Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Memanusiakan Manusia Hanya dengan Islam

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:39 WIB Last Updated 2026-01-02T06:39:34Z
TintaSiyasi.id -- Memanusiakan manusia bukan sekadar memberi hak hidup, kebebasan berbicara, atau kesejahteraan materi. Memanusiakan manusia adalah menempatkan manusia sesuai hakikat penciptaannya: sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.

Dan tidak ada sistem yang lebih memahami manusia kecuali sistem dari Penciptanya sendiri.

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (hakikat ciptaan-Nya)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

1. Allah Maha Tahu, Karena Dia Maha Pencipta

Manusia modern sering merasa mampu membuat aturan hidup sendiri—tanpa Tuhan. Lahirlah berbagai ideologi: liberalisme, sekularisme, kapitalisme, sosialisme, humanisme ateistik. Semuanya mengklaim memuliakan manusia.

Namun faktanya: Manusia dimuliakan secara fisik, tapi dikosongkan secara ruhani

Manusia dibebaskan secara hawa nafsu, tapi dibelenggu secara batin

Manusia dijunjung haknya, tapi dilupakan kewajibannya

Islam datang dengan prinsip yang sederhana namun agung: Yang menciptakan manusia, Dialah yang paling tahu aturan hidup manusia.

Seperti mesin yang rumit, manual terbaiknya pasti dari pabrik pembuatnya, bukan dari pengguna yang mencoba-coba.

2. Islam Memuliakan Manusia Secara Utuh

Islam tidak melihat manusia hanya sebagai:

Tubuh → lalu diberi kebebasan biologis

Akal → lalu dibiarkan tanpa wahyu

Individu → lalu dilepas dari tanggung jawab sosial

Islam melihat manusia sebagai:

Jasad → dijaga dengan halal-haram

Akal → diarahkan dengan ilmu dan hikmah

Hati dan ruh → disucikan dengan iman dan ibadah

Sosial → diikat dengan keadilan dan amanah

Tujuan hidup → diarahkan menuju akhirat

Inilah kemanusiaan sejati.

“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)

Kemuliaan ini bukan hasil voting manusia, tetapi pemberian langsung dari Allah.

3. Tanpa Islam, Manusia Kehilangan Arah

Ketika manusia tidak lagi tunduk kepada Allah:

Yang kuat menindas yang lemah

Yang kaya mengeksploitasi yang miskin

Yang pintar memanipulasi yang awam

Yang berkuasa menghalalkan kezaliman

Ironisnya, semua itu sering dibungkus atas nama hak asasi manusia.

Padahal Islam sejak 14 abad lalu telah menegaskan:

Tidak boleh menzalimi

Tidak boleh menipu

Tidak boleh merusak

Tidak boleh merendahkan martabat manusia

Bahkan terhadap musuh sekalipun, Islam tetap menuntut keadilan.

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

4. Syariat Bukan Penjara, Tapi Penjaga Kemanusiaan

Sebagian orang menuduh: “Islam membatasi kebebasan manusia.”

Padahal yang dibatasi oleh Islam bukan kemanusiaan, melainkan kebinatangan manusia.

Syariat hadir untuk:

Menjaga akal dari kerusakan

Menjaga jiwa dari kehancuran

Menjaga kehormatan dari kehinaan

Menjaga harta dari ketidakadilan

Menjaga agama dari penyimpangan

Inilah maqashid syariah—inti kemanusiaan dalam Islam.

5. Islam adalah Jalan Memanusiakan dan Mengangkat Derajat

Islam tidak hanya membuat manusia hidup, tetapi membuat manusia bermakna.

Islam tidak hanya mengajarkan cara bekerja, tetapi cara hidup dan cara mati dengan mulia.

Islam tidak hanya membangun dunia, tetapi menyelamatkan akhirat.

Manusia tanpa Islam hanyalah makhluk yang berjalan, tetapi manusia dengan Islam adalah hamba yang bermartabat.

Penutup: Kembali kepada Aturan Sang Pencipta

Jika dunia hari ini penuh luka, ketidakadilan, krisis moral, dan kehampaan jiwa, maka jawabannya bukan mengganti Tuhan, tetapi kembali kepada Tuhan.

Karena: Memanusiakan manusia hanya mungkin dengan Islam. Dan Allah-lah yang paling tahu aturan terbaik bagi manusia, karena Dialah yang menciptakan manusia.

Semoga kita tidak hanya bangga dengan Islam sebagai identitas, tetapi hidup di bawah naungan Islam sebagai sistem kehidupan.

Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update