(Renungan Ruhani dan Muhasabah Diri)
TintaSiyasi.id -- Pada titik tertentu dalam kehidupan, manusia akan sampai pada sebuah kesadaran sunyi: bahwa tidak semua yang dikejar mampu memberi ketenangan, dan tidak semua yang dimiliki sanggup mengusir kegelisahan. Kita berlari setiap hari.
Berlari mengejar dunia yang tidak pernah menunggu. Berlari mengejar pengakuan yang mudah berpaling. Namun sering kali lupa satu lari yang justru menentukan keselamatan hidup: lari menuju Allah SWT.
Allah berfirman:
فَفِرُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۖ إِنِّي لَكُم مِّنۡهُ نَذِيرٞ مُّبِينٞ
“Maka berlarilah kalian menuju Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya untuk kalian.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 50)
Oleh sebab itu, hendaklah manusia meminta perlindungan kepada Allah dan berpegang kepada-Nya dalam segala urusan dan masalahnya dengan menaati segala perintah-Nya dan bekerja untuk tujuan taat kepada-Nya.
Allah swt selanjutnya akan menyiksa orangorang yang tidak menaati perintah-Nya. Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan rasul-Nya supaya menegaskan bahwa ia sesungguhnya mendapat amanat dari Allah swt untuk menyampaikan kepada manusia bahwa Allah swt akan membalas dengan siksaan kepada mereka atas segala pelanggaran pelanggaran terhadap perintah-Nya, sebagaimana Allah swt menurunkan siksa-Nya kepada umat-umat yang terdahulu.
Ayat ini bukan perintah untuk kaki, melainkan panggilan untuk hati yang sadar. Bukan lari fisik, tetapi lari spiritual—gerak batin menuju sumber ketenangan sejati.
Lari Spiritual: Kesadaran Kembali ke Fitrah
Lari menuju Allah bukan berarti menjauhi dunia, melainkan membebaskan hati dari perbudakan dunia. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak dijadikan tujuan akhir. Jabatan, harta, dan popularitas tidak lagi menjadi pusat orientasi, melainkan sekadar wasilah.
Dalam perspektif ruhani, lari menuju Allah adalah:
• Taubat yang tidak ditunda
• Istighfar yang lahir dari kesadaran, bukan kebiasaan
• Shalat yang menjadi tempat pulang, bukan sekadar kewajiban
• Dzikir yang menghidupkan hati, bukan hanya menggerakkan lisan
Di sinilah seorang hamba mulai jujur kepada dirinya sendiri: bahwa ia lemah, terbatas, dan tidak akan mampu berdiri tanpa rahmat Allah.
Mengapa Harus Berlari?
Karena waktu tidak pernah kompromi. Usia terus berkurang, sementara kelalaian sering bertambah. Hati bisa mengeras tanpa disadari, dan dosa bisa terasa biasa jika dibiarkan.
Para ulama salaf mengingatkan:
“Menunda kebaikan adalah awal dari kegagalan spiritual.” Maka, jangan menunggu suci untuk taubat, jangan menunggu lapang untuk beribadah, dan jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Allah.
Berlarilah sebelum hati kehilangan rasa takut, berlarilah sebelum amal terasa hampa, berlarilah sebelum kesempatan benar-benar tertutup.
Rahmat Allah: Tujuan Tertinggi dari Larian
Sehebat apa pun amal manusia, ia tetap tidak akan cukup tanpa rahmat Allah.
Inilah puncak kesadaran tauhid:
bahwa surga bukan hasil transaksi amal, melainkan anugerah kasih sayang-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya semata.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rahmat Allah hadir bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia:
• Dalam ketenangan saat diuji
• Dalam kesabaran saat kehilangan
• Dalam harapan saat doa terasa tertunda
• Dalam cahaya hidayah ketika jalan terasa gelap
Ciri Orang yang Sedang Berlari Menuju Allah
Orang yang berlari menuju Allah tidak selalu tampak sempurna, namun hatinya selalu ingin kembali.
Tandanya:
1. Ia mudah tersentuh oleh kebenaran
2. Ia tidak bangga dengan amalnya, tetapi takut amalnya ditolak
3. Ia cepat bangkit saat jatuh dalam dosa
4. Ia lebih takut kehilangan Allah daripada kehilangan dunia
Ia sadar, sejauh apa pun ia menjauh, Allah tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Berlarilah, Jangan Menyerah
Jika engkau lelah, jangan berhenti—sujudlah.
