Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menenangkan Jiwa di Tengah Dunia yang Semrawut

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41 WIB Last Updated 2026-01-02T06:41:46Z
Nasihat Sufistik ala Al-Ghazali dan Ibnu ‘Athaillah

Pendahuluan: Kegaduhan Dunia dan Keresahan Jiwa

TintaSiyasi.id -- Zaman ini ditandai oleh hiruk-pikuk yang tiada henti. Informasi berlari lebih cepat dari kebijaksanaan, suara lebih nyaring dari makna, dan ambisi sering kali lebih keras dari nurani. Manusia modern hidup di tengah dunia yang tampak maju, tetapi jiwanya kerap tertinggal—gelisah, cemas, dan lelah tanpa sebab yang jelas.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin telah lama mengingatkan bahwa sumber kegelisahan bukanlah dunia itu sendiri, melainkan hati yang terlalu terpaut kepadanya. Sementara Ibnu ‘Athaillah menegaskan dalam Al-Hikam bahwa ketenangan adalah buah dari ma’rifat dan tawakal, bukan dari kepemilikan dan kendali.

Dunia Tidak Diciptakan untuk Memberi Ketenangan

Salah satu kesalahan mendasar manusia adalah mengira dunia akan memberinya ketenteraman. Padahal Allah tidak pernah menjanjikan dunia sebagai tempat istirahat, melainkan sebagai tempat ujian.

Al-Ghazali berkata: “Dunia adalah ladang akhirat. Barang siapa menjadikannya tempat bersantai, ia akan menuai penyesalan.”

Ketenangan sejati bukan hasil dari dunia yang tertata, tetapi dari hati yang tertata oleh iman. Selama hati menggantungkan ketenteraman pada keadaan luar, selama itu pula ia akan mudah terguncang.

Hati: Pusat Kekacauan dan Pusat Ketenangan

Menurut Al-Ghazali, hati ibarat cermin. Jika ia dipenuhi debu syahwat, ambisi, dan ketakutan duniawi, maka cahaya kebenaran tidak akan memantul di dalamnya.

Ibnu ‘Athaillah berkata: “Bagaimana mungkin hati akan bersinar, jika bayang-bayang dunia masih melekat di cermin hatinya?”

Maka jurus pertama menenangkan pikiran adalah membersihkan hati, bukan memperbaiki keadaan luar.

Tawakal: Melepaskan Beban dari Diri Sendiri

Banyak orang gelisah bukan karena masalah terlalu besar, tetapi karena memikul beban yang bukan tugasnya. Ia ingin mengatur takdir, memastikan hasil, dan mengendalikan semua kemungkinan.

Ibnu ‘Athaillah menasihati: “Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu. Apa yang telah diurus oleh selainmu, jangan kau sibukkan dirimu dengannya.”

Tawakal bukan sikap pasif, melainkan keberanian menyerahkan hasil setelah ikhtiar maksimal. Saat tawakal hadir, pikiran menjadi ringan karena tidak lagi memaksa dunia tunduk pada kehendak diri.

Shalat: Pintu Ketenangan yang Sering Diabaikan

Al-Ghazali menegaskan bahwa shalat bukan sekadar gerakan, tetapi mi’raj-nya orang beriman. Shalat yang khusyuk adalah terapi ruhani paling ampuh untuk menenangkan jiwa.

Allah berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Shalat yang dilakukan dengan kesadaran akan kehadiran Allah akan menarik jiwa keluar dari pusaran dunia, meski hanya sejenak—namun cukup untuk menata ulang batin.

Menyederhanakan Harapan, Memperluas Ridha

Ibnu ‘Athaillah mengajarkan bahwa banyak kegelisahan lahir dari harapan yang berlebihan kepada makhluk dan tuntutan yang tinggi terhadap dunia.

“Tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan ketika tergelincir.”

Orang yang hatinya bergantung pada Allah akan tetap tenang meski hasil tidak sesuai rencana, karena yang ia cari bukan dunia, melainkan ridha Rabb-nya.

Diam dan Uzlah: Obat bagi Hati yang Lelah

Al-Ghazali menganjurkan uzlah—bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menjaga jarak dari hiruk-pikuk yang merusak hati.

Diam yang penuh kesadaran lebih menenangkan daripada seribu kata tanpa makna. Dalam diam, jiwa belajar mendengar suara hati dan bisikan Ilahi.

Syukur: Kunci Ketenangan yang Terlupakan

Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara pandang. Orang yang bersyukur melihat nikmat, bukan kekurangan; peluang, bukan kehilangan.

Ibnu ‘Athaillah berkata: “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang ada, akan diuji dengan kehilangan tanpa sadar.”

Syukur menenangkan jiwa karena ia mengembalikan fokus kepada karunia, bukan tuntutan.

Penutup: Tenang Bersama Allah

Wahai jiwa yang lelah, jika dunia terasa semrawut, jangan heran. Yang perlu kau pastikan bukan dunia menjadi tenang, tetapi hatimu pulang kepada Allah.

Ketenangan bukan ketika masalah selesai,
melainkan ketika hati bersandar sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.

“Barang siapa mengenal Allah, ia akan merasa cukup dengan-Nya, meski dunia menolaknya.” — Hikmah para arif billah

Semoga Allah menenangkan hati kita dengan iman,
menjernihkan pikiran kita dengan dzikir,
dan menuntun langkah kita menuju ridha-Nya.

اللهم طهّر قلوبنا، وامنحنا سكينة العارفين بك.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update