Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mencetak Generasi Emas, Bukan Generasi Cemas dalam Perspektif Islam

Selasa, 20 Januari 2026 | 17:08 WIB Last Updated 2026-01-20T10:08:20Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Potret Generasi Hari Ini

Kita hidup di zaman yang paradoksal. Di satu sisi, generasi muda tumbuh dengan akses ilmu, teknologi, dan informasi yang luar biasa. Namun di sisi lain, justru muncul fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu generasi cemas. Mudah gelisah, rapuh mental, kehilangan arah hidup, dan krisis makna.

Islam sejak awal hadir bukan sekadar sebagai agama ritual, tetapi sebagai manhaj al-hayah, yaitu sistem kehidupan yang menenangkan jiwa dan menuntun peradaban. Maka pertanyaannya, mengapa umat Islam hari ini banyak melahirkan generasi cemas, bukan generasi emas? Di sinilah pentingnya kita kembali kepada paradigma pendidikan dan pembinaan generasi dalam Islam.

Makna Generasi Emas dalam Islam

Dalam Islam, generasi emas bukan sekadar generasi berprestasi secara akademik atau sukses secara materi. Generasi emas adalah generasi yang:

Kuat akidahnya

Lurus akhlaknya

Cerdas akalnya

Tenang jiwanya

Bermanfaat bagi umat dan peradaban

Allah Ta‘ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (unggul dan seimbang).”
(QS. Al-Baqarah: 143).

Generasi emas adalah generasi wasathiyah—seimbang antara ruhani dan jasmani, antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal.

Akar Munculnya Generasi Cemas

Kecemasan generasi hari ini bukan semata-mata persoalan psikologis, tetapi krisis paradigma hidup. Beberapa penyebab utamanya antara lain:

1. Pemisahan Agama dari Kehidupan
Islam direduksi menjadi ritual, bukan pedoman hidup. Akibatnya, generasi muda kehilangan pegangan nilai ketika menghadapi masalah hidup.

2. Orientasi Hidup yang Keliru
Hidup diukur dengan standar dunia: popularitas, materi, dan validasi manusia, bukan ridha Allah.

3. Minimnya Pendidikan Ruhani
Hati tidak pernah diasah dengan dzikir, tafakkur, dan tadabbur Al-Qur’an. Sehingga, jiwa menjadi kosong.

4. Tekanan Sosial dan Digital
Media sosial menciptakan ilusi kebahagiaan dan standar semu kesuksesan yang melahirkan rasa rendah diri dan kecemasan berlebihan.

Padahal Allah telah mengingatkan:

>أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28).

Islam sebagai Solusi Kecemasan Generasi

Islam tidak menafikan masalah kecemasan, tetapi memberikan solusi yang menyeluruh. Beberapa pilar penting dalam mencetak generasi emas antara lain:

1. Menanamkan Akidah yang Menenangkan

Akidah Islam mengajarkan bahwa hidup ini berada dalam genggaman Allah. Tidak ada musibah tanpa hikmah, tidak ada rezeki yang tertukar, dan tidak ada usaha yang sia-sia.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
(QS. At-Taghabun: 11)


Keyakinan ini melahirkan ketenangan eksistensial. Jiwa tidak mudah panik menghadapi masa depan.

2. Pendidikan Berbasis Tujuan Akhirat

Generasi emas dididik untuk memahami untuk apa mereka hidup, bukan sekadar bagaimana hidup. Tujuan hidup seorang Muslim adalah ibadah dan pengabdian kepada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ketika tujuan hidup jelas, kecemasan akan masa depan akan berkurang karena hidup tidak lagi absurd dan tanpa makna.

3. Menumbuhkan Tawakal, Bukan Fatalisme

Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Generasi emas adalah generasi yang bekerja keras tanpa kehilangan ketenangan jiwa.

Rasulullah Saw., bersabda:
“Ikatlah untamu dan bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). 

Tawakal melahirkan keberanian menghadapi kegagalan dan keteguhan menghadapi ujian.

4. Keteladanan Orang Tua dan Pendidik

Tidak ada pendidikan karakter tanpa keteladanan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Rasulullah Saw., adalah teladan generasi emas sepanjang zaman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
(QS. Al-Ahzab: 21)

Orang tua dan guru harus menjadi figur yang tenang, optimis, dan beriman, bukan penyebar kecemasan.

Mencetak Generasi Emas: Sebuah Proyek Peradaban

Mencetak generasi emas bukan proyek instan, tetapi proyek peradaban jangka panjang. Ia membutuhkan:

Sistem pendidikan yang berbasis iman

Lingkungan yang sehat secara spiritual

Dakwah yang menenangkan, bukan menakutkan

Kurikulum yang menyatukan ilmu, adab, dan amal

Sebagaimana doa para nabi:

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
(QS. Al-Furqan: 74).

Penutup: Dari Cemas Menuju Emas

Generasi cemas lahir dari kehidupan tanpa makna. Generasi emas lahir dari iman yang hidup, ilmu yang menuntun, dan akhlak yang membumi. Islam tidak hanya ingin melahirkan manusia pintar, tetapi manusia yang tenang, tangguh, dan tercerahkan.

Sudah saatnya umat ini kembali menjadikan Islam sebagai mafahim kehidupan, bukan sekadar pengetahuan. Dari sanalah akan lahir generasi yang bukan hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga siap memimpin peradaban dengan cahaya iman.

Dr Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update