Membangun Rumah Tangga sebagai Jalan Ma‘rifat dan Peradaban
Pendahuluan: Pernikahan Bukan Sekadar Ikatan, tetapi Jalan Ruhani
TintaSiyasi.id -- Dalam pandangan Islam, pernikahan bukanlah sekadar kontrak sosial atau pelampiasan naluri biologis. Ia adalah jalan ruhani, arena pendidikan jiwa, dan pondasi peradaban umat. Dari rumah tangga yang berkah, lahir generasi yang mengenal Tuhannya, memahami amanah hidup, dan siap memikul risalah zaman.
Pernikahan adalah ibadah panjang yang tidak selesai dengan akad, tetapi justru dimulai setelah akad. Di sanalah keikhlasan diuji, ego dilebur, dan cinta dimurnikan. Maka tidak semua pernikahan menghadirkan keberkahan, kecuali yang dibangun di atas kesadaran tauhid dan dituntun oleh nilai-nilai ilahiyah.
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan hidup agar kamu memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menegaskan bahwa sakinah, mawaddah, dan rahmah bukan hasil rekayasa manusia, melainkan anugerah Allah yang hanya diberikan kepada keluarga yang berjalan di atas jalan-Nya.
1. Niat Tauhid: Awal Segala Keberkahan
Dalam perspektif tasawuf, niat adalah ruh amal. Pernikahan yang diniatkan karena Allah akan mengangkat aktivitas dunia menjadi ibadah akhirat. Makan bersama menjadi sedekah, bekerja menjadi jihad, dan mendidik anak menjadi amal jariyah.
Namun pernikahan yang dibangun atas dasar hawa nafsu, gengsi, atau ambisi duniawi akan cepat kehilangan cahaya. Ia ramai secara lahir, tetapi gersang secara batin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam kacamata ideologis Islam, niat menikah adalah niat membangun benteng umat, bukan sekadar membangun kenyamanan pribadi.
2. Takwa: Pilar Utama Keutuhan Keluarga
Takwa bukan hanya urusan sajadah dan tasbih, tetapi sikap hidup yang menuntun setiap keputusan rumah tangga. Takwa membuat suami takut berbuat zalim, istri takut berkhianat, dan orang tua takut lalai dari amanah pendidikan iman anak-anaknya.
Allah menegaskan:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Rumah tangga yang bertakwa mungkin diuji secara ekonomi, tetapi tidak akan miskin nilai. Sebab keberkahan bukan pada banyaknya harta, melainkan pada cukupnya hati.
3. Menjalankan Peran sebagai Amanah Ilahiyah
Islam tidak membangun keluarga di atas persaingan peran, tetapi sinergi amanah. Suami adalah pemimpin yang melayani, istri adalah pendamping yang menguatkan, dan anak adalah titipan yang harus diarahkan menuju Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam tasawuf, kepemimpinan rumah tangga bukan dominasi, melainkan tanggung jawab ruhani. Siapa yang paling banyak menunaikan kewajiban, dialah yang paling mulia di sisi Allah.
4. Akhlak Mulia: Jalan Sunyi Para Pencari Keberkahan
Keberkahan tidak lahir dari menangnya ego, tetapi dari kalahnya nafsu. Dalam rumah tangga, akhlak lebih penting daripada logika, dan adab lebih tinggi daripada emosi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)
Para sufi mengajarkan:
“Rumah tangga runtuh bukan karena besar masalahnya, tetapi karena kecilnya kesabaran.”
Lisan yang lembut, hati yang lapang, dan sikap saling memaafkan adalah maqam ruhani yang harus terus dilatih dalam keluarga.
5. Menghidupkan Rumah dengan Cahaya Ibadah
Rumah yang tidak dipenuhi zikir akan menjadi ruang kosong bagi kegelisahan. Sebaliknya, rumah yang hidup dengan shalat, Al-Qur’an, dan doa akan memancarkan ketenangan meski sederhana.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan.”
(HR. Muslim)
Dalam perspektif sufistik, rumah adalah zawiyah kecil, tempat jiwa-jiwa ditempa agar tetap lurus di tengah fitnah zaman.
6. Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Kedewasaan Ruhani
Keluarga yang berkah bukan keluarga tanpa konflik, tetapi keluarga yang dewasa menyikapi konflik. Sabar saat diuji dan syukur saat dilapangkan adalah tanda hidupnya iman.
Ibnu Athaillah berkata:
“Tidaklah Allah menguji hamba-Nya kecuali untuk mengangkat derajatnya atau membersihkan hatinya.”
Pasangan yang saling mengingatkan kepada Allah akan selalu menemukan makna di balik setiap peristiwa.
7. Mendidik Anak: Investasi Akhirat dan Proyek Peradaban
Anak bukan hanya pewaris nama, tetapi pewaris nilai. Keluarga yang gagal menanamkan iman sejak dini sedang menyiapkan krisis di masa depan.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Pendidikan anak bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transfer ruh keteladanan.
Penutup: Keluarga sebagai Jalan Menuju Allah
Pernikahan yang diberkahi adalah pernikahan yang menjadikan pasangan sahabat menuju surga, bukan sekadar teman menikmati dunia. Keluarga yang berkah adalah keluarga yang menjadikan Allah sebagai tujuan, Rasulullah ﷺ sebagai teladan, dan akhirat sebagai orientasi.
Di sanalah pernikahan berubah dari rutinitas menjadi ibadah, dari kebiasaan menjadi perjuangan, dan dari rumah biasa menjadi taman rahmat Ilahi.
Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita jalan ma‘rifat, ladang amal, dan benteng peradaban Islam.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)