Jika engkau jatuh, jangan putus asa—bertaubatlah.
Jika engkau merasa jauh, ingatlah—Allah Maha Dekat.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: “Barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
Maka jangan ragu untuk memulai, meski dengan langkah tertatih. Karena lari menuju Allah bukan tentang kecepatan, tetapi tentang kesungguhan hati dan kejujuran niat.
Maka Larilah Kalian Menuju Allah.
Allah SWT berfirman:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
“Maka larilah kalian menuju Allah. Sesungguhnya aku bagi kalian adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 50)
Ayat ini adalah seruan tauhid yang sangat kuat, singkat dalam lafaz, tetapi luas dalam makna. Ia tidak hanya memerintahkan untuk datang kepada Allah, melainkan berlari—sebuah isyarat tentang urgensi, kesungguhan, dan totalitas kepasrahan.
Dalam perspektif tafsir ruhani, lari menuju Allah berarti perpindahan batin dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih lurus dan lebih bersih di hadapan-Nya.
1. Dari Kesyirikan Menuju Tauhid
Lari pertama yang harus dilakukan manusia adalah lari dari segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Syirik tidak selalu berupa menyembah berhala.
Ia bisa hadir dalam bentuk:
• Ketergantungan mutlak kepada manusia
• Mengagungkan sebab, tetapi melupakan Musabbib
• Merasa aman oleh harta, jabatan, dan relasi
Maka lari menuju Allah adalah memurnikan tauhid: menjadikan Allah satu-satunya sandaran, tujuan, dan penentu makna hidup.
2. Dari Maksiat Menuju Ketaatan
Maksiat melemahkan hati, mengeraskan nurani, dan menjauhkan rahmat.
Namun Allah tidak memerintahkan kita untuk menunggu suci terlebih dahulu.
Lari menuju Allah berarti:
• Tidak betah berlama-lama dalam dosa
• Segera kembali saat tergelincir
• Menjadikan taubat sebagai jalan pulang
Ketaatan bukan tanda kesempurnaan, melainkan bukti kesungguhan untuk berubah.
3. Dari Kelalaian Menuju Dzikir kepada Allah
Kelalaian (ghaflah) adalah penyakit ruhani yang paling halus, tetapi paling berbahaya. Seseorang bisa sibuk beribadah, namun hatinya jauh dari Allah.
Lari menuju Allah adalah berpindah:
dari hidup yang lalai menjadi hidup yang sadar, dari rutinitas kosong menjadi dzikir yang menghidupkan jiwa. Dzikir bukan sekadar bacaan, melainkan kehadiran hati bersama Allah dalam setiap keadaan.
4. Dari Melihat Diri Menuju Melihat Nikmat Allah
Salah satu hijab terbesar dalam perjalanan spiritual adalah merasa diri memiliki andil.
Ketika seseorang melihat keberhasilan sebagai hasil kecerdasannya,
ia sedang terhijab dari Allah.
Lari menuju Allah berarti:
• Dari ujub menuju syukur
• Dari merasa mampu menuju sadar bahwa semua adalah anugerah
• Dari ego menuju pengakuan akan karunia Allah
Orang yang mengenal nikmat Allah akan semakin tawadhu’, bukan semakin angkuh.
5. Dari Pintu Makhluk Menuju Pintu Allah
Banyak manusia mengetuk terlalu banyak pintu, namun lupa pintu yang tidak pernah tertutup.
Pintu makhluk terbatas: kadang terbuka, sering tertutup, dan selalu bersyarat.
Pintu Allah selalu terbuka: tanpa perantara, tanpa syarat duniawi, dan tanpa batas waktu. Lari menuju Allah adalah memindahkan ketergantungan: dari makhluk kepada Al-Khāliq, dari yang fana kepada Yang Maha Kekal.
Penutup: Lari yang Menyelamatkan
QS. Adz-Dzāriyāt ayat 50 adalah seruan penyelamatan, bukan ancaman.
Allah tidak mengatakan, “Datanglah perlahan,” tetapi, “Larilah”, karena bahaya kelalaian itu nyata.
Barang siapa berlari menuju Allah,
ia tidak sedang kehilangan apa pun,
justru sedang menemukan kembali makna hidupnya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang: berlari dari kesesatan menuju hidayah, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari ketergantungan dunia menuju rahmat-Nya yang luas.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)