalah Adalah Peta Jalan Peradaban Masa Depan

Selasa, 20 Januari 2026 | 07:00 WIB Last Updated 2026-01-20T00:00:48Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menggambarkan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi peta jalan peradaban masa depan.

 

“Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi peta jalan peradaban masa depan,” lugas HILMI dalam pernyataannya Intellectual Opinion No. 036 kepada TintaSiyasi.ID, Senin (19/01/2026).

 

HILMI mengingatkan bahwa umat yang ingin merdeka harus menguasai domain strategis zamannya, tanpa kehilangan kompas moral Ilahi.

 

“Di abad ke-21, langit adalah teknologi, dan salat adalah sistem nilai yang menjaga teknologi agar tidak berubah menjadi alat kezaliman,” ulas HILMI.

 

Ia mengatakan, jika umat Islam ingin menjaga kedaulatan—baik sebagai bangsa maupun peradaban—maka tidak ada jalan lain selain mengintegrasikan iman, ilmu, dan kekuasaan secara bertanggung jawab.

 

“Tanpa sains, umat akan tertindas. Tanpa salat kaffah, umat akan menindas atau ditindas. Isra Mikraj datang untuk mencegah keduanya,” tandas HILMI.

 

Salat


HILMI mengatakan, seharusnya salat ditempatkan sebagai sistem pencegah kezaliman struktural dalam pembacaan Isra Mikraj, bukan sekadar ritual privat tanpa dampak pada tata kelola kekuasaan dan keadilan.

 

“Puncak Isra Mikraj bukan penguasaan langit, tetapi perintah salat yang diterima langsung tanpa perantara,” tegas HILMI.

 

HILMI menilai, ayat tentang salat yang mencegah perbuatan keji dan munkar kerap direduksi menjadi nasihat moral individual. “Padahal kemunkaran terbesar hari ini bersifat sistemis dan dilembagakan,” tandasnya.

 

“Penjarahan sumber daya, sanksi ekonomi yang mematikan rakyat sipil, manipulasi informasi global, hingga penjajahan berbasis teknologi adalah kemunkaran modern,” tegas HILMI.

 

Karena itu, ia menyebut salat dipahami tidak cukup berhenti pada disiplin personal, tetapi harus termanifestasi dalam sistem hukum, politik, dan ekonomi negara.

 

“Negara yang menegakkan salat adalah negara yang menjadikan hukum Allah sebagai rujukan keadilan dan melindungi rakyat dari kezaliman,” lugas HILMI.

 

Isra Mikraj, dalam pandangan ini, dinyatakan HILMI telah mempertemukan dua pilar peradaban yang tidak boleh dipisahkan, yaitu ilmu dan syariat.

 

“Teknologi tanpa nilai Ilahi melahirkan penindasan canggih, sementara kesalehan tanpa kekuatan ilmu melahirkan umat yang rapuh secara struktural,” tuturnya.

 

“Langit harus didekati dengan ilmu, dan bumi harus diatur dengan salat,” simpulnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update