Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kritik Rezim Berujung Teror dan Intimidasi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:29 WIB Last Updated 2026-01-17T02:29:25Z

TintaSiyasi.id -- Kritik dan Intimidasi

Beberapa konten kreator dan influencer yang kritis terhadap kebijakan rezim mengalami teror dan intimidasi. Bentuk teror yang dilakukan beragam, mulai dari ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, bom molotov, kiriman bangkai ayam, hingga intimidasi yang menyasar keluarga korban.

Kabar terbaru datang dari konten kreator Sherly Annavita yang mengalami teror yang bukan hanya mengancam dirinya, tetapi juga keluarganya. Pasalnya, dari tiga lembar pesan teror yang diterimanya terdapat identitas kartu tanda penduduk milik adiknya. Bukan hanya itu, Sherly Annavita menuturkan mobil miliknya juga dipilox berwarna merah bergambar muka dengan mulut dicoret serta rumahnya dilempari sekantong telur busuk.

Hal tersebut disampaikan Sherly Annavita dalam program Rosi di Kompas TV, Kamis malam (8/1/2026). “Mobil sudah dipilox, ya, kurang lebih gambar muka yang mulutnya dicoret. Itu senada dengan isi pesan yang ada di salah satu gulungan kertas, yang kurang lebih nadanya adalah jangan mengambil opportunity atau mengambil kesempatan di tengah bencana dan untuk diam,” ucap Sherly.

Rezim Anti-Kritik Buah Sistem Demokrasi Otoriter
Teror dan intimidasi terhadap aktivis dan influencer termasuk kekerasan negara untuk membungkam suara rakyat. Teror dilakukan untuk menciptakan rasa takut rakyat terhadap rezim yang berkuasa. Bisa dikatakan rezim yang berkuasa saat ini adalah rezim anti-kritik. Hal ini terlihat dari cara penguasa merespons aspirasi dan kritik yang disampaikan oleh masyarakat.

Masyarakat mengkritik kebijakan pemerintah yang dipandang menyengsarakan rakyat dengan harapan kritik mereka didengar dan penguasa melakukan perubahan. Namun, apa yang terjadi? Setiap kali rakyat menyampaikan aspirasi dan kritik melalui aksi, penguasa justru menurunkan tentara dan polisi untuk menghadapi rakyat yang melakukan aksi menuntut perubahan. Begitu juga ketika menyampaikan kritik melalui media sosial, penguasa dan para buzzer-nya melakukan teror dan intimidasi terhadap aktivis-aktivis yang kritis.
Realitas rezim anti-kritik menjadi bukti bahwa sistem yang berjalan adalah demokrasi otoriter. Jargon kebebasan berpendapat tidak berlaku ketika rakyat menyampaikan pendapat yang berisi kritik terhadap penguasa. Mereka langsung dibungkam dengan ancaman dan intimidasi.
Penguasa dalam Islam

Penguasa dalam Islam adalah junnah (pelindung) rakyat. Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Muttafaqun ‘Alayh, dll.)

Sebagian ulama menjelaskan makna al-imâm dalam hadis ini, yakni setiap orang yang mengurusi urusan manusia (كلّ قائم بأمور الناس).

Adapun sifat junnah dalam hadis ini memiliki makna sebagai pelindung dari kezaliman dan penangkal dari keburukan. Dengan demikian, tugas penguasa terhadap rakyatnya adalah mengayomi serta mengurusi atas dasar Islam, bukan melakukan teror dan memberikan ancaman kepada rakyat. Dari sini akan tercipta suasana saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan antara penguasa dan rakyat. Rakyat akan melakukan fungsi muhasabah lil hukam, yakni kontrol, kritik, dan nasihat kepada penguasa ketika melihat adanya penyimpangan dalam menjalankan tugasnya. Penguasa pun dengan senang hati menerima kritik dan nasihat dari rakyat.

Hal ini dapat dilihat dari kisah para khalifah, seperti kisah Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang tidak malu mengakui kebenaran yang disampaikan seorang perempuan dalam hal mahar dan bersegera mengubah kebijakannya karena berdasarkan nas Al-Qur’an. Begitu pula kisah Khalifah Ali yang menerima kritik dari seseorang tentang cara memimpin yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Khalifah Ali tidak marah, tetapi justru merespons kritik tersebut dengan dialog terbuka.
Demikianlah, kepemimpinan dalam Islam tidak hanya berbicara tentang kekuatan atau kontrol, tetapi juga tentang mendengarkan suara rakyat dan menerima kritik sebagai bagian dari proses perbaikan. Penguasa di dalam Islam menjadi manusia yang siap belajar dan memperbaiki diri demi kebaikan Islam dan umat. Ini adalah gambaran yang sangat penting bagi para penguasa masa kini tentang pentingnya keterbukaan terhadap kritik dari rakyat. 
Wallahu a‘lam bish-shawab.


Oleh: Delviana
Pengurus Majelis Taklim

Opini

×
Berita Terbaru Update