TintaSiyasi.id -- Manusia pada hakikatnya tidak pernah hidup tanpa asas. Setiap pola pikir, sikap hidup, dan orientasi tindakan selalu bertumpu pada suatu mabda’—seperangkat keyakinan dan pemikiran dasar yang menjadi fondasi dalam memandang kehidupan. Karena itu, persoalan terpenting bukanlah sekadar apakah manusia memiliki mabda’ melainkan apakah mabda’ yang dianut itu sahih dan benar.
Islam menegaskan bahwa kesahihan mabda’ ditentukan oleh sumbernya. Dari mana ia berasal, kepada siapa ia bersandar, dan nilai apa yang dijadikan rujukan tertinggi. Sebab, sumber inilah yang akan menentukan arah kehidupan manusia, baik secara individual maupun kolektif.
Kesahihan Mabda’ Ditinjau dari Sumbernya
Mabda’ yang bersumber dari akal manusia semata bersifat terbatas dan relatif. Akal manusia, meskipun memiliki kemampuan analitis yang tinggi, tetap terikat oleh ruang, waktu, kepentingan, dan hawa nafsu. Oleh karena itu, ideologi buatan manusia senantiasa mengalami perubahan, revisi, bahkan kontradiksi internal, seiring berubahnya kondisi sosial dan kepentingan politik.
Sebaliknya, mabda’ yang bersumber dari wahyu Allah SWT memiliki legitimasi kebenaran yang mutlak. Allah adalah Pencipta manusia dan kehidupan, sehingga hanya Dia yang mengetahui secara sempurna hakikat, kebutuhan, dan tujuan hidup manusia.
Allah SWT berfirman:
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
(QS. Al-Mulk: 14)
Islam sebagai mabda’ tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tetapi mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia: akidah, syariah, akhlak, sosial, ekonomi, dan peradaban. Inilah yang menjadikan Islam bersifat menyeluruh dan solutif.
Tiga Ciri Mabda’ atau Ideologi yang Benar
Selain ditinjau dari sumbernya, mabda’ yang benar dapat dikenali melalui tiga ciri utama yang bersifat objektif dan aplikatif dalam kehidupan manusia.
1. Memuaskan Akal
Mabda’ yang benar tidak bertentangan dengan akal sehat. Ia mampu memberikan penjelasan rasional terhadap persoalan-persoalan fundamental kehidupan: asal-usul manusia, tujuan hidup, dan hakikat kehidupan setelah kematian.
Islam menempatkan akal sebagai instrumen penting untuk memahami kebenaran, bukan sebagai penentu kebenaran mutlak. Karena itu, Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk berpikir dan merenung.
“Apakah mereka tidak menggunakan akal?” (QS. Yūnus: 100)
Dengan demikian, mabda’ Islam memuaskan akal tanpa menuhankannya, serta membimbing akal agar berjalan dalam koridor kebenaran wahyu.
2. Sesuai dengan Fitrah Manusia
Manusia diciptakan dengan fitrah, yakni kecenderungan alami untuk mengenal Tuhan, mencintai kebenaran, dan menginginkan kehidupan yang bermakna. Mabda’ yang benar tidak memusuhi fitrah tersebut, melainkan mengarahkannya agar tidak menyimpang.
Islam mengakui dan mengatur naluri manusia—seperti naluri beragama, cinta, kepemilikan, dan keberlangsungan hidup—agar tetap berjalan seimbang dan tidak merusak diri maupun masyarakat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ideologi yang bertentangan dengan fitrah akan melahirkan konflik batin, kegelisahan psikologis, dan ketidakharmonisan sosial.
3. Menentramkan Hati
Ciri ketiga dari mabda’ yang benar adalah menentramkan hati. Ketenteraman batin tidak lahir dari kepuasan materi semata atau kemenangan logika, tetapi dari keyakinan yang menghubungkan manusia dengan Penciptanya.
Islam menanamkan kesadaran bahwa kehidupan berada dalam pengaturan Allah SWT, bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah, dan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.
Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ketenteraman ini melahirkan keteguhan sikap, kesabaran dalam ujian, dan kerendahan hati dalam keberhasilan.
Islam sebagai Mabda’ yang Paripurna
Ketika sebuah mabda’ bersumber dari wahyu dan memenuhi tiga ciri utama—memuaskan akal, sesuai dengan fitrah manusia, dan menentramkan hati—maka mabda’ tersebut layak dijadikan asas kehidupan. Islam memenuhi ketiga kriteria tersebut secara utuh dan konsisten.
Oleh karena itu, Islam bukan sekadar agama dalam pengertian ritual, melainkan mabda’ kehidupan yang membentuk manusia secara intelektual, moral, dan spiritual.
Penutup
Dakwah Islam pada hakikatnya adalah upaya mengajak manusia kembali kepada mabda’ yang benar: mabda’ yang sahih sumbernya dan nyata dampaknya dalam membangun kehidupan yang bermakna. Ketika mabda’ Islam dipahami dan diamalkan secara benar, ia akan melahirkan manusia yang berpikir lurus, berjiwa tenang, dan berperan positif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Āli ‘Imrān: 85)
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM, Coach Pengusaha Hijrah)