TintaSiyasi.id -- Pendahuluan
Dalam Islam, kesuksesan sejati tidak diukur oleh seberapa tinggi jabatan, seberapa banyak harta atau seberapa luas pengaruh. Kesuksesan hakiki adalah ketika manusia mampu menundukkan hawa nafsunya dan berjalan istiqamah di jalan Allah.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Konsep ASKHA hadir sebagai cermin muhasabah. Ia mengajarkan bahwa setiap kelebihan yang Allah titipkan selalu disertai ujian jiwa. Dan di situlah letak medan jihad terbesar, yakni jihad melawan diri sendiri.
1. AKTIF: Ujian Kelelahan dan Istiqamah
Orang yang aktif adalah mereka yang penuh energi, cepat bergerak, dan sigap mengambil peran. Namun, semangat yang tinggi sering kali diuji oleh kelelahan. Banyak yang memulai dengan membara, tetapi berhenti di tengah jalan.
Allah Swt., berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69).
Aktif saja tidak cukup. Yang Allah nilai adalah daya tahan dan istiqamah.
Sebab amal kecil yang terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar yang terputus.
Aktiflah, tetapi kuatlah menahan lelah.
2. SPESIALIS: Ujian Keangkuhan Ilmu
Keahlian adalah amanah. Spesialisasi adalah kelebihan yang tidak dimiliki semua orang. Namun, ilmu sering menjadi pintu masuk kesombongan jika tidak dijaga dengan adab.
Imam Malik Rahimahullah berkata:
“Ilmu itu bukan banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Ketika seseorang merasa paling benar, paling ahli, dan sulit menerima nasihat, saat itulah ilmunya mulai kehilangan berkah.
Ilmu yang benar menundukkan hati, bukan meninggikannya.
Spesialis sejati adalah yang paling tawadhu’.
3. KREATIF: Ujian Kebosanan dan Konsistensi
Allah adalah Al-Khaliq, Sang Maha Kreatif. Maka jiwa kreatif adalah pantulan dari karunia-Nya.
Namun, orang kreatif sering terjebak pada kebosanan. Mudah bersemangat di awal, cepat jenuh di proses.
Allah Swt., mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11).
Perubahan besar menuntut kesabaran dalam proses yang monoton.
Ide tanpa disiplin hanya akan menjadi angan-angan.
Kreatiflah, tetapi setialah pada proses.
4. HUMANIS: Ujian Kemalasan dalam Berbuat
Orang humanis memiliki empati, kepedulian, dan kelembutan hati. Namun, niat baik tanpa aksi sering terhambat oleh rasa malas.
Rasulullah Saw., mengajarkan doa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas dan lemah.”
(HR. Muslim).
Kasih sayang yang tidak diwujudkan dalam perbuatan hanya akan menjadi wacana.
Islam bukan hanya agama rasa, tetapi agama amal nyata.
Cinta kepada manusia harus dibuktikan dengan kerja dan pengorbanan.
5. ADAPTIF: Ujian Amarah dan Pengendalian Diri
Kemampuan beradaptasi adalah kunci bertahan di zaman yang terus berubah. Namun, perubahan sering memicu emosi dan amarah.
Allah Swt., berfirman:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 134).
Menahan marah bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan ruhani.
Orang yang mampu mengendalikan emosi akan mampu mengendalikan arah hidupnya.
Adaptif sejati adalah yang tenang dalam badai.
Penutup: ASKHA sebagai Jalan Mujahadah
ASKHA mengajarkan satu hikmah agung:
Setiap potensi membutuhkan pengendalian diri.
Dan setiap kesuksesan menuntut kesabaran jiwa.
Inilah jalan para salihin, bukan jalan yang bebas ujian, tetapi jalan yang penuh kesadaran, muhasabah, dan ketundukan kepada Allah.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang:
kuat menahan lelah, rendah hati dalam ilmu,
sabar dalam proses, rajin dalam kebaikan,
dan tenang dalam menghadapi ujian.
Salam ASKHA.
Rumah Besar Kita
Untuk Anda yang Istimewa
Dr. Nasrul Syarif, M.Si