TintaSiyasi.id -- Memanusiakan manusia bukan sekadar memberi hak hidup, kebebasan berbicara, atau kesejahteraan materi. Memanusiakan manusia adalah menempatkan manusia sesuai hakikat penciptaannya: sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Dan tidak ada sistem yang lebih memahami manusia kecuali sistem dari Penciptanya sendiri.
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (hakikat ciptaan-Nya)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)
1. Allah Maha Tahu, Karena Dia Maha Pencipta
Manusia modern sering merasa mampu membuat aturan hidup sendiri—tanpa Tuhan. Lahirlah berbagai ideologi: liberalisme, sekularisme, kapitalisme, sosialisme, humanisme ateistik. Semuanya mengklaim memuliakan manusia.
Namun faktanya: Manusia dimuliakan secara fisik, tapi dikosongkan secara ruhani
Manusia dibebaskan secara hawa nafsu, tapi dibelenggu secara batin
Manusia dijunjung haknya, tapi dilupakan kewajibannya
Islam datang dengan prinsip yang sederhana namun agung: Yang menciptakan manusia, Dialah yang paling tahu aturan hidup manusia.
Seperti mesin yang rumit, manual terbaiknya pasti dari pabrik pembuatnya, bukan dari pengguna yang mencoba-coba.
2. Islam Memuliakan Manusia Secara Utuh
Islam tidak melihat manusia hanya sebagai:
Tubuh → lalu diberi kebebasan biologis
Akal → lalu dibiarkan tanpa wahyu
Individu → lalu dilepas dari tanggung jawab sosial
Islam melihat manusia sebagai:
Jasad → dijaga dengan halal-haram
Akal → diarahkan dengan ilmu dan hikmah
Hati dan ruh → disucikan dengan iman dan ibadah
Sosial → diikat dengan keadilan dan amanah
Tujuan hidup → diarahkan menuju akhirat
Inilah kemanusiaan sejati.
“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan ini bukan hasil voting manusia, tetapi pemberian langsung dari Allah.
3. Tanpa Islam, Manusia Kehilangan Arah
Ketika manusia tidak lagi tunduk kepada Allah:
Yang kuat menindas yang lemah
Yang kaya mengeksploitasi yang miskin
Yang pintar memanipulasi yang awam
Yang berkuasa menghalalkan kezaliman
Ironisnya, semua itu sering dibungkus atas nama hak asasi manusia.
Padahal Islam sejak 14 abad lalu telah menegaskan:
Tidak boleh menzalimi
Tidak boleh menipu
Tidak boleh merusak
Tidak boleh merendahkan martabat manusia
Bahkan terhadap musuh sekalipun, Islam tetap menuntut keadilan.
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
4. Syariat Bukan Penjara, Tapi Penjaga Kemanusiaan
Sebagian orang menuduh: “Islam membatasi kebebasan manusia.”
Padahal yang dibatasi oleh Islam bukan kemanusiaan, melainkan kebinatangan manusia.
Syariat hadir untuk:
Menjaga akal dari kerusakan
Menjaga jiwa dari kehancuran
Menjaga kehormatan dari kehinaan
Menjaga harta dari ketidakadilan
Menjaga agama dari penyimpangan
Inilah maqashid syariah—inti kemanusiaan dalam Islam.
5. Islam adalah Jalan Memanusiakan dan Mengangkat Derajat
Islam tidak hanya membuat manusia hidup, tetapi membuat manusia bermakna.
Islam tidak hanya mengajarkan cara bekerja, tetapi cara hidup dan cara mati dengan mulia.
Islam tidak hanya membangun dunia, tetapi menyelamatkan akhirat.
Manusia tanpa Islam hanyalah makhluk yang berjalan, tetapi manusia dengan Islam adalah hamba yang bermartabat.
Penutup: Kembali kepada Aturan Sang Pencipta
Jika dunia hari ini penuh luka, ketidakadilan, krisis moral, dan kehampaan jiwa, maka jawabannya bukan mengganti Tuhan, tetapi kembali kepada Tuhan.
Karena: Memanusiakan manusia hanya mungkin dengan Islam. Dan Allah-lah yang paling tahu aturan terbaik bagi manusia, karena Dialah yang menciptakan manusia.
Semoga kita tidak hanya bangga dengan Islam sebagai identitas, tetapi hidup di bawah naungan Islam sebagai sistem kehidupan.
Aamiin.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)