TintaSiyasi.id -- Seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra, terlibat adu jotos dengan siswanya hingga video yang memuat aksi tersebut viral di media sosial. Tak berhenti di situ, Agus Saputra melaporkan peristiwa adu jotos tersebut ke Polda Jambi sebagai penganiayaan.
Peristiwa keributan hingga adu jotos itu terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur. Dari video yang beredar selama 58 detik, awalnya Agus sempat menyampaikan perkataan melalui mikrofon. Belakangan diketahui bahwa perkataan Agus diduga merupakan hinaan yang menyulut amarah sejumlah siswa hingga adu jotos pun terjadi. (Detiknews, 17 Januari 2026)
Kasus kekerasan dalam dunia pendidikan sangat sering terjadi. Hal ini bukan sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat, melainkan merupakan indikasi bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan yang diterapkan saat ini. Pendidikan sekuler yang diterapkan hanya menekankan ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan nilai-nilai moral dan spiritual.
Saat ini, tidak sedikit pelajar yang kurang, bahkan tidak memiliki, rasa hormat terhadap para pendidiknya. Mereka berani melawan, mencaci, hingga menganiaya pendidik. Tidak dipungkiri pula, terdapat pendidik yang kerap menghina, merendahkan, bahkan melabeli murid dengan kata-kata yang melukai kondisi psikologis. Hubungan guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru sering kali berjalan sebaliknya.
Pendidikan merupakan kunci utama bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berkualitas pula. Pendidikan tidak hanya bermanfaat bagi individu semata, tetapi juga bagi kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini hanya mengutamakan keterampilan duniawi dan memfokuskan pendidikan pada pengetahuan dunia saja. Sementara itu, ilmu agama hanya diberikan porsi secukupnya, bahkan terkesan sekadar sebagai pelengkap. Para pendidik kurang menanamkan nilai moral dan spiritual kepada peserta didik. Sering kali hal ini terhalang oleh pemisahan agama dari pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini. Akibatnya, para pelajar menjadi rentan kehilangan arah, mudah terpengaruh hal-hal negatif, serta kesulitan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah alasan mengapa sangat penting untuk mengembalikan pendidikan pada asas yang benar. Jika sistem Islam diterapkan, negara berperan memastikan kurikulum berlandaskan pada akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar.
Sistem pendidikan Islam memandang bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak individu yang cerdas, tetapi juga melahirkan generasi yang beradab dan berakhlak. Rasulullah SAW bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Dalam sistem pendidikan Islam, pendidik merupakan figur teladan, bukan sekadar pengajar. Guru adalah sosok yang mulia, tidak hanya menyampaikan ilmu keduniawian, tetapi juga membimbing akhlak dan spiritual serta menjadi suri teladan bagi peserta didik. Peserta didik akan memperoleh pendidikan yang benar, tidak hanya mempelajari ilmu dunia, tetapi juga memahami bagaimana membentuk kepribadian Islam. Dengan demikian, akan lahir generasi berprestasi yang beriman dan berakhlak mulia.
Oleh: Annisa Evendi
Aktivis Dakwah